
"Hudoyo, kemarilah dan lihat ini! " Arsa menyerahkan batu itu kepada Hudoyo.
Setelah Hudoyo mengambil batu itu dan memeriksanya, dia berkata, "Arsa, partikel emas di batu ini benar-benar emas yang murni dan tersembunyi.
"Oh iya, di bawah Gunung Bungkus ada tambang emasnya? " tanya Arsa Kenandra.
"Kemungkinan di dalamnya ada banyak emas. Kita tidak bisa memastikannya, tapi mungkin saja ada tambang emas besar di bawah sana. Mungkin juga sangat kecil hingga tidak memiliki nilai penambangan sama sekali." Kata Hudoyo. Arsa mengangguk dan mengembalikan batu itu kepada petani itu.
"Pak, mengapa bapak berpikir untuk memberitahukan berita itu kepada keluarga Kenandra? " Arsa bertanya padanya.
" Karena mereka punya uang. Orang rendahan seperti saya tidak bisa menambang dan mengambil emas-emas itu sendiri, jadi lebih baik menjual berita itu kepada mereka demi sejumlah uang, dan itu adalah hal yang paling praktis." Petani itu berkata sambil tersenyum.
"Di mana bapak menemukan lokasinya, tepatnya lokasi bapak menemukan batu itu? " Arsa bertanya. Lagi pula , gunung bungkus itu besar dan luas, jadi tentu saja, Arsa perlu mengetahui lokasinya dengan pasti.
"Baiklah, kamu harus memberiku lebih banyak uang dari pada yang tadi, lalu aku akan memberitahumu." Petani itu berkata sambil tersenyum licik.
"Tidak masalah. Saya akan memberi Anda cek senilai sepuluh juta." Kata Arsa. Petani itu buru-buru menggeleng.
"Oh, tidak, saya tidak mau cek, saya mau uang tunai." kata petani tersebut.
"Baiklah, Hudoyo, kamu harus memberiku sepukuh juta rupiah." Kata Arsa kepada Hudoyo. Lagi pula, Arsa tidak membawa uang tunai sebanyak itu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Hudoyo membawa uang tunai sepuluh juta rupiah itu.
"Ini sepuluh juta itu, dua kali lipat dari yang bapak minta, dan aku ingin bapak tidak hanya menyebutkan letaknya saja, tapi juga menyimpannya rahasia ini drngan baik setelah bapak menunjukkannya." Arsa memberi lelaki tuan di depannya uang.
__ADS_1
"Tidak masalah! Tuan-tuan, Anda berdua jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja, saya bersumpah kalau saya benar-benar akan menjaga rahasia ini." Petani itu sangat gembira menerima uang itu, dan dia tidak bisa berhenti tersenyum lebar-lebar. Baginya, sepuluh juta rupiah jelas merupakan jumlah yang sangat besar.
"Tuan, saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik tempat emas itu berada di gunung bungkus, jadi saya sendiri yang akan mengantar Anda ke sana." Kata petani itu.
"Oke! " Arsa mengangguk.
Segera setelah itu, Arsa menoleh ke Hudoyo dan berkata,
"Hudoyo, kamu ikut dia. Ngomong-ngomong, jangan lupa untuk memeriksanya dengan cermat. "Arsa berpikir bahwa ini bisa menjadi peluang untuk menghasilkan lebih banyak uang. Jika itu adalah tambang emas yang besar, dia pasti dapat menghasilkan banyak uang darinya.
"Tidak masalah, Arsa. Tapi jika aku pergi, keselamatanmu bagaimana...?" Hudoyo sedikit khawatir. Terakhir kali Hudoyo tidak ada di dekat Arsa, dia hampir dibunuh oleh Wasis Adiguna.
"Jangan khawatirkan aku. Fiko mengirimiku sekotak peluru kemarin untuk mengisi senjataku, jadi seharusnya tidak ada masalah." Kata Arsa. Senjatanya telah diisi ulang dengan peluru, dan selama ada senjata di sampingnya, Arsa tentu saja tidak perlu khawatir tentang keselamatan dirinya sendiri.
"Baiklah kalau begitu. Berarti Tidak akan ada apa-apa." Hudoyo mengangguk.
Berjalan ke pintu Rumah megah, dia melirik ke dua penjaga dan tersenyum.
"Jika gunung bungkus memang memiliki tambang emas yang besar, kalian berdua akan membiarkan Grup Kenandra kehilangan kesempatan untuk menghasilkan banyak uang." Arsa tahu, kalau saja para penjaga itu tidak menghentikan petani tua tadi, berita itu tidak akan iya dengarkan, tapi akan di terima oleh keluarga Kenandra.
