Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Keganasan


__ADS_3

"Aku katakan sekali lagi, siapapun yang berani menyentuh aku sedikit saja, aku pastikan akan menyesal." kata Arsa. Setelah semua anak buah Pria bertato bunga itu mendengar kata-kata itu, mereka mengeluarkan tongkat dan mengayunkan dengan sembarangan sambil berjalan ke arah Hudoyo. Pertempuran pun benar-benar terjadi dan begitu sengit dalam waktu sekejap. Meskipun lawan Hudoyo lebih dari sepuluh orang, pertempuran itu benar-benar terjadi dengan enteng. Anak buah pria bertato itu ingin menghancurkan Hudoyo dengan melayangkan pukulan menggunakan tongkat yang mereka bawa. Tapi, Hudoyo benar-benar tidak gentar sedikit pun. Berada di pasukan bawah tanah selama empat tahun membuat kemampuan Hudoyo benar-benar terasah dengan sangat sempurna. Dan hal itu membuat Hudoyo terlihat sangat kuat dalam pertarungan. Dan yang paling mengherankan, Hudoyo meladeni semua serangan dari lawan dengan sikap santai dan tenang. Dan setiap saat Hudoyo melayangkan pukulannya, saat itu juga mereka langsung muntah darah. Mereka tak sempat membalas pukulan Hudoyo. Sesaat kemudian, Semua orang yang tadi menyerang, kini sudah tergeletak di atas lantai sambil merintih kesakitan.


Hudoyo melirik orang-orang ini dengan tatapan tajam.


"Dasar sampah." kata Hudoyo mencibir lalu menggelengkan kepalanya dengan heran. Bagi Hudoyo, melawan belasan orang itu hanya bagaikan menepuk lalat.


Karena melihat ada begitu banyak orang di bar tersebut, Hudoyo tidak ingin menimbulkan masalah yang tidak penting bagi Arsa, jadi, dia hanya melakukan tugasnya untuk melumpuhkan para berandalan itu. Kalau saja tidak di tempat ramai seperti itu, orang-orang ini pasti sudah sejak tadi Hudoyo singkirkan.


Andre dan Juliana menelan ludah saat melihat pemandangan seperti ini, dan mata mereka membelalak, Andre pun melongo penuh rasa terkejut.


"Ya Tuhan, pria ini terlalu sadis. Belasan anak buah dia bisa di lumpuhkan dalam waktu singkat saja." kata Juliana.


"Ini... ini... Tidak mungkin." Laki - laki bertato bunga itu juga melebarkan matanya karena sangat tidak percaya. Wajahnya membiru karena ketakutan. Sebelumnya, dia berani bersikap begitu sombong. Karena selain statusnya, dia merasa ada belasan anak buah yang bisa dia andalkan. Tapi sekarang, semua anak buahnya sudah di sikat habis dan di lumpuhkan oleh 1 orang saja. Setidaknya, lelaki itu sudah kehilangan tameng pelindungnya saat ini.

__ADS_1


" Hudoyo, tangkap dia dan lemparkan di depanku!" kata Arsa dengan enteng. Hudoyo pun mengangguk dan kemudian langsung berjalan menuju pria bertato bunga itu.


"Jangan mendekat!" lelaki bertato itu mengeluarkan parang, ujungnya terlihat sangat tajam dan siap melawan Hudoyo. Hudoyo yang melihat itupun tidak takut sama sekali. Dia masih terus berjalan ke arahnya.


"Sudah kubilang jangan mendekat! Jangan paksa aku melakukan hal yang tidak wajar" Pria bertato bunga itu terus meneriakkan larangan, yang menurut Hudoyo, teriakan itu adalah teriakan ketakutan. Tapi Hudoyo tetap masih tidak berhenti. Dan saat ini, sudah berada di depan pria bertatokan bunga yang bernama Deka itu.


