
"Itu kan yang kamu maksud heboh? Maaf, aku juga pernah melihat ribuan orang berkelahi, dan aku juga yang memimpin mereka." Ucap Arsa datar.
"Apa yang kamu katakan? Hanya orang sepertimu tapi bisa memimpin ribuan orang yang sedang berkelahi? Kamu memimpin dalam mimpimu, bukan?" Aldo, lelaki berambut kuning itu mencibir. Rena juga tertawa.
"Om, kamu jangan sering-sering menyombongkan diri di sini, oke? Kakakku sepertinya mempunyai penglihatan yang aneh. Bagaimana Dia bisa menemukan pacar aneh sepertimu." Ucap Rena.
"Kamu yang membual. Ketika Aku sedang mengatakan apapun, aku tidak pernah membual." Arsa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Pria berambut kuning bernama Aldo itu mengabaikan Arsa. Dia berbalik dan terus membual pada Rena.
"Rena, tahukah kamu siapa yang memimpin bar ini? Dia itu kak Aan." Kata Aldo.
"Siapa atasan dari kak Aan ini?" Rena tampak penasaran.
"Atasan dari kak Aan tentu saja adalah Fiko Reliso. Fiko berada di bawah perintah seseoranh. Sekarang di Kota Surabaya, Fiko dan Tuan Wasis sedang bersaing!" Aldo berbicara. Arsa yang sedang minum pun tak bisa menahan senyum ketika mendengar nama Fiko Reliso. Fiko Reliso lah yang mengelola perusahaan Keamanan Kendi untuk Arsa Kenandra.
"Wah sayang, kamu tahu banyak hal ya!" Rena tampak memujanya.
"Aku masih mengetahui bahwa ada seseorang di belakang Fiko bernama Tuan Arsa, yang merupakan Ketua Kendi Grup Kota Surabaya. Dia benar-benar orang di balik semua ini." Aldo berkata dengan bangga. Setelah itu, Dia melanjutkan.
__ADS_1
"Fiko hanyalah anak buah Tuan Arsa! Rata-rata orang tidak mengetahui hal ini, hanya kita yang bergaul di jalan saja yang mengetahui." kata Aldo lagi.
Arsa tersenyum Melihat Aldo yang tampak bangga mengetahui begitu banyak hal.
"Wow... Tuan Arsa? Dia benar-benar pimpinan dari semuanya? " ucap Rena. Dan Aldo pun mengangguk bangga. Ketika Arsa mendengarnya, dia tidak bisa menahan senyum, dan di saat itu iya menyemburkan anggur dari mulutnya.
"Wah, apakah kamu tidak tahu? " kata Alfo lagi pada Rena. Arsa tidak mengira mereka akan membicarakan Dirinya. Aldo dan Rena melihat Arsa tersenyum, jadi mereka mengerutkan kening ke arahnya.
"Kenapa kamu tersenyum? " kata Aldo.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja." Arsa tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Aku sering bertemu Aan, lalu Tuan Fiko dan Tuan Arsa. Aku bisa melihat orang-orang besar itu, di mana pun aku ingin melihat mereka." Kata Aldo.
"Benar, dengan kemampuanmu itu, aku yakin kamu bisa bertemu mereka. Tapi aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku perlukan untuk bisa bertemu mereka. Mereka pasti sangat berpengaruh dan kuat, dan memiliki penampilan yang luar biasa." Rena menantikan untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang disebutkan Aldo tadi.
Arsa merasa lucu karena iya menjadi perbincangan seru anak-anak itu. Iya terdenyum jenaka, seolah-olah geli mendengar lelaki bernama Aldo yang menceritakan dirinya, padahal sekalipun iya belum pernah bertemu.
__ADS_1
"Pria besar yang kamu maksud dan kamu bangga-banggakan ada di depan kamu sekarang, tapi sayangnya kamu tidak mengenalnya." Arsa diam-diam berkata dalam hati seolah sedang mendapatkan hiburan. Setelah itu, Arsa bangkit dan pergi ke toilet ketika dia sedikit tidak nyaman.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, dia langsung berjalan menuju pintu toilet.
"Tuan Arsa!" Sebuah suara terdengar di telinga Arsa. Arsa memandang seorang pemuda berkepala besar dan berambut tidak karu-karuan.
"Tuan Arsa, ini benar-benar Anda. Saya Aan, saya salah satu karyawan perusahaan keamanan Kendi. Saya yang bertanggung jawab di bar ini!" Pria bernama Aan itu berkata sambil tersenyum.
"Apakah kamu orang yang bertanggungjawab atas bar ini? " Arsa mengangguk dengan pasti. Dia baru saja mendengar Aldo menyebut nama Aan.
"Tuan Arsa, Anda bisa memanggil saya Aan." Aan tertawa riang saat mengatakan itu.
"Tuan Arsa, saya datang untuk melihat dan mengontrol situasi di lapangan. Saya bahkan tidak tahu kalau Anda ada di sini. Tuan Arsa, Anda duduk di kursi sebelah yang mana? Saya akan menyuruh seorang gadis terbaik di tempat ini untuk menemani anda. Hal Ini akan menjadi hal kecil yang harus kami lakukan untuk melayanimu." kata Aan lagi.
"Tidak. Aku tidak ingin di duduk di ruangan VVIP, tapi tentu saja aku tidak ingin diganggu." Kata Arsa datar.
"Aku harus ke toilet dulu." ucap Arsa lagi.
__ADS_1
"Baik tuan, silahkan anda ke toilet." kata Aan. Setelah itu, Arsa pun langsung berjalan ke dalam toilet.