Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Aksi Heroic Hudoyo


__ADS_3

"Kurasa kamulah yang ingin mati! Sadarlah, kamu sendirian. Cepat bunuh dia! " Setelah pria berbaju hitam itu selesai berbicara, dia memimpin pasukannya untuk menyerang Hudoyo dengan Pisau di tangannya. Saat pisau yang di pegangnya hendak menyentuh Hudoyo, Hudoyo mencengkeram pergelangan tangan pria itu.


Setelah itu, terdengar jeritan yang menyayat hati, dari ekspresinya terlihat sangat kesakitan. Dia sudah tak berdaya. Di saat itu pula, tangannya di pelintir ke belakang serta dahinya di tendang. Lelaki yang tadi dengan sombong berkata itu saat ini tersungkur ke tanah dengan nafas tersengal. Semua ini terjadi dalam sekejap, hanya dalam hitungan detik. Bagi Hudoyo, melakukan hal-hal seperti ini layaknya makanan dan minuman setiap hari, santai dan sangat mudah.


Sedangkan teman-teman dari laki-laki berbaju hitam itu menarik napas dalam-dalam. Mereka terlihat ketakutan, cara Hudoyo melumpuhkan lawan benar-benar luar biasa.


"Karena kalian tidak mendengarkan aku tadi, kalian pantas menyesal setelah mendapatkan ini. Maka terimalah apa yang seharusnya kalian terima." Mata Hudoyo tertuju pada beberapa orang tadi. Setelah kata-kata yang ia ucapkan itu, Hudaya bergerak dengan cepat dan berlari ke arah orang-orang yang tadi tak mendengarkan kata-katanya. Dalam waktu 1 menit, lebih dari 7 orang yang berpakaian hitam itu semuanya jatuh ke tanah dengan nafas yang tersengal. Di hadapan Hudoyo, orang-orang yang terlihat sangar tadi benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan.


Arsa yang melihat kejadian ini harus menelan ludahnya dengan susah payah saat ia melihat hudoyo yang mampu menaklukkan mereka semua. Iya tidak menyangka akan melihat semua orang itu tersungkur di tanah dengan babak belur. budaya benar-benar membuat Arca merasa takut.


Beberapa saat kemudian, Hudoyo pun berjalan ke arah Arsa.

__ADS_1


"Apakah anda baik-baik saja tuan muda?"tanya hudoyo kepada Arsa.


"Oh, aku baik-baik saja, terima kasih atas kehadiranmu." Arsa mengatupkan giginya dan mengangguk. Sejujurnya,Arsa merasa tremor dengan apa yang baru saja ditunjukkan oleh sang pengawal.


"Karena anda baik-baik saja tuan muda, silakan tinggalkan tempat dan serahkan semua urusan padaku." Hudoyo pun masih tampak tenang, seolah-olah dia tidak melakukan apapun. Sedangkan Arsa hanya menjawab dengan menganggukan kepala, dia masih belum bisa menghikangkan keterkejutannya. Ini adalah pertama kalinya Arsa melihat pemandangan seperti ini. Meskipun dia sudah berusaha menenangkan dirinya, dia tidak bisa menahan perasaan sedikit kaget dan bingung di hatinya.


Arsa pun berjalan cepat menuju ke mobilnya, iya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Arsa meletakkan tangannya di atas setir dan mendapati tangannya yang sedikit gemetar.


"Bagus kalau Kakek tahu apa yang memang aku butuhkan untuk melindungiku. Dengan adanya Hudoyo, aku tidak perlu terlalu khawatir dengan semuanya." Arsa menghela nafas berat.


Sesaat kemudian, iya merasa takut memikirkan semua ini, Iya pasti sudah menjadi mayat yang terbuang kalau dia tidak memiliki pengawal seperti Hudoyo yang bisa melindunginya. Pada saat yang bersamaan pula, keputusan kakeknya untuk menyerahkan hudoyo kepadanya baru ia sadari.

__ADS_1


"Sialan Kejora Grub! Sialan kamu Wasis Adiguna!" Arsa memukul setir mobilnya. Iya akan mati kalau saja Hudoyo tidak ada.


"Aku, Arsa Kenandra bersumpah, bahwa jika Kejora grup tidak ditaklukkan dengan cepat, jangan sebut namaku Arsa." Kata Arsa dengan kejam. Meskipun Keadaan bahaya sudah di akhiri oleh Hudoyo, tapi kemarahan di hati Arsa tidak dapat diselesaikan begitu saja.


Di sisi lain, Di Rumah keluarga Wasis Adiguna. Setelah membersihkan semua kotoran yang berada di sana, asisten pribadi Wasis memasuki rumah tersebut dengan berlari.


"Bagaimana hasilnya? Apakah kamu sudah berhasil membunuh anak itu? " kata wajah Adiguna yang sedang duduk di sofa dengan segelas anggur tangannya serta seorang wanita cantik di pelukannya. Meskipun Wasis Adiguna sangat marah karena Arsa membuang kotoran di rumahnya, suasana hatinya sedikit membaik ketika ia mengira kalau Arsa akan disingkirkan.


"Sesuatu telah terjadi tuan Wasis! Orang-orang yang saya kirim untuk membunuh anak itu semuanya hilang dan tak ada kabar!" Assistand tuan Wasis menundukkan kepalanya dan berkata dengan nada pelan. Setelah Wasis mendengarkan laporan itu, senyum di wajahnya langsung hilang dalam seketika.


"Hilang? Bagaimana bisa!" Wasis berdiri dan bertanya. Di dalam benak nya, di dalam Kota Surabaya, mudah baginya untuk menyingkirkan siapa pun yang iya inginkan.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin orang yang aku kirim untuk menyingkirkan orang lain malah hilang? " kata Wasis dengan heran dan geram.


__ADS_2