Arsa memasuki vila megah melalui gerbang dan berjalan melintasi halaman sebelum tiba di bangunan utama. Di dekat pintu gedung utama, seorang pengurus rumah tangga sedang berdiri di sana, menyambut anak-anak keluarga Kenandra. Pengurus rumah tangga tua itu berambut putih dan telah bekerja pada tuan Aji selama puluhan tahun.
"Tuan Arsa, mengapa ibumu tidak datang?" Pengurus rumah yang sudah tua itu bertanya.
"Ibuku sedang dalam masa pemulihan dari sakitny. Dan pasti tidak nyaman baginya untuk datang saat ini." Jawab Arsa.
__ADS_1
"Baiklah tuan Kenandra, silakan cari saya saya jika Anda membutuhkan sesuatu. " Pengurus rumah tangga tua itu berkata dengan sopan kepada Arsa .
" Terima kasih." Arsa pun tersenyum kembali dan berjalan ke dalam vila.
Tuan muda keluarga Kenandra ada di lantai satu sedangkan orang tuanya ada di atas.
Tuan Aji Kenandra memiliki tiga putra dan dua putri. Arsa melirik total lebih dari selusin pria dan wanita muda pada lantai satu. Mereka semua adalah bagian dari keluarga Kenandra, baik yang memiliki hubungan darah atau terikat oleh pernikahan. Menjumlahkan anak-anak dan cucu-cucu mereka, tentu saja, ada lebih dari satu Ketika Arsa memasuki rumah, dia melihat kalau mereka semua sedang bersenang-senang saat berkumpul. Tentu saja dia tidak bisa ngobrol dengan mereka, jadi Arsa mencari tempat untuk duduk.
"Hei lihat, bukankah itu Arsa? Bukankah ayahnya sudah lama memutuskan hubungan dengan keluarga Kenandra? Kenapa dia tiba-tiba ada di sini? " Masuknya Arsa menarik perhatian semua sepupunya.
" Ya, kenapa dia ada di sini? " tanya sepupu Arsa yang lain.
"Mengundang dia adalah sesuatu yang diminta orang tua itu." Kata Rey pada semua orang.
"Dan Itu adalah perintah dari orang tua itu, dan aku baru sadar kalau kakek ingat dan mau mengakui dia sebagai cucu." sahut yang lain.
"Dia datang ke sini pasti hanya untuk mendapatkan warisan dari keluarga Kenandra. Dia memutuskan hubungannya dengan keluarga Kenandra, apa lagi yang menjadi alasan perubahan di hatinya, yang juga membuatnya tiba-tiba datang saat ini?" Rey mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas, sehingga Arsa, yang berada tidak jauh dari situ, dapat mendengarnya dengan jelas. Jelas sekali dia melakukannya dengan sengaja.
Arsa sedikit mengernyit. Kalau bukan karena nasehat ibunya, Arsa tidak akan datang. Karena Arsa tidak menyukai keluarga Kenandra. Dia masih membenci mereka karena sikap bagaimana yang sudah mereka lakukan dulu.
Dulu, ketika ayah Arsa meninggalkan keluarga, dia mengalami masalah terburuk hingga menimbulkan sebuah perselisihan dengan saudaranya, yaitu dengan ayah Rey. Jadi, Rey pun ikut-ikutan memusuhi Arsa sejak dia masih kecil. Namun sejauh yang diketahui Arsa, Rey pada dasarnya memang anak yang bersikap tidak sopan. Dia adalah tipikal seorang anak yang nakal, suka menyombongkan diri, minum, dan berjudi. Hanya karena iya termasuk dalam lingkaran kaya generasi kedua Kota Malang, putra paman yang saat ini menjadi General Manager di Perusahaan Kenandra Group.
"Arsa, itu benar-benar kamu? " Saat itulah suara lembut terdengar di belakang Arsa. Dia menoleh dan melihat seorang gadis yang tampak seperti kakak perempuan di sebelahnya. Namanya Adeena Kenandra, dan dia adalah putri pamannya.
"Adeena, ini benar-benar kamu." Arsa tersenyum padanya. Jika Arsa menyukai seseorang di antara kerabatnya, maka orang itu adalah Adeena. Ketika Arsa tidak mempunyai uang untuk membayar uang sekolahnya, ibunya membawanya untuk meminta bantuan kepada kerabatnya, namun tidak ada yang mau membantu. Hanya Adeena, yang diam-diam menemui Arsa dan ibunya, lalu memberi mereka uang sebanyak 1 juta.
__ADS_1
Sudah beberapa tahun berlalu, namun Arsa masih mengingatnya dengan dalam. Uang satu juta mungkin tidak seberapa bagi Adeena, namun bagi Arsa pada saat itu, uang penyelamat itulah yang membantu mereka melewati krisis ekonomi yang hampir saja membuatnya putus asa.