
Ketika Fiko selesai membaca, dia berseru,
"Aap... Apa?" Tangan Fiko Reliso tidak bisa menahan gemetar, dan semua data di tangannya jatuh ke tanah. Saat Fiko menatap Arsa Kenandra lagi, matanya bebar-benar membulat sempurna.
"Fiko, kamu kenapa... Ada apa denganmu? " kata Deka yang saat ini duduk di kursi roda, dia terlihat sangat bingung.
"Ini, ini..." jawab Fiko tergagap sambil menunjuk file yang jatuh itu. Karena data itu baru saja jatuh di depan Deka, Deka pun dengan cepat membungkuk dan mengambilnya. Deka penasaran dan ingin melihat apa yang dilihat Fiko sehingga bisa menimbulkan reaksi yang begitu besar.
Ketika lembaran itu sudah ada di tangan Deka, iya melihat informasi itu. Tak lama setelah membaca, dia pun terbelalak kaget, dan wajahnya seketika berubah menjadi pucat.
"Astaga, cucu Andi Sudiryo." Detik berikutnya, Di saat Deka melihat tulisan di atas kertas tersebut, dia tiba-tiba saja langsung berteriak, dan suaranya terdengar sangat tajam karena kengerian di hatinya. Deka pun yang sangat terstimulasi dengan keterkejutan, tiba-tiba jatuh ke belakang, jatuh ke atas kursi roda lagi, lalu tubuhnya mengalami kejang hebat. Buih putih keluar dari mulutnya.
"Sialan, dia pasti sangat ketakutan setengah mati." gumam Fiko yang melihatnya.
__ADS_1
"Deka ! Deka! " anak buah Fiko yang berada di belakang Deka buru-buru melangkah ke depan dan mengguncangkan tubuh Deka, berusaha untuk membangunkannya.
"Ini... Apa yang terjadi? " Andre yang melihat reaksi Sela, Fiko, dan Deka berubah dengan sangat jelas, merasa sangat bingung. Dia tidak bisa membayangkan apa yang dilihat Fiko dan keduanya. Bahkan Juliana yang merasa bingung pun tidak bisa diam lagi, iya langsung berkata,
"Hal mengerikan apa yang mereka lihat? Orang jahat itu sangat ketakutan sampai mereka bereaksi seperti itu." tanya Juliana dengan bingung.
Arsa tersenyum, lalu menatap Fiko.
"Say, saya... Tentu saja, tentu saja saya percaya. Tuan Arsa, anda bisa memanggilku Fiko, kalau anda memanggil saya Tuan Reliso, maka saya akan merasa tidak sopan." Fiko terpaksa tertawa dan sikapnya berubah menjadi sangat hormat. Kenyataan ini bukanlah candaan. Ini bukan hanya tentang CEO Kendi Grub cabang kota Surabaya. Yang paling membuat Fiko takut adalah identitas lelaki tua bernama Andi Sudiryo. Dan kini yang berada di depannya itu, adalah seseorang dengan identitas sebagai seorang cucu. Orang Ini adalah cucu dari orang terkaya di Surabaya. Bukan hanya di kota Surabaya, bahkan di tiga Provinsi di Indonesia, mereka semua adalah tiga generasi kaya dengan pengaruh yang sangat kuat. Sedangkan Fiko? Dia hanya seorang pimpinan gangster di area kecil di kota Surabya. Tingkatan dari status ini pasti beribu-ribu kilometer jauhnya jika di bandingkan dengan Kendi grub. Sangat mudah bagi orang terkaya untuk menggulingkan popularitas atau bahkan membuat menderita orang kecil seperti Fiko sampai mati. Bukan dengan tindakan, tapi dengan ucapan saja, mampu membuat Fiko hilang dari Kota itu. Maka dari itu, dia tidak berani menyinggung Arsa Kenandra. Sama sekali tidak. Bahkan jika dia mampu membunuh Arsa Kenandra saat ini. Dia tidak akan bisa menanggung balas dendam Tuan Andi Sudiryo. Fiko tidak akan mampu membayar konsekuensi apa yang akan di terimanya.
"Ini... ini... " Karena Fiko tidak boleh menyinggung, dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Andre yang melihat Fiko menundukkan kepalanya ke Arsa, dan bahkan memanggil Arsa dengan sebutan tuan, merasa sangat bingung juga. Badai yang sejak tadi sudah ada di hatinya, kini perlahan berlalu. Namun, pikiran mengerikan muncul di benaknya. Mungkinkah Arsa benar-benar CEO Kendi Grub?
"Tuan Arsa, apa yang terjadi hari ini benar-benar hanyalah kesalah pahaman. Dan hal Itu telah mengganggu kenyamanan tuan Arsa. Saya minta maaf kepada tuan Arsa dan saya akan membawa orang-orang saya pergi dari sini." kata Fiko sambil terus menunduk tak berani menatap Arsa. Arsa mengambil anggur di atas meja, menyesapnya, dan berkata dengan enteng,
__ADS_1
"Salah paham? Ini bukan kesalahpahaman. Jika bukan karena aku ada di sini, saudaraku ini pasti sudah dibunuh oleh orang-orangmu sejak tadi. Sebelum pergi, kau harus memberiku penjelasan." kata Arsa dengan tenang.
Pada saat ini juga, Deka yang sudah sadar dan ketakutan setengah sekali pun merasa hampir mati saat itu juga. Dia sadar dan dibangunkan oleh beberapa anak buahnya, nafasnya terdengar terengah-engah, dan wajahnya tampak pucat.
"Apa yang anda inginkan tuan? " tanya Fiko dengan Hormat.
"Misalnya, lakukan sesuatu untuk dia dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" Arsa menunjuk Deka.
"Apa? " ucap Deka. Setelah mendengar kata-kata Arsa, Deka yang baru saja sadar dari pingsannya, ketakutan lagi, lalu pingsan lagi. Dan mulutnya berbusa lagi.
"Kalian, tinggalkan dia! Dia sudah berani menyinggung Tuan Arsa, dia pantas mendapatkan hukuman! " Fiko melambaikan tangannya kepada anak buah yang hendak membantu Deka. Terlihat dengan jelas, tujuan Fiko melakukan ini adalah untuk mematuhi apa yang di katakan oleh Arsa.
Setelah mendengar kata-kata itu, semua anak buah Fiko mundur dengan patuh dan tidak ada yang berani membantu Deka yang saat ini tak sadarkan diri lagi. Keadaan Deka kali ini terlihat lebih serius, dan dia ditinggalkan begitu saja. Setelah beberapa saat tak ada pergerakan, napasnya benar-benar teratur. Dia pingsan dan tak ada bantuan sama sekali.
__ADS_1