
"Jika kamu bertarung sendirian, kamu setidaknya harus sekuat Tiger sebelum kamu naik ke pertarungan yang sebenarnya. Kita harus berlatih lebih keras lagi untuk bisa menyeimbangankan kekuatan dengan kekuatan lawan. Aku rasa, dia bukan orang yang lemah. Selain memiliki kemanpuab bela diri yang baik, iya memiliki karakter yang bagus. Pengetahuannya mungkin juga seimbang" katanya. Jawaban Hudoyo bisa di mengerti oleh Arsa. Arsa harus berusaha sekuat yang iya mampu untuk melawan kekejian orang-orang yang tidak berhati. Sekalipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
"Atau mungkin dia lebih kuat." kata Hudoyo. Kemudian, Hudoyo menambahkan, "Namun, sebagai Akmilswa yang melatih pasukan khusus, selain melatih para peserta pelatihannya hingga ratusan senjata yang digunakan, peserta juga di latih di laut, darat dan udara, mereka juga membiarkan anak didiknya menguasai berbagai medan pertempuran. Seperti terjun payung, peledakan, menyelam, memanjat, bermain ski, mengemudikan perahu, pertempuran jarak dekat, pelacakan, identifikasi peta dan keterampilan lainnya seperti pengintaian, penangkapan, interogasi dan cara lain untuk memperoleh informasi intelijen dan sebagainya. Ini adalah keterampilan yang tidak bisa diabaikan begitu saja." kata Hudoyo menjelaskan. Arsa mengangguk setuju.
"Ya, dia adalah tipe seseorang yang memiliki talenta yang tidak hanya tahu cara bertarung." jawab Arsa.
"Arsa, proyek renovasi desa di tengah kota di Kota Malang ini jelas merupakan proyek yang menguntungkan. Fahrudin mengatakan tidak mungkin rumahnya tidak dirobohkan, karena kalau tidak di robohkan, tentu saja 1 rumah milik Rudin itu akan menghambat proyek ini. Kalau Ingin mempertahankan rumahnya, saya khawatir pasti cukup sulit." Hudoyo khawatir.
"Ya. Memang sulit, tapi itulah satu-satunya cara untuk mencapai apa yang kita inginkan, jadi kami harus tetap mencobanya. Selain itu, aku punya ide bagus dalam pikiranku." kata Arsa.
"Oh ? Apakah kamu akan mencari General Manager Kenandra Group atau Ketuanya? Hudoyo bertanya. Tidak mengherankan jika Arsa mempunyai ide ini, karena, bagaimanapun juga, proyek ini sedang dikembangkan oleh Kenandra Group. General Manager yang mereka bicarakan adalah paman kedua Arsa, dan mantan pimpinan Kenandra Group adalah kakek Arsa Kenandra. Arsa menggelengkan kepalanya
"Tentu saja tidak. Pertama-tama, aku tidak akan pernah bisa meminta bantuan mereka. Kedua, proyek ini akan menghasilkan banyak uang bagi mereka, bahkan jika aku mendatangi mereka, mereka tidak akan pernah menyerah. Aku yakin mereka tidak akan pernah mendengarkan apa yang aku katakan." kata Arsa.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" Hudoyo penasaran. Arsa tersenyum.
"Kamj akan segera tahu nanti."
"Oh! " Hudoyo pun mengangguk mengerti. meskipun iya ingin sekali tahu apa rencana Arsa.
Di dalam mobil, Arsa memanggil Fendi dan memerintahkannya untuk melakukan sesuatu. Setelah itu, Arsa langsung meluncur menuju rumah kakeknya.
Besok akan menjadi hari pesta ulang tahun kakeknya yang ke 80, tapi ada makan malam keluarga untuk hari ini. Setelah Arsa memarkir mobilnya, dia pergi ke sebuah rumah.
Begitu dia sampai di depan pintu, dia bertemu dengan dua penjaga keamanan di rumah tersebut. Terlihat keduanya sedang mendorong-dorong seorang petani yang berpakaian lusuh untuk menjauh. Saat Arsa mendekati mereka, petani tersebut sudah terdorong dan tersungkur ke tanah.
__ADS_1
"Berhenti ! Apa yang kamu lakukan? " Arsa membuka mulutnya dan memarahi kedua penjaga keamanan itu. Setelah itu, dia membantu petani itu berdiri.
"Wah, siapa kamu? Jangan campur tangan dengan urusan orang lain di sini! " Penjaga keamanan memandang Arsa dengan nada mencemooh.
"Nama saya Arsa Kenandra." jawab Arsa.
" Arsa Kenandra? " Para penjaga membeku. Mereka tahu bahwa dia adalah cucu tuan Aji Kenandra, namun bertahun-tahun yang lalu, ayah Arsa memutuskan hubungan dengan keluarga Kenandra.
