Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Selangkah dalam Misi


__ADS_3

"Hudoyo, sebagai petugas kebersihan, aku kebetulan punya kesempatan untuk masuk ke semua ruangan dan membersihkan. Ini adalah kesempatan bagus untuk mengumpulkan bukti. Dan jika kamu bekerja sebagai satpam, kamu tetap bisa melakukan pengawasan. Singkatnya, kita berada di dua departemen. Kita bisa mulai dari dua arah. Dalam rencanaku ini, hanya ada kelebihan dan tidak ada kekurangan." Arsa Kenandra tersenyum dan berkata.


"Baiklah, lalu. Aku akan mendengarkanmu Arsa dan kamu bisa mengaturnya." Hudoyo mengangguk dan berpikir kalau Arsa Kenandra ada benarnya.


Kemudian, Arsa Kenandra langsung masuk ke perusahaan, dan setelah memberitahukan tujuannya di depan pintu gerbang, dia dibawa ke departemen personalia di lantai atas untuk melamar pekerjaan itu.


Arsa Kenandra dan Hudoyo adalah satu-satunya pelamar untuk pekerjaan tingkat rendah. Oleh karena itu, tidak ada persyaratan menonjol dari segi kualifikasi pribadi dan kualifikasi akademik, dan proses wawancara juga berjalan sangat lancar.


Di ruang wawancara,


"Berapa gaji saya untuk pekerjaan ini? " Arsa Kenandra bertanya.


"Gajinya 2.500.000 Rupiah, belum termasuk uang makan dan akomodasi. Dan masa trainingnya satu bulan." pihak HRD yang bertugas melakukan wawancara menjawab dengan santai.


"2.500.000 Rupiah? Mengapa begitu rendah?"Arsa Kenandra memulai. Sejauh yang diketahui Arsa Kenandra, gaji petugas kebersihan di kantor pusat adalah 3.500.000 Rupiah, yang juga dibayarkan oleh Arsa Kenandra cabang Kota Surabaya.


"Saya dengar gaji petugas kebersihan di Kendi adalah 3.500.000 Rupiah. Mengapa Anda menyebutkan 2.500.000 Rupiah saja?" Arsa Kenandra tidak dapat menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan pada HRD. Meski Arsa Kenandra menyamar, Arsa Kenandra tidak peduli berapa gajinya. Selisih satu juta Rupiah tidak penting bagi Arsa Kenandra. Namun, hal ini sangat berarti bagi orang-orang yang benar-benar melakukan pekerjaan tersebut di kehidupan nyata.


"Mas, kalau anda tidak tertarik dan dirasa terlalu rendah, tidak usah di terima. Masih banyak yang lebih membutuhkan pekerjaan ini. Oke?" kata HRD tak sabar.

__ADS_1


"Tidak, aku akan menerimanya. Aku akan mengambil posisi ini," kata Arsa Kenandra cepat. Jika Arsa Kenandra tidak menerima tawaran mereka, dia tidak akan bisa melakukan penyamaran. Ini adalah satu-satunya cara dia untuk bisa masuk dan mengumpulkan bukti yang cukup.


"Jika kamu ingin menerimanya, hentikan omong kosong itu dan datanglah ke perusahaan pada jam delapan besok pagi! Sekarang Kembalilah dulu," HRD melambai tangan kepada Arsa Kenandra.


Setelah keluar dari gerbang perusahaan.


"Arsa, kamu adalah Tuan Muda dari seluruh Perusahaan Kendi. Kamu adalah cucu Andi Sudiryo, tetapi sekarang Anda telah bekerja sebagai Cleaning servis di anak perusahaan cabang. Kalau ada salah satu saja orang yang di perusahaan itu kenal Penyamaranmu dan siapa kamu, saya tidak tahu apa yang akan mereka pikirkan." Hudoyo berkata sambil tersenyum.


"Mereka tidak akan tahu. Setidaknya sampai aku mengumpulkan cukup bukti." Arsa Kenandra dengan rendah hati tersenyum dan berkata,


Keesokan harinya.


Di kantor departemen kebersihan, Arsa Kenandra berdiri di dalam ruangan, menunggu seseorang yang akan mengatur tugasnya. Namun, di saat yang bersamaan, tiba-tiba, seorang gadis muda masuk. Gadis itu mungkin terlihat berusia kurang dari dua puluh tahun, mengenakan pakaian yanv biasa, tetapi wajahnya anggun dan bermartabat.


"Maaf, mas, apakah mas juga seorang pegawai di Departemen Kebersihan Gadis itu bertanya dengan nada ramah tamah.


"Benar, saya baru di sini. Saya datang hari ini untuk bekerja. Dan ini adalah hari pertama saya bekerja." Arsa Kenandra menjawab.


"Benarkah? Ini juga hari pertamaku bekerja! " Gadis itu tersenyum polos dan berjalan cepat ke arah Arsa Kenandra.

__ADS_1


"Nama aku Desita Mayasari, jadi kita akan menjadi rekan kerja. Mari kita saling menjaga agar kita dapat menyelesaikan tugas kita tepat waktu. "Gadis itu berkata sambil tersenyum.


"Nama saya Arsa Kenandra." Arsa Kenandra balas tersenyum pada gadis di depannya.


Saat itu, seorang pria paruh baya berkepala botak masuk.


"Kalian berdua baru di sini, bukan? Saya Ade Jefri, atasan kalian." Saat pria itu berbicara, dia langsung berjalan menuju ke meja. Saat dia hendak duduk, dia mengerutkan kening dan menatap Arsa Kenandra. Nada bicara Ade Jefri dingin dan terdengar tidak senang.


"Apa yang kalian berdua tunggu? Anda tidak tahu bagaimana cara menyapa saya? " kata Adr Jefri.


"Maaf, apakah Anda manajer departement Kebersihan? " Arsa Kenandra bertanya.


"Atau malah supervisor?" Desita Mayasari juga bertanya. Arsa Kenandra mengerutkan kening ketika mendengar kata-kata itu.


"Kalian Ini benar-benar dua orang idiot. Kalian semua perlu diajari. Tidak heran kalian hanya bisa menjadi Cleaning Servis! " Ade Jefri menggelengkan kepalanya dan berkata.


"Bapak, mohon berbicaralah dengan sopan, kami tidak idiot." Kata Arsa Kenandra. Jika bukan karena Arsa Kenandra tidak bisa mengungkapkan identitasnya, beraninya dia berbicara seperti itu kepada Arsa Kenandra. Dia pasti tidak akan pernah mendapatkan akhir yang baik dalam hidupnya di dunia. Ade Jefri yang sudah duduk.berdiri lagi.


"Apa yang kamu katakan? Kamu memintaku untuk bersikap sopan padamu? Apakah kamu ingin aku memberimu tempat dudukku di sini ini, lalu membawakanmu kopi dan air putih? " Supervisor itu memandang Arsa Kenandra dengan dingin. Kemudian, Dia berbalik dan mencibir,

__ADS_1


"Kamu tidak benar-benar tahu siapa dirimu untuk perusahaan ini! Kamu hanya seorang Cleaning servis perusahaan ini, jadi jangan berani-berani bicara seperti itu kepadaku! Bahkan jika aku memarahimu atau Bahkan jika aku memukulmu, kamu harus menanggung dan menerimanya. Jika kamu tidak dapat menerima dan menanggungnya, lebih baik kamu keluar dari perusahaan ini dan pergi saja." kata Ade Jefri.


__ADS_2