"Kamu benar-benar memilih untuk mati." Melihat kalau Hudoyo berjalan di depannya, Deka sudah tidak punya pilihan lain selain menyerang. Jadi dia langsung mengacungkan parangnya untuk menebas Hudoyo dengan satu gerakan. Tapi ternyata hal tak terduga pun terjadi. Dengan cepat, Hudoyo pun beraksi. Dia meraih pergelangan tangan Deka setenang mungkin dengan parang yang masih ada di genggaman nya. Setelah itu, Hudoyo memelintirnya kebelakang dengan keras.


"Auuuw." Teriakan kesakitan terdengar dengan jelas, di iringi suara retakan tulang yang begitu renyah. Laki-laki itu mengerang menghabiskan seluruh suara hingga terdengar serak. Hudoyo tanpa belas kasihan memutar Pergelangan tangannya180 derajat. Lelaki yang menjadi pengawal Arsa itu langsung membawa pria bernama Deka itu berjalan mendatangi Arsa. Deka pun langsung terlihat sangat pucat pasi. Dia tidak tahu, apakah wajah pucatnya itu di sebabkan karena rasa sakit di lengannya atau rasa ketakutan.


"Saya sudah katakan sebelumnya, kalau ada orang yang berani menyentuh aku, pasti akan berakhir dengan suatu hal yang tidak baik! Aku hanya melakukan apa yang telah aku katakan!" kata Arsa dengan nada dingin. Kemudian, Arsa menoleh untuk melihat Hudoyo.


"Hudoyo, patahkan saja kakinya sebagai pelajaran untuknya!" kata Arsa memberi perintah.

__ADS_1


"Jangan! Jangan, jangan berani-beraninya kamu melakukan itu. Asal kamu tahu, aku adalah adiknya Fiko Reliso. Kalau kamu berani mematahkan kakiku, aku berjanji akan membuatmu menyesal seumur hidupmu." kata Deka dengan berteriak. Suaranya terdengar sangat ngeri. Bukan sebagai lelaki bertato yang sombong dan tak kenal takut seperti tadi. Deka menggunakan reputasi sang kakak untuk keluar dari tragedi yang mengerikan ini. Sekaligus untuk membuat Arsa takut dan terkejut.


"Oke, kalau begitu, langsing patahkan saja kakinya! " kata Arsa pada Hudoyo sambil tersenyum.


"Tidak masalah tuan." Setelah itu Hudoyo mengangguk, dia menendang kaki pria itu dengan keras.


"Auuuwww! " suara jeritan terdengar lagi. Deka pun langsung berlutut ke lantai, dan tulang betis di kakinya langsung ditendang oleh Hudoyo. Dia mengerang dan berteriak kesakitan, dan matanya terlihat membulat. Dia tidak menyangka kalau Arsa tetap akan melakukan hal tersebut. Padahal iya sudah menggunakan nama Fiko Reliso. Tapi, sama sekali tidak berguna.


"Pergi dari sini! Sebelum aku berubah fikiran." kata Arsa sambil melirik pria yang baru saja di berinya pelajaran itu. Semua anak buah yang sudah di lumpuhkan oleh Hudoyo tadi mendengar perintah itu. Dengan menahan rasa sakit, mereka semua perlahan bangun dari atas lantai dan mencoba untuk berdiri. Beberapa dari mereka yang hanya terluka ringan segera berlari untuk membantu pimpinannya.


"Heh Bocah, Fiko tidak akan melepaskanmu! Kamu tunggu saja di sini!" kata Deka sambil mengertakkan gigi-giginya menahan sakit.


"Oke, aku akan tunggu dia di sini, aku akan lihat apa yang bisa kamu lakukan lagi." jawab Arsa dengan tenang.

__ADS_1


"Ayo Pergi! " Laki-laki bertato yang bernama Deka Itu memberi perintah, dan dengan bantuan dua anak buahnya, dia keluar dari bar. Sudah pasti kejadian itu menyita banyak perhatian para pengunjung. Selain menahan malu, dia juga menahan sakit.


__ADS_2