
"Tuan Wasis, itu di depan. Tuan bisa melihatnya sendiri." kata seorang pelayan yang baru saja datang. Wasis pun berjalan mengikuti pelayan yang memanggilnya tadi. Setelah berada di depan rumah, Wasis melihat tumpukan kotoran manusia yang menggunung di depannya. Saat itu pula ia menghirup bau yang sangat menyengat. Akhirnya karena tak kuat menahan bau busuk itu, Wasis pun muntah di dekat kotoran tersebut. Sesaat kemudian, di saat Wasis akan bangun dan mengatur nafasnya, bau menyengat yang berasal dari kotoran manusia tersebut benar-benar menusuk hidungnya hingga ia muntah kembali. Dan penderitaan Wasis belum berakhir. Iya terus-terusan merasa muntah tapi tidak bisa mengeluarkan apapun. Hingga perutnya benar-benar terasa sangat sakit. Sedetik kemudian, Wasis hampir pingsan.
"Tuan Wasis, tuaan..." Assistand wasis dan beberapa pengawal buru-buru menahan tubuh Wasis yang hampir tumbang. Dan di saat yang bersamaan pula, akhirnya Wasis mengeluarkan seluruh isi perutnya. wajahnya pun terlihat sangat pucat.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada yang bisa memberitahuku dari mana semua kotoran ini berasal? " Ucap Wasis dengan nada geram. Tidak ada satupun orang yang berada di di sana menjawab pertanyaan kita. Mereka semua merasa ketakutan hingga mereka kesulitan untuk bernapas.
"Apa tidak tahu siapa aku ini di kota Surabaya? Berani-beraninya ada orang yang membuang kotoran di rumahku." gumam Wasis. Ia merasa benar-benar terhina. Wasis pun merasa otoritasnya di kota kelahirannya itu ditantang oleh seseorang.
"Tuan Wasis, kita sudah mengibarkan bendera perlawanan kepada Kendi grup kemarin. Sedangkan hari ini ada banyak kotoran di rumah ini. Menurut dugaan saya, semua ini adalah pekerjaan dari Kendi Group." kata asisten Wasis.
"Iya, benar sekali. Semua ini pasti ulah mereka." kata Wasis dengan jengkel. Prasangka buruk itu jatuh kepada Kendi Grub begitu saja. Karena selama ini tidak ada yang menjadi pesaing beratnya kecuali Kendi grup.
"Sialan sekali Kendi Grup itu, mereka berani membuang kotoran ke Rumahku. Di Kota Surabaya, hanya Kendi grub yang berani memprovokasiku! " Kata Wasis dengan amarah yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Tuan Wasis, kemarin Anda meminta saya untuk menyelidiki siapa pimpinan baru Kendi grup saat ini. Dan ini adalah hasilnya. Saya mendapatkan informasi tentang CEO baru Kendi Group." asisten Tuan Wasis pun memberikan selembar kertas yang berisi informasi tentang Arsa kepada Wasis.
"Arsa Kenandra? Cucu biologis Andi sudiryo? Seorang mahasiswa? " Wasis Adiguna tampak sedikit terkejut ketika melihat informasi tersebut.
"Tuan, saya rasa ide membuang kotoran di rumah ini adalah gagasan Arsa kenandra. Dia berani melakukan semua ini kepadamu karena dia adalah cucu dari Andi sudiryo." kata asisten wasit menjelaskan.
"Dia hanya seorang mahasiswa. Karena dia sudah berani membuang kotoran ini ke rumahku, aku akan membuat perhitungan dengannya." Wasis Adiguna meninju dinding di sebelahnya. Ada kilatan dendam terpancar dari matanya. Seolah dia sudah siap untuk membunuh Arsa.
"Tuan Wasis, apa yang akan kita lakukan? " Assistand Wasis bertanya.
"Tapi, dia adalah cucu dari Andi Sudiryo. Kalau kita benar-benar ingin membunuhnya pasti akan menimbulkan masalah baru. Sedangkan mungkin mereka sudah tahu kalau kita yang sudah membuat kekacauan di perusahaannya. Mereka akan sangat mudah untuk mengetahui pergerakan kita." Kata Asistand itu dengan khawatir. Dia tidak khawatir menyingkirkan Arsa karena sangat mudah bagi Wasis untuk membunuh seseorang di kota Surabaya. Yang dia khawatirkan adalah konsekuensi setelah menyingkirkan anak itu. Dia sangat tahu kalau Andi Sudiryo adalah orang terkaya di Indonesia serta memiliki pengaruh yang sangat besar dan kuat. Kalau sampai Andi Sudiryo marah dan meminta untuk balas dendam, Kejora grub tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.
"Hal ini memang sangat tidak mudah di lakukan. Kalau begitu, suruh beberapa orang untuk merampok dan membunuh anak itu. Jika kita bisa menyiasati kejadian ini dengan kejadian perampokan dan pembunuhan, Andi Sudiryo tidak akan mengira kalau semua itu ada hubungannya dengan kita." Kata Wasis dengan dingin.
__ADS_1
"Tuan Wasis, ide anda memang benar-benar luar biasa." Kata Assistan Wasis sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Beraninya dia melawanku. Dia sudah berani membuang kotoran sebanyak ini ke rumahku, berarti dia ingin mati! " Kata Wasis Adiguna dengan tersneyum.
"Di kota Surabaya, tidak ada orang yang bisa menandingi Tuan Wasis, bahkan kendi Grub sekalipun." Sambung Asisstadnya.
"Kalau begitu, cepat lakukan semuanya. Lakukan dengan baik dan rapi. Aku tidak ingin melihat dia saat matahari terbit besok pagi." Wasis melambaikan tangannya.
"Tuan Wasis percaya saja. Kita pasti berhasil menyingkirkan cecunguk itu." Setelah menjawab, assistand Wasis pun berlalu meninggalkan tuannya. Tapi karena semua pintu terhalang kotoran, dia tidak jadi melangkah. Satu-satunya pintu yang masih bisa di lewati adalah pintu belakang. Di saat assistandnya sudah pergi, Wasis pun menoleh. Dan disaat dia melihat tumpukan kotoran manusia yang menggunung itu, dia muntah lagi karena menghirup bau yang sangat menyengat.
Di belahan kecil kota Surabaya, Dalam ruangan CEO Arsa Kenandra.
"Tuan Arsa, saya sudah menyuruh seseorang untuk meletakkan kotoran manusia di rumah Wasis Adiguna semalam. Dan pagi ini mungkin saja mereka sudah mengetahuinya. Sebanyak 3 ton lebih kita buang ke sana." Kata Fendi.
__ADS_1
"Waah, Wasis pasti sangat jijik melihat ini." Arsa pun tersenyum.