
"Lakukan seperti yang kusuruh!" Arsa Kenandra berkata sambil menyipitkan mata.
"Ayo! " Fiko dan Andre mengangguk dan berteriak.
"Ayo, semuanya! " Dengan segera, semua orang dari Perusahaan Keamanan Kendi mengeluarkan tongkat yang mereka bawa di pinggang, mereka bergegas berjalan ke orang-orang Wasis Adiguna.
"Di siang bolong kaya gini? Arsa Kenandra, Apakah kamu tahu konsekuensi apa kalau kita melakukan baku hantam di tempat terbuka seperti ini? " kata Wasis saat dia melihat ini, wajahnya berubah drastis. Jika banyak orang bertarung secara terbuka di waktu seperti ini, konsekuensinya akan sangat berat, yang menjadi pimpinan mereka benar-benar tidak akan ditolerir lagi hukumannya. Wasis tidak menyangka Arsa berani memulai perkelahian secara terbuka.
"Tuan Wasis, apa yang akan kita lakukan?” tanya pria berkepala botak tadi.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan? Semua orang-orang Arsa sudah bergegas, jadi tentu saja, mereka siap bertarung. Kita juga harus siap! " kata Wasis dengan gigi terkatup.
Saat itu, suara alarm tiba-tiba berbunyi. Kedua belah pihak yang hendak saling berhadapan, setelah mendengar suara itu, semuanya berhenti pada saat yang bersamaan. Sebuah mobil SUV dengan alarm bersuara nyaring, dan sebuah mobil Audi berwarna putih, datang perlahan dan tiba-tiba berhenti di panti suhan tersebut. Dari dalam mobil SUV tadi, seorang pria paruh baya turun.
Arsa tahu siapa pria paruh baya ini. Terakhir kali dia memasuki kantor polisi, pria paruh baya inilah yang datang untuk meminta maaf pada dirinya. Arsa ingat kalau nama belakang lelaki paruh baya itu adalah Utomo, dan nama lengkapnya Budi Utomo.
Budi Utomo berlari dengan cepat di depan mobil Audi putih itu dan dengan hormat membuka pintunya. Seorang pria paruh baya berjas, dengan tampang berwibawa, keluar dari mobil.
__ADS_1
"Budi Utomo, berjagalah." Pria paruh baya itu berkata dengan tenang.
"Baik." Budi Utomo mengangguk dengan hormat. Dan setelahnya, iya berlari ke arah Arsa dan Wasis. Arsa tahu kalau jabatan Budi Utomo tidak rendah di Kota Surabaya, tapi dia sangat hormat. Pria paruh baya berjas itu pasti berstatus tinggi. Saat itulah Budi Utomo berlari.
"Kalian semua, apa yang kalian lakukan? Apakah kamu tahu seberapa berat hukuman dan konsekuensi melakukan keributan, apa lagi di siang hari seperti ini? " kata Budi dengan suara lantang.
"Budi, aku tidak ingin melakukan keributan. Dialah yang ingin memulai semuanya, dan ini semua atas inisiatifnya sendiri." Wasis buru-buru menjauhkan diri dari situasi tersebut. Iya tak ingin di salahkan kalau semua sumber masalah ada pada dirinya. Wasis juga melihat pria paruh baya yang bersetelan jas tadi. Wasis yang telah menjadi seorang pimpinan sekelompok pasukan bawah tanah di Kota Surabaya selama lebih dari sepuluh tahun, tentu saja, dia tahu siapa orang itu. Dia juga tahu kalau orang ini adalah orang yang selalu di patuhi di saat berbicara di Kota Surabaya.
Ketika Wasis melihat kalau Budi Utomo dan atasannya telah datang, dia menjadi lebih tenang dan tidak takut lagi. Dia tidak percaya Arsa Kenandra berani menyuruh anak buahnya untuk menyerang secara terbuka di depan pria ini. Itu semua di sebabkan karena dirinya memiliki hubungan dekat dengan pria ini.
Setelah Budi mendengar kata-katanya, dia menatap Arsa.
"Mau bicara dengan baik-baik? biarkan dia menghentikan ekskavatornya terlebih dahulu, lalu kita bisa duduk dan membicarakan berapa yang harus dia bayar ke panti asuhan ini!" kata Arsa dingin.
"Tidak mungkin! Sudah kubilang kan tadi. Kalau Panti Asuhan Kasih Bunda akan dihancurkan hari ini!" Nada suara Wasis bersikeras.
"Jadi, tidak ada cara untuk membicarakannya?" tanya Arsa sekali lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, saudara-saudara, segera lakukan untukku!" Arsa meraung, berteriak dengan keras di hadapan Budi Utomo dan atasannya. Orang-orang di belakang Arsa sudah memegang tongkat dan bersiap untuk melaksanakan perintah dari tuan mudanya.
"Tuan Arsa, pikirkan dua kali! " Budi langsung berkata dengan tegas pada Arsa.
Pada saat itu, pria paruh baya itu datang dan berjalan ke arah Arsa.
"Tuan Arsa Kenandra, beraninya Anda memberikan perintah seperti itu kepada orang-orang Anda di depan kami? Apakah Anda sedang menghina saya? " Pria paruh baya berjas itu menatap Arsa dengan sikap arogan.
"Siapa kamu? Kenapa aku harus menganggap kamu serius? " Kata Arsa mencibir. Iya baru saja melihat pria paruh baya berjas itu memberikan pandangan menyanjung pada Wasis ketika dia baru saja keluar dari mobil. Pria itu mengangguk ke arah Wasis. Arsa sudah bisa menilai kalau pasti ada hubungan tertentu di antara keduanya. Bahkan Arsa curiga kalau Wasis berani menghancurkan panti asuhan itu, karena pria paruh baya berjas itu yang mendukungnya.
"Jadi, aku tidak sopan pada kamu? " Begitu kata-kata Arsa Kenandra keluar, Budi menjadi sangat terkejut. Budi tidak pernah menyangka kalau Arsa berani berbicara dengann atasanya seperti ini. Tidak ada seorang pun di Kota Surabaya yang berani berbicara dengannya seperti itu.
Wasis bahkan lebih tercengang.
"Kenapa dia bersikap seperti ini? " gumam Wasis dalam hati karena terkejut.
"Apakah anda ingin cari mati? " Adapun lelaki paruh baya berjas itu, begitu iya mendengar kata-kata Arsa. Wajahnya langsung menjadi gelap. Tak percaya dengan apa yang Arsa lakukan
__ADS_1
"Tuan Arsa Kenandra, Anda sangat berani. Tidak ada yang berani bicara seperti itu padaku di Kota Surabaya ini!" Pria paruh baya Berjas itu berbicara dengan suara dingin.