
Mobil yang di tumpangi Arsa langsung oleng dan lepas kendali. Diiringi teriakan Talita, Lamborghini Arsa ditabrak langsung secara brutal di pinggir jalan yang di lewatinya. Secara otomatis, airbag di dalam mobil itu semua langsung aktif. Tapi, yang menyedihkan Lamborghini itu benar-benar ringsek.
"Brengsek!" Arsa menggelengkan kepalanya, berjuang melawan rasa pusing akibat benturan keras dari tabrakan itu. Kemudian, dengan cepat iya menatap Talita yang berada di sampingnya. Karena sisi yang ditabrak truk tadi adalah tempat di mana Talita berada. Gadis itu tampak pingsan dengan sedikit darah mengalir di dahinya.
"Talita...Talita!" Arsa memanggilnya beberapa kali, pada saat yang sama, Arsa berusaha untuk mencari ponselnya menghubungi nomor darurat untuk meminta bantuan.
Saat itu juga, Arsa melihat dengan jelas, kalau truk yang sudah mundur sejauh beberapa meter tersebut, terlihat melaju dengan cepat menuju ke Lamborghini milik nya lagi. Dan kemungkinan besar, pengemudi truk tersebut sengaja ingin menabrak Arsa. Lampu truk yang sangat menyilaukan itu membuatnya hampir tidak bisa membuka mata dan melihat dengan sempurna.
"Sialan! Kejadian ini benar-benar disengaja!" Arsa yang awalnya mengira kalau kecelakaan itu hanya kecelakaan. Akhirnya iya menyadari kalau hal ini sama sekali bukan kecelakaan lalu lintas! Truk besar itu sengaja menabrak mobil yang di tumpangi untuk mengehabisi nyawanya.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan? Aku harus menghindarinya!" kata Arsa. Iya tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakannya. Ia pun dengan cepat mencoba menyalakan Lamborghininya untuk menghindari tabrakan yang mungkin akan menimpa mereka lagi. Jika dia membiarkan truk ini menabrak mereka satu atau dua kali lagi, tidak peduli seberapa hebat hidupnya, sudah di pastikan kalau kemungkinan mati akan lebih besar.
Arsa berusaha keras menyalakan mesin mobil, tapi ternyata mesin mobil itu tidak bisa menyala sama sekali.
"Ayolah, cepat menyala!" Arsa mencoba terus menyalakan mesin sementara mulutnya mengucapkan dengan kata-kata yang terdengar khawatir.
Saat truk semakin dekat, Arsa masih tidak bisa menyalakan mobilnya.
"Bruaak" Tabrakan terjadi lagi. Tapi, Arsa terkejut saat mengetahui kalau sebuah mobil menabrak Lamborghini-nya dari belakang. Dia melihat melalui kaca spion dan itu adalah kendaraan off-road berwarna putih.
__ADS_1
"Ini mobil Hudoyo." Arsa langsung mengenali mobil off-road putih ini hanya dalam sekilas saja. Mobil Itu adalah mobil sang pengawal, Hudoyo. Suara ban berdecit keras bergesekan dengan tanah. Kendaraan off-road berwarna putih itu melaju dengan kecepatan penuh dan langsung mendorong mobil Arsa ke depan hingga mobil Arsa kini telah berpindah tempat.
Hanya berjarak beberapa meter dari Lamborghininya, truk besar itu sangat cepat melaju dan berusaha untuk menabrak ke dua mobil di depannya lagi.
"Braak." Ada suara keras terdengar dengan jelas. Tapi, truk besar itu tidak menabrak Lamborghini milik Arsa, melainkan menabrak kendaraan off-road berwarna putih milik Hudoyo. Karena tadi mobil itu telah mendorong mobil Arsa hingga bergeser beberapa meter. Dan sudah pasti, karena alasan itu, mobil itu menjadi sasaran truk besar tadi. Meskipun kendaraan off-road putih itu besar, tapi iya masih kalah besar dan kekuatan jika di bandingkan dengan truk jumbo tadi. Mobil itu tergelincir hingga akhirnya terbalik. Sesaat kemudian, mobil itu mulai mengeluarkan asap.
"Hudoyo." Arsa menoleh dan melihat ke belakang sambil berteriak, sementara di dalam matanya ada kilatan rasa khawatir. Dia tahu, kalau tabrakan ini seharusnya di tujukan kepada dirinya. Tapi, Hudoyo malah menderita dan harus mengalami hal naas karena kecelakaan itu demi melindunginya. Dan sekarang, mobil Hudoyo itu benar-benar Rusak parah, yang lebih mengerikan lagi, mobil itu mulai berasap. Arsa tidak tahu apakah orang yang ada di dalam mobil Hudoyo itu masih hidup atau sudah mati.
Saat itu pula, truk besar itu mulai berjalan mundur lagi, tampaknya masih bersiap-siap untuk menabrak mobil Arsa. Tujuannya sangat jelas kalau yang di incarnya adalah lamborghini yang saat ini di naiki Arsa.
__ADS_1
Arsa memandang Talita yang ada di kursi penumpang di sampingnya. Dia masih tidak sadarkan diri karena benturan dampak dari kecelakaan itu. Arsa pun berfikir kalau iya harus keluar dan menarik Talita keluar dari mobil. Jika mereka di tabrak lagi, maka yang ada mereka berdua akan mati bersama. Sebuah kecelakaan besar yang tak akan bisa di hindari lagi. Arsa sudah mencoba beberapa kali, tapi usahanya benar-benar tidak membuahkan hasil. Pintu mobil itu macet dan tidak dapat dibuka sama sekali.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkan Talita mati hanya karena kesalahanku." Arsa berkata dengan suara serak menahan amarah dan rasa khawatir. Tapi, iya terus berusaha membuka pintu mobilnya agar bisa terbuka dan menyelamatkan diri serta gadis di sampignnya. Pada saat keadaan sudah sangat genting, dia mendengar suara keras dari belakang.