Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Mulai Menunjukkan


__ADS_3

"Baiklah... Yakinlah kalau aku siap menanggung semua malam ini. Aku sudah menyewa seseorang, dan dia akan langsung mengantarkan kalian." Kata Varo. Orang-orang yang berada di kerumunan itu berkata satu demi satu. Dengan pujian publik yang di dengarkan, Varo sudah pasti tampak sangat menikmatinya, sehingga iya sangat membanggakan diri.


Setelah berkata seperti itu, sesaat kemudian, Varo menoleh ke Erika.


"Erika, malam ini aku membawa mobil Alphard. Kamu bisa ikut bersamaku." kata Varo. Saat iya berbicara, dia menunjuk ke sebuah mobil Alphard yang diparkir di sebelahnya.


"Tentu saja aku mau." jawab Erika sambil tersenyum.


"Baiklah! " Varo tertawa gembira.


"Mobil Alphard punya Varo terlihat sangat keren. " kata seseorang yang ada di sana.


"Kamu pasti bercanda ya ngomong kaya gitu. Harga mobil itu lebih dari satu milyar rupiah. Kelihatan ganteng kan ya? Harganya juga mahal." kata Orang di sebelahnya.


"Aku tidak tahu kapan aku bisa mengemudikan mobil sebagus itu." Setelah semua orang melihat Range Alphard Varo, teman-teman sekelasnya yang dulu bersama mereka merasa iri dengan siapa yang bisa mengendarai mobil mewah mahal itu. Ketika Varo mendengar apa yang mereka katakan, dia tersenyum dan membelah rambutnya dengan jari. Mengekspresikan kebanggaannya pada diri sendiri, terlihat sangat bangga.


"Penampilan kesuksesan penjahat itu benar-benar tajam dan jelas." Ketika Arsa melihat ini, dia menggelengkan kepalanya dan mencibir. Arsa tidak berbicara dengan suara keras-keras, tetapi kata-katanya cukup untuk jatuh ke telinga Varo.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?" bilang Arsa?" kata Varo sambil melotot pada Arsa.

__ADS_1


"Varo, tenanglah!" Nindira buru-buru maju ke depan untuk mencegah terjadinya keributan. Yang lain menggumamkan sesuatu pelan-pelan.


"Arsa sama sekali tidak tahu arti dari menempel pada orang yang memiliki kekuatan. Varo melakukannya dengan sangat baik saat ini, tapi Arsa tidak menjilatnya sama sekali, dan malah berani-beraninya menantang. Bukankah itu berarti dia sedang mencari masalah? " kata salah seorang teman SMA.


"Aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Arsa Itu sangat bodoh. Bagaimana dia bisa bertahan dalam hidupnya yang seperti ini? " sahut seorang lagi.


"Arsa, saat kamu masih di sekolah menengah atas, kamu biasa membicarakan berbagai topik dengan aku.Dan kali ini aku ingin menasihati kamu. Kalau sebagai seorang pria, jangan terlalu kaku. Jika kamu berkecimpung ke dalam masyarakat dengan sikap seperti ini, kamj hanya akan terbentur tembok kebencian dan terjatuh secara menyedihkan." Erika tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak berkata.


"Erika, terima kasih atas perhatian kamu. Aku juga ingin memberi nasihat kepada kamu, kalau sebagai seorang wanita, lebih baik kamu bisa menghargai diri sendiri, daripada memberikan diri mu kepada sampah." Arsa berkata dengan tenang.


" Kamu! " Wajah Erika berubah. Varo pun juga berteriak pada Arsa.


"Jangan berani-berani berkata sembarangan ya kepada Varo. Kamu tahu, barusan yang kamu katakan Ini seperti meminta untuk mati! " kata antek Varo. Si Roni dan Febrian. Di belakang Varo, mereka bergegas untuk melindungi Varo dan berusaha mengalahkan Arsa.


"Tenang... Kalian berdua harus tenang. Hari ini reuni kelas kita. perselisihan hanya akan merusak suasana." Nindira buru-buru berkata kepada Roni dan Febrian yang sepertinya terlihat sudah tersulut api emosi.


"Heh, demi Nindira, aku akan memberimu satu kesempatan terakhir untuk menjadi orang yang bijak! Aku berjanji, jika kamu berani mengucapkan kata-kata seperti itu lagi, tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk menghajarmu!" kata Varo dengan mata memelototi Arsa. Riki yang berada di belakang Arsa juga langaung menarik temannya dan memberi isyarat kepada Arsa untuk berhenti berbicara, mengartikan kalau Arsa tidak mau, dia pasti akan menderita kerugian.


Sesaat kemudiam, Varo, sambil tersenyum penuh Arti, berkata kepada Riki,

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku baru saja menghitung kembali. Sepertinya jumlah kursi di minibus ini tidak cukup. Hanya ada selisih dua kursi. Kalian berdua bisa naik taksi. Jangan khawatir, aku bisa mengganti ongkosnya!" Riki segera berkata dengan enteng.


"Varo, jumlah penumpang di bus itu 38. Hari ini kita hanya ada 37 orang. Kok kursinya tidak cukup?" kata Nindira.


"Aku yang menyewa mobil itu. Aku bilang kalau tempat duduknya itu tidak cukup, jadi... Yaa tidak cukup!" kata Varo dengan arogan. Rupanya, Varo menegaskan kalau dia akan memberi pelajaran Arsa dan Riki.


"Ayolah, Riki. Kamu tidak perlu repot-repot dengan apa yang mereka katakan. Aku punya mobil sendiri." kata Arsa.


"Iya, bukankah dia bilang dia punya Lamborghini?" ejek Febrian.


"Ya! Dengan mobil keren seperti itu, kamu tidak perlu naik bus." Roni pun tertawa dengan puas.


"Iya, kamu punya Lamborghini kan? Ayo, cepat dan tunjukkan pada kita semua.! " kata Varo. Mereka jelas-jelas menyindir Arsa. Beberapa dari mereka juga terkikik.


Apakah mereka akan mengira kalau Arsa benar-benar punya Lamborghini?


"Mau lihat? Kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu." Ucap Arsa dengan tenang. Lalu dengan sigap iya mengeluarkan kunci mobil Lamborghini miliknya yang berada di dalam saku. Ketika Riki melihat ini, dia berbisik kepada Arsa sambil tersenyum masam,


"Arsa, mereka sedang membicarakan bagaimana bisa melihat mobil sungguhan. Kamu tidak bisa membodohi mereka dengan kunci mobil palsu yang dibeli di toko itu." kata Riki dengan khawatir.

__ADS_1


"Mobil yang aku katakan itu bukan palsu! " Senyuman muncul di sudut mulut Arsa saat iya menjawab apa yang di katakan oleh Riki. Kemudian, Arsa berbalik dan menghadap ke tempat parkir. Dia menekan tombol buka kunci mobil. Saat berikutnya, klakson pembuka kunci mobil Arsa yang bergitu nyaring terdengar, sangat mendominasi. Setelah mendengar bunyi itu sampai di telinga mereka semua, orang-orang yang mengejeknya tadi satu demi satu mengikuti dari mana bunyi itu berasal. Yang menarik perhatian mereka adalah supercar berpenampilan keren yang bernama Lamborghini Daniel. Karena Arsa baru saja menekan tombol unlock, flasher darurat Lamborghini Daniel masih berkedip, dan menyita perhatian untuk kedua kalinya.


__ADS_2