
Di antara lebih dari empat puluh pria berpakaian hitam itu, sekitar tujuh pria yang berdiri mendekat dalam sekejap. Mereka langsung mengeluarkan tongkat dari pinggang mereka, lalu mengayunkannya dengan keras, dan kemudian langsung mentargetkan Arsa Kenandra.
"Tuan Arsa! " Bu Kartini dan Devina berteriak ketakutan, mata mereka penuh kekhawatiran. Bagi mereka, Arsa adalah seorang dermawan besar yang menyumbangkan lima ratus juta ke panti asuhan yang mereka jaga selama ini. Arsa hanya membela mereka. Jika Arsa benar-benar dilukai oleh orang-orang ini, bagaimana mereka bisa mengatasinya?
Sedangkan Arsa tidak mengubah ekspresi wajahnya.
"Hudoyo, saatnya kamu bermain," kata Arsa kepada Hudoyo.
"Arsa, aku sudah lama ingin melakukannya! " Hudoyo menjilat bibirnya dan matanya berbinar kegirangan. Hudoyo, ada banyak anak-anak yang sedang melihat hal ini. Jangan biarkan mereka melihat adegan orang terbunuh, atau hal itu akan meninggalkan efek psikologis pada anak-anak." Kata Arsa. Arsa tahu betapa kuatnya Hudoyo. Apa yang Hudoyo lakukan sebagian besar hidupnya adalah melatih keterampilan bela diri. Jadi akan sangat mudah untuk membunuh satu sama lain dengan satu pukulannya saja.
"Aku paham." kata Hudoyo sambil mengangguk. Pada saat ini juga, dua pria berbaju hitam yang tadi berada di depan telah bergegas mendekat ke depan Arsa. Kedua pria itu langsung melambaikan tangan mengayunkan tongkatnya untuk memukul Arsa. Hudoyo pun dengan sigap meraih dua ayunan tongkat itu dengan tangan kosong dan memutarnya menjadi satu. Terdengar dua kali teriakan, kedua pergelangan tangan kedua pria berbaju hitam itu langsung dipatahkan. Serangan Hudoyo seperti petir.
Dalam sekejap mata, kedelapan pria berbaju hitam yang tadi melangkah ke depan, semuanya dipukuli dan saat ini sudah terjerembab ke tanah, mereka melolong kesakitan.
"Serang! Cepat serang!" Pria botak yang menjadi pimpinan itu meraung. Puluhan pria berpakaian hitam yang tersisa mengeluarkan senjata.
__ADS_1
"Hanya sekawanan domba lemah." kata salah satu dari mereka. Dengan segera, mereka Mengayunkan tongkat yang di selipkan di pinggang mereka dan bergegas menuju ke Hudoyo. Hudoyo mencibir dengan jijik. Kemudian, dia langsung bergegas mendekat juga ke kerumunan. Begitu Hudoyo memasuki kerumunan orang-orang itu, dia seperti serigala memasuki kawanan domba. Di mana dia lewat, orang-orang besar berbaju hitam itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan! Kemampuan memukul Hudoyo begitu kuat, bahkan jika dia dipukul dengan tongkat yang diayunkan, itu hanya menggelitik baginya. Hudoyo sangat marah, jadi dia juga memukul dengan keras. Setelah itu, Hudoyo sudah berhasil mengalahkan ke empat puluh orang itu. Mereka semua jatuh tersungkur ke tanah.
Saat itu, Hanya pria botak yang tersisa. Iya berdiri di sana dengan pandangan hampa. Matanya penuh keterkejutan dan ketakutan.
Pemandangan ini benar-benar membuat Bu Kartini, Devina, dan anak-anak yang bersembunyi di kejauhan tercengang.
"Apakah ada orang yang sangat kuat di dunia ini? " gumam bu Kartini.
"Apa yang bisa saya lakukan dengan dia Arsa? "tanya Hudoyo sambil menunjuk pria botak itu.
"Aku beri tahu kamu, kita ini adalah orang-orang suruhan dari Wasis Adiguna. Apakah kamu tidak tahu kekuasaan tuan Wasis di Kota Surabaya? Tidak akan ada akhir yang baik untuk seseorang di Kota Surabaya yang berani menyinggung Tuan Wasis! ” Pria botak itu menggertakkan giginya.
Mata Arsa membulat, merasa jengah.
"Beraninya kamu berkata dengan begitu sombong? Hudoyo, bantu aku!"
__ADS_1
"Baik."Hudoyo mengangguk dan langsung menampar wajah pria botak itu. Seberapa parah Hudoyo memukulnya? Hanya dengan dua tamparan ini, pria botak itu memuntahkan darah dari seluruh mulutnya. Wajahnya merah dan bengkak.
Arsa pun langsung mengambil suat kontrak dari tangan Bu Kartini, dengan ringan merobeknya di tempat, dan menghancurkannya di depan pria botak itu. Pada saat yang sama, dia berkata,
"Kembalilah. Beri tahu Wasis Adiguna bahwa dia seharusnya tidak bersikap seburuk itu. Dia sudah tua, sudah seharusnya dia banyak mengumpulkan kebajikan. Bukan malah melakukan hal rendahan seperti ini. Satu lagi, semua panti asuhan yang berada di Kota Surabaya, sudah di lindungi oleh Arsa Kenandra." kata Arsa dengan serius.
"Kaa... Kamu adalah Arsa Kenandra? " lelaki dengan Kepala botak itu berkeringat saat menatap mata Arsa. Matanya penuh keterkejutan. Pria botak itu belum pernah melihat Arsa sebelumnya di Kota Surabaya, tapi dia sudah lama mendengar namanya. Tentu saja, dia tahu bahwa Arsa adalah bos dari Kendi Grub cabang Kota Surabaya. Arsa adalah cucu kandung dari Tuan Andi Sudiryo. Dia adalah musuh bebuyutan di sisi bosnya, Wasis Adiguna.
"Benar. Jika ak tidak mengubah nama depan atau nama belakang ku, aku adalah Arsa Kenandra," kata Arsa dengan tenang.
Kemudian, dia melambaikan tangannya.
"Kamu beruntung . Di hadapan anak-anak, aku tidak akan mengancam nyawamu. Keluar! " kata Arsa dengan tegas.
Lelaki botak itu tidak berani lagi berada di sana lebih lama.
__ADS_1
"Semuanya, ayo pergi! " Setelah si botak selesai berkata, dia berlari keluar dengan cepat.