
"Wasis Adiguna? Mungkin dia, tapi belum tentu juga." Arsa bergumam pada dirinya sendiri. Orang pertama yang dia curigai tentu saja adalah Wasis. Tapi Arsa memikirkan semuanya dengan hati-hati. Dia juga punya musuh baru akhir-akhir ini, seperti Andika. Yang sejak awal sudah ingin menyingkirkan dirinya. Dan juga seseorang yang baru saja di tolak oleh Talita. Yang dia lakukan di kampus hari ini, kemungkinan membuat lelaki bernama Dimas itu kesal. Arsa pun jadi tidak yakin siapa dalang di balik kejadian ini.
Saat ini juga, terdengar suara Ambulans yang datang. Dan setelah pertolongan pertama yang di berikan secara langsung di tempat kejadian, Talita membuka matanya.
"Talita." Melihat gadis di depannya terbangun, Arsa benar-benar merasa sangat lega.
"Arsa, apa yang terjadi? " Talita yang berbaring di atas tandu tampak bingung. Dia terlihat sangat linglung saat itu. Membuat Arsa menatapnya dengan pandangan menyedihkan.
"Baru saja terjadi kecelakaan mobil yang kita tumpangi. Untungnya, lukamu tidak terlalu serius. Tapi kamu mengalami trauma dan harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." kata Arsa sambil tersenyum pada Talita. Arsa tidak mau memberitahu Talita tentang rencana pembunuhan yang baru saja terjadi itu, agar tidak membuat gadis itu takut. Arsa juga tidak ingin Talita terlalu mengkhawatirkannya.
Setelah itu, dia mengantar Talita masuk ke dalam ambulans. Karena Arsa harus menangani masalah ini, dia tidak ikut masuk ke dalam ambulans yang akan membawa Taoita ke rumah sakit, tapi dia berjanji dan meyakinkan Talita untuk menyusul ke rumah sakit nanti setelah menyelesaikan masalah ini.
Sedangkan luka yang diderita Arsa hanya luka ringan. Seperti memar di siku dan lutut. Sehingga hanya mendapat pertolongan pertama. Dia sudah sering mengalami cedera ringan seperti ini sejak masih kecil, jadi semua di rasanya tidak penting dan tidak perlu pergi ke rumah sakit untuk perawatan.
__ADS_1
Begitu ambulans pergi, dua mobil polisi tiba. Polisi-polisi itu turun dan melihat ke arah mobil Lamborghini milik Arsa. Beberapa pria berseragam polisi berlari untuk menyelidiki tempat kejadian. Dan seorang lelaki serta seorang wanita berseragam berjalan tepat di depan Arsa. Mereka melihat melalui beberapa sudut pandang mengapa hal itu bisa terjadi. Polisi wanita itu terlihat sangat muda dan terlihat cukup tinggi.
"Maaf, siapa pemilik mobil itu dan apa yang terjadi?” tanya polisi wanita tersebut.
"Aku Arsa Kenandra, pimpinan Kendi Grub cabang Kota Surabaya. Tadi, kami berdua ada di dalam mobil itu. Temanku dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut karena dia terluka agak parah." Arsa memperkenalkan diri. Ketika keduanya mendengar kalau Arsa adalah pimpinan Kendi Grub, mereka terkejut. Setelah itu, sikap keduanya terlihat menjadi sangat baik. Siapa yang tidak mau mencari perhatian. Sedangkan di depannya adalah pimpinan Kendi Grub, sebuah perusahaan besar. Setelah itu, Arsa memberitahu mereka apa yang baru saja terjadi dan juga menegaskan kalau supir truk itu ingin membunuhnya, terlihat dari caranya saat sedang mengemudi.
"Tampaknya ini adalah pembunuhan yang di rencanakan." Kata polisi wanita itu sambil mengarahkan mata ke arah Arsa.
"Kalau begitu, Tuan Kenandra, apakah Anda punya masalah dengan supir truk ini?” tanya polisi wanita itu.
"Aku tidak kenal dia sama sekali, jadi dia pasti di suruh oleh seseorang. Dan siapa yang menyuruhnya, aku harap Anda akan memeriksanya lebih lanjut." Kata Arsa.
"Tuan Kenandra, jangan khawatir. Ini adalah tanggung jawab kami. Dan kami pasti akan memeriksanya lebih lanjut." Kata polisi wanita dan pria berseragam yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, polwan itu memerintahkan kepada beberapa anggota polisi agar sopir truk di introgasi itu dimasukkan ke dalam mobil polisi. Arsa pun mengikuti mobil tersebut dan pergi ke kantor polisi untuk membuat catatan. Sedangkan untuk penyelidikan dan interogasi, dia menyerahkannya pada pihak yang berwajib. Arsa masih berharap polisi bisa membuat sopir truk itu buka mulut untuk mencari tahu siapa dalang di balik peristiwa kecelakaan terencana ini.
Tidak peduli siapa yang ada di belakang kejadian yang baru saja menimpanya, kejahatan pembunuhan yang disengaja itu sudah cukup untuk membuatnya kehilangan dahaga.
Setelah keluar dari kantor polisi, Arsa memanggil taksi dan pergi ke rumah sakit bersama Hudoyo untuk mengunjungi Talita. Setibanya di rumah sakit, para perawat segera mengurus beberapa luka di tubuh Arsa. Setelah Lukanya telah dirawat, Arsa pun ingin segera pergi, karena ingin segera menemukan siapa dalang dari pembunuhan ini. Tentunya setelah memastikan Talita baik-baik saja.
Setelah keluar dari rumah sakit, Hudoyo menemani Arsa.
"Hudoyo, terima kasih banyak untuk hari ini. Kalau bukan karena kamu, aku mungkin sudah menemui ajalku beberapa jam yang lalu." kata Arsa dengan serius. Meskipun Hudoyo biasanya bersikap acuh tak acuh, Arsa bisa melihat dengan jelas kalau dia benar-benar bisa diandalkan pada saat yang mengkhawatirkan, dan keadaan yanb paling genting. Seperti kejadian hari ini, Hudoyo menggunakan mobilnya untuk mencegah Lamborghini Arsa ditabrak lagi. Bahkan, mobil milik Hudoyo menghalangi truk besar itu menabrak mobil Arsa. Dia mempertaruhkan nyawanya, tapi masih bisa melindungi dirinya sendiri. Karena hal Ini, pengorbanan Hudoyo sangat menyentuh dan menggerakkan hati Arsa.
"Tuan Muda, saya diinstruksikan untuk melindungi Anda. Inilah yang harus saya lakukan. Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya." kata Hudoyo dengan tenang.
"Bagaimana kalau aku mengajak kamu untuk minum? Sebagai tanda terima kasihku. Bagaimana menurutmu? " Arsa tersenyum. Dia tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada Hudoyo yang sudah mengorbankan nyawa untuknya itu.
__ADS_1