Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Beban Fikiran


__ADS_3

"Aku... Aku pikir... Kita, lebih baik mempunyai hubungan sebagai teman saja." Arsa akhirnya mengatakan ini. Karena tak mungkin iya mengatakan yang sebenarnya.


Saat ini, Talita berdiri, matanya merah, dan kesedihannya semakin menenggelamkannya. Melihat Talita bersikap seperti ini, hati Arsa semakin tertekan dan hancur.


"Arsa, aku tidak ingin berteman baik denganmu. Aku pikir, lebih baik kita saling merasa asing saja." kata Talita sambil menarik pintu taxi. Arsa hanya bisa melihat Talita menutup pintu taksi sampai akhirnya taksi itu pergi.


Di Sisi lain.


Talita, yang saat ini sedang duduk di dalam taksi terus menangis. Air matanya tak berhenti menetes membasahi pipinya. Dia sebenarnya sudah lama menyukai Arsa, dan Arsa selalu bersikap sangat baik padanya. Hal Itu membuatnya berpikir kalau Arsa juga menyukainya. Dia pernah tidak berharap ini menjadi jawaban yang di berikan oleh Arsa.


Ketika taksi itu menghilang dari pandangan Arsa, Arsa masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa, lalu menyandarkan kepalanya di setir bundar itu. Dengan perlahan iya mengemudikan mobilnya.


Setelah Arsa sampai di rumah, dia ingin sekali rasanya menelepon Talita. Tapi pada akhirnya, dia menahan diri lagi. Arsa panik, Banyak hal yang membuat kepalanya serasa mau pecah. Tak ada pilihan lain, jadi dia memanggil sahabatnya, si Adit. Dan mengajaknya untuk minum bersama.


Saat malam hari tiba, di dalam bar malam, di dalam sebuah ruangan. Ada dua lusin bir di atas meja, berjumlah 24 botol.


"Ndut, ayo! Ayo habiskan minuman ini! " kata Arsa seperti frustasi.


" Baik Arsa, aku akan minum bersamamu! " Setelah Arsa selesai berbicara, Adit segera mengambil sebotol wine dan menuangkannya ke gelas. Tanpa sepatah kata pun, Adit mengambil sebotol anggur dan minum bersama Arsa. Setelah meminum satu botol, Arsa mengambil satu botol lagi dan terus meminumnya. Dengan ini, Adit mengikuti Arsa dan minum 3 botol sendiri.

__ADS_1


"Tunggu! Arsa, tunggu! Kalau kamu minum seperti ini lagi, akan ada masalah nanti kalau kamu mabuk!" Ketika Arsa hendak mengambil botol keempat, Adit itu segera memegang tangannya. Setelah minum tiga botol berturut-turut, wajah Arsa sudah memerah karena mabuk.


"Arsa, apa yang terjadi? " tanya Adit yang merasa ada yang tidak beres.


"Arsa, bisakah kamu memberitahuku ada masalah apa?" Adit bertanya kembali. Ketika Adit menatap Arsa dari dekat, dia menyadari kalau suasana hati Arsa sedang buruk, jadi dia tahu sesuatu pasti telah terjadi.


"Adit, Talita mengaku padaku hari ini. Mengaku kalau dia menyukaiku." Kata Arsa.


"Kalau begitu... Hari ini adalah hari yang baik. Kamu dan Talita sekarang adalah pasangan, seperti yang kupikir selama ini. Seharusnya kamu sudah lama tahu" Adit terlihat sangat bingung dengan ucapan Arsa.


"Tapi aku menolaknya... Karena aku sudah menjalin hubungan dengan Rita.” Arsa menggelengkan kepalanya di kedua tangannya.


Arsa mengambil sebotol anggur lagi dan meminumnya sekaligus. Setelah minum, Arsa meletakkan botolnya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Itu semua karena ayah Rita. Dia telah menaruh obat perangsang yang sangat banyak ke wine yang di suguhkannya. Dan hal tersebut membuat sesuatu terjadi antara aku dan Rita, yang membuat kita melakukan hubungan." Arsa berkata jujur. Adit tiba-tiba mengangguk ketika mendengar ini.


"Meskipun aku dan Rita tidak saling menyukai, tapi karena hal itu sudah terjadi, aku harus bertanggung jawab atas Rita, jadi aku tidak bisa menerima Talita lagi,” kata Arsa sambil menggelengkan kepalanya.


"Ternyata begitu." Adit awalnya tidak mengerti, sampai Arsa menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Adit, aku sendiri ngga percaya dengan kejadian ini sebelum memberitahumu, jadi jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun, terutama Talita." Arsa menatap Adit dengan serius.


"Ayo, ayo kita minum lagi!" kata Arsa terlihat begitu frustasi.


"Jangan khawatir, Arsa. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun." Adit mengangguk. Arsa mengambil sebotol anggur lagi.


"Oke... Aku akan minum denganmu." Adit ingin membujuk Arsa karena tak ingin sahabatnya itu terlalu mabuk, tapi dia berubah pikiran. Adit merasa kalau Arsa merasa tidak nyaman saat ini. Kalau seandainya Adit yang berada di posisi Arsa, semuanya pasti akan lebih menyakitkan. Iya harus menyakiti gadis yang di sukainya karena obsesi orang lain. Jadi, Adit berfikir, tidak apa-apa Arsa minum alkohol. Dan juga, dia tidak tahu bagaimana cara untuk membujuk Arsa agar tidak melakukan. Akhirnya, Adit dan Arsa minum beberapa botol lagi.


"Adit, aku harus ke toilet." Arsa langsung berdiri begitu selesai berkata.


"Aku akan menemanimu." Adit melihat Arsa sempoyongan, jadi dia tidak bisa tenang di saat Arsa pergi keluar ke kamar mandi sendirian. Dia segera bangkit untuk membantu Arsa.


Setelah pergi ke toilet di kamar mandi, Adit membantu Arsa berjalan keluar lagi.


Di lorong Bar, Arsa sedikit mabuk dan berjalan sedikit sempoyongan. Mereka berdua secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sedang lewat.


"Apakah kamu buta?" Wanita paruh baya itu memelototi Arsa dan Adit.


"Maaf, kakakku sedang mabuk." Adit dengan cepat meminta maaf kepada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Apakah dengan kata maaf, semuanya akan selesai? Apa kamu tidak tahu seberapa mahal pakaianku ini? Apa bisa kamu membelinya kalau sampai kamu membuatnya rusak?" Wanita paruh baya itu berkata dengan nada sombong dan tidak masuk akal.


__ADS_2