"Kamu tidak diakui di sini, tapi kamu berani menunjukkan tampangmu di sini hari ini? " Satpam jangkung itu mencibir. Setelah Arsa mendengar perkataan penjaga itu, matanya tiba-tiba menyipit. Bahkan penjaga pintu dan penjaga keamanan berani menertawakannya? Arsa menampar wajah penjaga keamanan yang tinggi itu.
"Aku adalah anggota keluarga yang tidak di akui, dan aku bukan seseorang yang bisa ditertawakan oleh penjaga keamanan rendahan sepertimh. Apakah kamu mengerti!? Apa masalahnya kalau aku ada di sini?" Arsa menatap padanya setajam nada yang dia gunakan.
"Saya... Saya..." Kedua penjaga itu ketakutan dengan sikap tegas Arsa.
"Minta maaf padaku sekarang! " Mata Arsa sedikit menyipit, dan dia tampak seperti predator yang hendak memangsa mangsanya.
"Hei, ada apa ini?" Terdengar suara dari belakang. Arsa berbalik dan melihat Rey. Laki-laki yang berstatus sebagai sepupunya itu. Dialah yang datang ke Kota Surabaya kemarin untuk memberi tahu Arsa. Rey Kenandra berjalan bersama dua pemuda lainnya. Arsa mengenali dua pemuda di sebelah Rey, yang keduanya memakai sebuah pakaian dari desainer terkemuka kota Malang. Mereka adalah Tuan Muda Kenan dan Rifki Kenandra dari keluarga Kenandra. Keduanya juga merupakan sepupu Arsa.
"Arsa, kamu satu-satunya orang yang ada di sini, tapi kamu menindas penjaga keamanan? Apakah salah jika dia mengatakan bahwa kamu memang di campakkan? Lihat apa yang kamu kenakan sedangkan cuaca sedingin ini. Kalau orang melihat atau mendengarmu ada di sini, kami sebagai keluarga Kenandra pasti kehilangan muka!" ejek Rey. Di sebelahnya Rey, dua sepupu lainnya juga menutup mulut mereka dan tertawa.
"Beraninya kalian berdua, menertawakanku? " Arsa menatap kosong pada kedua pemuda itu.
"Apa yang di katakan Rey Itu benar!" Rifki juga mencibir.
"Arsa, kamu terlalu tinggi memikirkan dirimu sendiri. Kamu sudah lama diusir dari keluarga Kenandra, dan kamu bahkan tidak berguna bagi keluarga kami. Dan kamu berani bercanda dengan kami? Apakah kamu pikir kamu berhak untuk menertawakan pada juga?" Kenan mencemooh.
__ADS_1
Rey melanjutkan sambil tertawa. "Arsa, kemarin kamu berani sekali ke aku. Aku tidak menyangka kamu punya nyali untuk datang ke sini. Kalau begitu, kamu pasti datang demi mendapatkan sebuah keuntungan? "
"Ayo, masuk, jangan buang energimu untuk pria tak berguna ini." setelah itu, Rey berbalik dan melambaikan tangannya .
Rey lalu masuk ke dalam rumah bersama para pemuda itu. Arsa menatap punggung mereka dan memberi mereka senyuman dingin. Kemudian, Arsa menoleh ke arah petani itu.
"Pak, sedang apa bapak ada di sini? " tanyanya.
" Siapa kamu? Apakah kamu anggota keluarga Kenandra? " Petani tua itu memandang Arsa di depannya.
"Ya. Kenapa kamu datang ke sini? " tanya Arsa.
"Aku punya rahasia besar untuk diceritakan, dan karena kamu dari keluarga Kenandra, aku akan mengungkapkannya kepadamu." Kata lelaki tua itu.
"Oh ? Rahasia besar apa itu? " tanya Arsa.
"Saya memerlukan lima juta rupiah sebelum saya mengungkapkannya kepada Anda. Saya berjanji bahwa rahasia yang akan saya sampaikan benar-benar layak untuk dibayar." Orang tua itu membujuk.
"Yah, kalau kamu bilang harganya lima juta rupiah, maka aku akan mengambilkannya untukmu." kata Arsa. Petani tua itu melihat sekeliling dan menarik Arsa ke sudut di sebelahnya dan berbisik, "Anak muda, saya menemukan tambang emas di bawah Gunung Bungkus!"
"Tambang emas?" Arsa terkejut.
"Ya, percayalah, batu ini saya dapatkan saat saya menggali gunung bungkus." Dia kemudian mengeluarkan sebuah batu dari sakunya, dan ada beberapa partikel emas tersembunyi di dalamnya.
"Hudoyo, kemarilah dan lihat ini! " Arsa menyerahkan batu itu kepada Hudoyo.
__ADS_1
Setelah Hudoyo mengambil batu itu dan memeriksanya, dia berkata, "Arsa, partikel emas di batu ini benar-benar emas yang murni dan tersembunyi
"Oh iya, di bawah Gunung Bungkus ada tambang emasnya? " tanya Arsa Kenandra.