
"Kalau kamu mau berlutut, memohon ampun, dan tinggalkan Rita, maka aku bisa memaafkanmu." kata Andika dengan bangga.
"Kalau begitu, izinkan aku memberitahumu juga. Jika kamu mau berlutut dan memohon belas kasihan sekarang, aku masih bisa memaafkanmu. Kalau tidak, aku bisa menghancurkanmu hanya dengan kata-kata." kata Arsa balik mencibir. Begitu Arsa menyelesaikan kata-katanya, Andika dan teman-temannya langsung tertawa.
"Haloo... Apa kamu tidak tahu siapa dia? Siapa kamu yang bisa mengusir Andika? Apa kamu sedang bercanda? Apakah kamu tidak tahu kalau pemilik Starlight Hotel adalah paman Andika?" kata seorang teman Andika.
"Anak ini sangat lucu. Dia yang menyelinap masuk dengan begitu berani. Tapi tidak ada rasa takut sama sekali." Kata Andika dengan sangarnya. Senyum di wajahnya tiba-tiba berhenti. Suasana hatinya berubah begitu saja, dan dia berkata dengan dingin.
"Kamu sadar nggak, kemarin kamu mengandalkan Rita untuk melindungi dirimu? Sekarang Rita tidak ada di sisimu, kamu masih berani bersikap begitu sombong. Aku tidak akan membiarkanmu selamat hari ini. Aku pastikan kamu akan pulang merangkak malam ini." kata Andika.
"Kalian, Pergilah dan panggil satpam! " kata Andika melambaikan tangannya dengan angkuh kepada pengawalnya.
"Bagus Andika." Setelah beberapa saat, teman Andika berkata lalu menuruti perintahnya dan hendak memanggil satpam.
"Apa yang kamu lakukan? " Tiba-tiba, suara dingin terdengar dari belakang mereka semua. Setelah Andika menoleh, dan melihat Danag, pemilik starlight Hotel.
"Om Danang, om datang di waktu yang tepat! Aku menemukan seorang anak yang menyelinap masuk ke ruang konferensi. Aku baru saja akan memanggil satpam untuk mengusirnya." kata Andika sambil menunjuk Arsa dengan tersenyum. Danang melihat ke arah jari yang ditunjuk oleh keponakannya itu. Saat iya melihat Arsa, ia langsung kaget.
__ADS_1
'Sialan, bukankah ini pimpinan Kendi Grup yang baru? Bukankah ini cucu dari Tuan Andi Sudiryo? " gumam Danang dalam hati. Kaget dengan kelakuan Andika, wajah Danang langsung pucat pasi.
Saat itu, Arsa mengadakan sebuah pesta kecil di guardian Hotel untuk menghibur para mitra kendi Grup. Saat itu, Danang juga memberikan penghormatan khusus kepada Arsa. Dia bahkan memberi Arsa kartu keanggotaan berlian dari Starlight Hotel untuk menghormati kehadirannya yang luar biasa. Tentu saja, Danang tahu siapa Arsa itu.
"Tuan Arsa." Danang yang ketakutan dengan cepat menghampiri Arsa dan dengan membungkuk iya memberi hormat kepada Arsa.
"Ini hanya salah paham. Maafkan kelakuan keponakan saya yang tidak sopan." Kata Danang. Andika bersama teman- temannya yang lain melihat kejadian itu langsung tercengang. Mau tidak mau mereka bertanya-tanya bagaimana Danang bisa memperlakukan Arsa dengan sangat hormat.
"Om Danang, apa yang om lakukan? Pria ini hanyalah anak yang miskin!" Andika tidak bisa menahan diri untuk berteriak. Dia sangat terkejut dengan sikap hormat Dannag terhadap Arsa.
"Diam!" Danang berbalik dan menatap tajam ke arah Andika. Ekspresinya sangat menakutkan seolah-olah dia akan menerkam keponakannya.
Sedangkan Andika langsung memucat karena ketakutan. Dia belum pernah melihat pamannya menunjukkan ekspresi yang begitu galak seperti itu. Begitu pula dengan teman-teman Andika yang lainnya yang berdiri di sekitar Andika. Mereka sama sekali tidak berani berbicara.
"Tuan Danang, Andika adalah keponakan Anda ya? Dia baru saja mengusir saya." Arsa menyeringai pada Danang. Danang pun menyeka keringat dingin dari dahinya.
"Tuan Arsa, anak ini sangat sombong dan Arogan. Apa yang ingin Anda lakukan dengan anak ini?" tanya Danang.
__ADS_1
"Aku ngga peduli." kata Arsa enteng.
"Apa kamu mengerti maksudku? " kata Arsa lagi.
"Iya tuan, saya mengerti." Danang mengangguk dengan cepat. Iya segera menoleh ke arah Andika dan teman-temannya.
"Kalian... Benar-benar telah membuat onar. Segera tinggalkan tempat ini." teriak Danang dengan nada dingin.
"Pergi? Om, seharusnya dia yang keluar dari sini." kata Andika dengan marah. Iya menggertakkan gigi-giginya. Tak tahu kenapa pamannya malah menyuruh dirinya pergi dari sana.
'Plaaak' setelah mendengar perlawanan dari Andika, Danang pin menampar wajah keponakannya.
"Aku sudah bilang kepadamu untuk segera keluar dari sini, apa kamu budeg? Kalau kamu tidak keluar dengan sukarela, maka aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu." kata Danang dengan ekspresi dingin. Andika yang ketakutan hanya bisa menundukkan wajahnya. Wajahnya memucat karena malu. Dia tahu kalau dirinya saat ini sedang menjadi pusat perhatian banyak orang seperti sebuah penghinaan. Meskipun dia merasa dihinakan, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pamannya sudah menampar dan juga memarahinya. Bahkan pamannya juga tidak segan-segan memanggil satpam untuk mengusir dirinya.
"Aku... Aku akan pergi." Dengan tergagap, Andika berkata sambil mengangguk. Sedangkan Qrsa memandang Andika dan berkata sambil tersenyum.
"Aku baru saja mengatakan kepadamu, tapi kamu tidak mendengarkan. Selama aku memerintahkan sepatah kata pun menyuruhmu untuk keluar, nama sekarang kamu harus keluar, apa kamu sudah percaya ? " kata Arsa dengan santai.
__ADS_1
"Kamu... Bajingan!" Dipicu oleh kata-katanya yang memprovokasi, Andika menggertakkan giginya dengan marah. Apalagi saat melihat senyum di wajah Arsa, dia sangat kesal dan ingin memukuli wajah itu tanpa henti. Dia benar-benar ingin mencaci maki dan membentak Arsa lagi, tapi melihat pamannya yang menatap dirinya, iya mengurungkan niatnha itu.
"Cepat! " desak Danang dengan dingin. Mata Dannag seperti seorang pembunuh. Andika hanya bisa menelan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya sendiri.