
Pandangan semua orang terfokus pada Arsa. Meskipun Arsa hanya mengenakan pakaian yang sangat biasa, tidak ada yang berani meremehkannya, karena dia mengendarai Lamborghini. Tapi, tidak ada yang tahu, kenapa Arsa yang mengendarai mobil sport datang ke tempat itu. Mereka hanya bisa menebak apa masalahnya adalah dengan Dimas.
"Arsa? " Disaat Talita melihat siapa yang keluar dari mobil, dia tertegun. Talita mengenal keluarga Arsa. Meskipun temannya itu pernah memberitahu sebelumnya, kalau dia memenangkan undian berhadiah dengan total miyaran rupiah. Tapi masih sangat mustahil baginya untuk bisa mengendarai mobil sport yang bagus. Meskipun Talita tidak tahu banyak tentang mobil sport, dia tahu kalau mobil sport ini sangat mahal
"Arsa, Akhirnya kamu datang juga." kata Adit.
"Arsa, anak itu! " Setelah melihat Arsa, Adit menyambutnya dengan gembira.
"Adit, siapa yang mengganggu Talita? " tanya Arsa. Adit pun langsung mengarahkan jarinya ke Dimas,
"Arsa, anak ini benar-benar gila. Talita baru saja menolaknya. Tapi dia tidak menyerah. Dia juga memaksa memberikan uang ke Talita dan ingin mengajak Talita pergi dengan memaksanya." kata Adit memberi tahu Arsa.
"Benarkah?" Arsa menyipitkan matanya untuk melihat ke arah Dimas. Setelah Dimas merasakan tatapan tajam Arsa, wajahnya tiba-tiba berubah. Dimas bukan orang bodoh. Dia sudah melihatnya sendiri. Arsa adalah saudara laki-laki yang dibanggakan oleh Adit tadi.
__ADS_1
Pada saat yang sama, lelaki gendut itu melangkah maju mendekati Dimas.
"Tadi aku sudah mengatakan sebelumnya, kalau mobil saudara laki-laki ku lebih baik dari punyamu. Bukankah kamu mengejek aku tadi dan menyombongkan diri? Aku mau mendengar kembali, apa yang bisa kamu katakan sekarang?" kata Adit dengan bangga. Wajah Dimas langsung memerah. Saat ini, terdengar suara-suara di sekitar sana. terdengar bising karena obrolan para mahasiswi yang melihat kejadian ini.
"Ngga disangka ya, orang yang mengendarai Lamborghini ini ternyata adalah saudara dari dia. Pantas saja dia berani menantang pria itu sebelumnya."
"Waah, jadi... Dia benar-benar saudara orang yang mengendarai Lamborghini itu. Dia pasti jauh lebih baik daripada orang yang mengendarai Audi ini. Ini adalah sebuah pertunjukkan yang bagus." suara-suara dari para mahasiswi di sana terdengar jelas.
"Adit, apa lagi yang baru saja dia katakan? " tanya Arsa dengan nada agresif.
"Oh, seperti itu ya? " Arsa menyipitkan matanya. Kemudian, dia berjalan perlahan ke arah Dimas. Dimas saat ini merasa sangat gugup.
"Di mana kesombongan yang kamu miliki ketika menghadapi Adit tadi? Kenapa kamu panik? Apa benar yang aku dengar tadi? Aku dengar kalau kamu ingin mematahkan kaki saudaraku? Apakah dia mengatakan yang sebenarnya? " Dengan senyum muram di wajah Arsa, Arsa menepuk bahu Dimas.
__ADS_1
"Kakak, tentu saja tidak. Beraninya aku mengatakan seperti itu?" Dimas menyunggingkan senyum dengan terpaksa dan menyeka keringat dingin di dahinya. Meskipun Arsa mengenakan pakaian yang sangat biasa, tapi dengan Lamborghini-nya ini, Dimas tahu kalau dia benar-benar orang yang menakutkan dan tidak boleh dia ganggu sama sekali.
Di saat suara Dimas terdengar di telinga Arsa, Arsa menampar wajahnya dengan keras.
"Beraninya kamu ini ya? Kenapa kamu tidak mengakui apa yang kamu katakan? Terus maksud kamu saudaraku itu berbohong?" kata Arsa dingin. Dengan menampar Dimas, wajah Arsa terlihat berubah menjadi sangat sangar. Sedangkan Dimas yang ditampar di hadapan banyak orang, membuatnya merasa sangat malu. Tapi dia tidak berani menyerang balik kepada Arsa. Dia hanya menunduk tanpa melakukan apapun, takut mengatakan sesuatu hingga akan semakin membuat Arsa marah.
"Angkat kepalamu!" Teriak Arsa, perintah tersebut membuat Dimas gemetar ketakutan, lalu dengan cepat, iya mengangkat kepalanya. Arsa langsung saja mencengkeram kerah baju Dimas, menajamkan pandangan ke lelaki sombong di hadapannya, lalu berkata dengan dingin.
"Dengar ya, aku tidak peduli apa yang kamu lakukan, tapi kamu membuatku merasa kesal. Selama aku mau, hanya dengan kata-kata saja, aku bisa membuat keluargamu hidup di Kota Surabaya ini bagaikan di hidup di neraka. Entah kamu mau percaya atau tidak? " kata Arsa dengan tegas.
"Saya percaya! Saya percaya tuan." Dimas mengangguk patuh dan menjawab dengan tubuh gemetar, wajahnya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin. Arsa langsung mengubah topik pembicaraan setelah melihat Dimas yang begitu ketakutan.
"Kamu benar-benar berani mengendarai mobilmu dan masuk ke Universitas kota Surabaya hanya karena wanita yang akan kamu ajak kencan? Bagaimana kamu bisa bertindak sebodoh itu? " kata Arsa dengan tajam.
__ADS_1
"Kak, aku... Aku... A.. Aku benar-benar tidak tahu kalau Talita adalah wanitamu. Kalau aku tahu, aku tidak akan berani merebutnya darimu, sekalipun aku punya keberanian." kata Dimas berulang kali. Iya berharap Arsa tidak akan melakukan hak yang mengerikan.
"Kalau begitu kamu boleh pergi sekarang juga." Arsa mendorong bahu Dimas dengan pelan, lalu berjalan lurus ke arah Talita. Dimas yang di dorong menjauh dari hadapan Arsa, saat ini hanya bisa berdiri mematung di atas tanah yang sejak tadi di pijaknya. Meski hatinya merasa hancur, dia hanya bisa menahan diri.