Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Aku Tak Pantas Untukmu


__ADS_3

Lamborghini hijau yang tampak keren itu diparkir dengan rapi di tempat parkir rumah sakit. Saat itu juga, banyak anak muda yang mengangkat ponsel dan memotret Lamborghini tersebut, karena ingin mempostingnya di aplikasi media sosial mereka. Karena jarang ada mobil mewah seperti itu.


"Pemiliknya ada di sini! Pemiliknya sudah datang." kata seorang anak muda sambil menurunkan ponselnya. Di saat melihat Arsa menekan tombol buka dari kunci yang di pegangnya. Tiba-tiba Lamborghini itu menyala dengan tangguhnya, seperti binatang buas yang membuka mata setelah bangun dari tidurnya.


Mereka yang sejak tadi mengambil foto, semua mundur dengan cepat. Arsa langsung berjalan maju mendekat ke mobil nya, lalu membuka pintu kursi pengemudi. Dokter muda yang tadi mengikuti, melihat Arsa membuka pintu Lamborghini. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.


"Pacarnya Talita ternyata... Benar-benar mengendarai Lamborghini." katanya dengan gusar. Kebenaran sudah ada di depan matanya. Jadi, meskipun dia tidak ingin mempercayainya, dia harus menerimanya kenyataan yang saat ini di lihatnya.


Arsa kembali menatap dokter muda itu. Dan dokter muda itu dengan cepat menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata Arsa. Setelah itu, Arsa tersenyum dan memalingkan muka. Ini hanya masalah kecil, jadi Arsa tidak perlu repot-repot mengetahui nama dari dokter muda yang tadi mengejeknya.


"Talita, kamu siap? Ayo naik! " Arsa membuat gerakan pertanyaan dengan sangat anggun.


"Arsa, bukankah mobilmu yang kemarin berwarna oranye? Sekarang... Kenapa sekarang jadi hijau? " Talita tampak terkejut.

__ADS_1


"Oh, itu karena aku ganti mobil yang lain," kata Arsa sambil tersenyum.


"Wah, hebat sekali." Talita tersenyum, lalu duduk di dalam Lamborghini.


"Wow, aku benar-benar iri dengan gadis itu! " Gadis-gadis muda yang berada di tempat paskir merasa ingin menjadi Talita. Mereka adalah para muda-mudi yang tadi berfoto-foto di sekeliling mobil Lamborghini Arsa. Mereka semua melontarkan pandangan iri pada Talita yang bisa duduk di Lamborghini seperti itu.


"Siapa yang tidak akan iri padanya? " suara Gemuruh bergema keras. Bersamaan dengan deru mesin mobil Lamborghini berwarna hijau itu yang akhirnya pun tak terlihat lagi.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang. "Anehnya, aku harus berpura-pura menjadi pacarmu lagi." kata Arsa sambil tersenyum.


"Bukan begitu maksudku. Tentu saja, aku tidak bermaksud seperti itu. Selama kamu membutuhkannya, aku bisa berpura-pura menjadi pacar kamu kapan saja." kata Arsa sambil tertawa Garing.


"Kenapa aku merasa Talita cemburu pada Rita." gumam Arsa dalam hati.

__ADS_1


Pada saat ini juga, Talita tiba-tiba menundukkan kepalanya dan berbisik.


"Kalau begitu... Kenapa kamu tidak menjadi pacarku saja." Begitu kata-kata Talita keluar dari bibirnya yang manis itu, Lamborghini yang di kemudikan oleh Arsa tiba-tiba berhenti. Arsa langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dengan mengatakan ini, Talita mengaku padanya bukan? Jika pengakuan ini terdengar sebelum tragedi antara Arsa dan Rita terjadi, Arsa akan sangat senang dan pasti akan setuju lalu menerima Talita. Tapi, karena urusannya dengan Rita tidak bisa iya tinggal begitu saja, Arsa tidak bisa menyetujuinya. Arsa tidak menjawab untuk sementara waktu. Mobil tiba-tiba menjadi tidak tak bergerak sama sekali, dan suasana di dalam mobil menjadi sedikit aneh.


Talita juga terlihat sangat gugup. Dia menatap Arsa dengan tatapan penuh harap. Dia juga sudah menunggu lama untuk semua ini. Hari ini, dia akhirnya mengumpulkan banyak keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya. Arsa merenung sejenak, lalu menatap Talita dan berkata dengan serius.


"Talita, aku... Menurutku aku tidak layak untukmu. Aku tidak pantas menjadi pacarmu." kata Arsa dengan gugup juga. Beberapa detik kemudian, Talita mengangkat kepalanya dan berkata dengan senyum tegas.


"Aku tahu kalau keluarga aku berada dalam keadaan yang buruk, dan kamu adalah pimpinan Kendi Grub. Dan juga cucu dari Andi Sudiryo, jadi bagaimana aku bisa menjadi pantas untuk kamu? Aku terlalu naif untuk mengatakan hal seperti itu. Maaf jika aku membuat kamu merasa tidak nyaman. " Di akhir kata-kata yang Talita ucapkan, air mata sudah mengalir di sudut matanya, tapi dia tetap memaksakan senyum pada Arsa. Melihat Talita seperti ini, Arsa merasa hatinya seperti diiris pisau. Setelah itu, Talita segera membuka pintu.


"Jangan ganggu aku lagi Tuan Arsa. Kamu yang menyuruh aku pergi. Aku akan pergi sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Dan aku bisa pulang sendiri. Terima kasih. Atas uang yang kamu berikan, aku akan membayar semua uangmu secara bertahap selama sisa hidupku." Setelah Talita mengatakan ini, dia turun dari mobil.


"Talita..." Arsa menahan Talita dengan teriakannya. Tapi, Talita sudah menutup pintu. Arsa segera melepas sabuk pengamannya, membuka pintu, dan keluar dari mobil. Setelah turun dari mobil, Arsa langsung berlari ke samping kursi penumpang. Talita berjongkok di pinggir jalan dan terisak. Dia sudah mencoba yang terbaik untuk tidak menangis, tapi kenyataan yang memaksa air matanya tetap keluar.

__ADS_1


Melihat Talita yang seperti ini, Arsa terdorong untuk bergegas melangkah dan memeluk Talita dengan erat. Namun, Arsa akhirnya gagal melakukannya. Arsa menyukai Talita jauh di dalam lubuk hatinya. Tidak ada keraguan lagi tentang perasaan ini. Tapi Arsa tahu kalau dia sudah memulai hubungan dengan Rita, dan dia mencoba untuk menerima Rita terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, dia harus bertanggung jawab atas Rita. Jika Arsa setuju dan membalas perasaan Talita sekarang, lelaki macam apa dia?


"Talita, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku... Aku ... " Arsa ingin menjelaskan kepada Talita, tapi dia tidak tahu bagaimana memulai untuk menjelaskannya.


__ADS_2