
"Tidak mungkin." Vincent bergumam pada dirinya sendiri. Matanya membelalak tak percaya.
"Bagaimana mungkin dia? " gumamnya masih tak percaya. Vincent mengenali orang di atas panggung yang baru saja bertemu dengannya tadi.
"Tapi... Orang yang seharusnya naik ke atas panggung adalah pimpinan baru Kendi grub. Apa yang dia lakukan di sana? " Vincent tidak bisa percaya dengan apa yang sedang terjadi. Dia benar-benar kaget.
"Itu pasti bukan Ceo barunya. Apa yang dia lakukan disana? " Vincent berbisik pada dirinya sendiri dan tak percaya. Dia benar-benar tidak percaya bahwa orang yang dia sebut sampah beberapa saat tadi adalah CEO baru Kendi Grub.
Sedangkan di kursi belakang. Nina sangat terkejut dan bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
"Bukankah dia adalah Arsa? seorang lelaki yang dikenalkan oleh Adit kepadaku di cafe beberapa hari yang lalu." Nina bergumam sendiri. Bahkan saat Arsa membawa mobil Lamborghini nya, Nina masih saja mencemooh dan memandang rendah karena ia mengira kalau Arsa hanya menyewa Lamborghini tersebut untuk menarik perhatiannya.
"Apakah dia benar-benar CEO Kendi grub yang baru? Tidak! Tidak mungkin!” Nina menggelengkan kepalanya. Dia sangat ingin menyangkal kenyataan yang saat ini di lihatnya.
"Kok dia?" Mata Naira membulat karena terkejut.
"Ini tidak mungkin kan? " Tuan Ardi bergumam bingung melihat siapa yang berdiri di atas panggung.
Kembali ke atas panggung, Suara Fendi kembali terdengar. Sedangkan Arsa telah berdiri tegak di atas panggung.
"Saya ingin memperkenalkan kepada Anda semua... Ini adalah Tuan Muda Arsa Kenandra. Pimpinan baru kendi grub cabang Surabaya. Selanjutnya, saya ingin persilahkan tuan Arsa Kenandra untuk menyampaikan pidato." Fendi, sang General Manager sekaligus pembawa Acara menyampaikan.
Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Ada dentuman suara keras di dalam kepala Vincent. Dia hampir merasakan nyawanya meninggalkan raga. Bagaimana mungkin dia tidak mempercayai apa yang di lihatnya, padahal sebuah kenyataan sudah terucap dari mulut Fendi.
Dia benar-benar pimpinan Kendi Grub. Berakhirlah sudah hidupku.” Ucap Vincent sambil bersandar di kursi dengan tubuhnya yang terasa lemah. Dia ingin waktu kembali berputar dan tidak mengatakan kata-kata kasar yang kepada Arsa.
"Apa yang aku pikirkan waktu itu sehingga mampu berkata serendah itu kepada CEO baru? " Vincent benar-benar menyesal. Namun penyesalannya tiada arti lagi.
Nina menatap Arsa yang berada di atas panggung. Otaknya tiba-tiba saja ngeblank melihat kenyataan yang ada, wanita itu sama sekali tidak bisa percaya dengan keadaan.
__ADS_1
"Kok Arsa yang jadi CEO baru Kendi Grub? " Gumam Nina sangat terkejut.
"Ya Tuhan...! Dia ternyata CEO baru kendi grub." Tuan Ardi tiba-tiba berkata dengan suara yang keras. Dia tidak percaya juga jika pemuda yang baru saja dia ajak bicara tadi adalah seorang CEO baru yang dinantikan semua orang. Dan orang yang sangat ingin dia temui.
Pindah ke arah Naira. Iya tidak bisa mengatakan apa-apa. Kedua tangannya menutupi mulut. Sekarang dia mengerti mengapa Arsa tidak takut sama sekali pada Vincent, karena Arsa Kenandra adalah ketua Kendi Grub yang baru!
Pada saat itu juga, Arsa telah menyelesaikan pidato singkatnya. Setelah itu, sebagai orang yang dinantikan semua orang, dia turun dari panggung untuk bersulang dengan para tamu untuk menyambut antusias mereka semua. Sebagai rasa terima kasih karena mereka semua telah datang. Fendi mengikuti Arsa dan memperkenalkan nama serta informasi orang-orang yang ada di pesta ini kepada Arsa.
Sementara itu, para tamu menyapa Arsa dengan sopan dan hormat. Tak lama kemudian, dia sampai di baris kedua tempat duduk ayah dan anak dari keluarga Vincent. Semua orang dengan cepat berdiri ketika mereka melihat Arsa mendekat.
"Tuan Arsa, ini adalah Beni Adiyaksa, pemegang saham perusahaan kita. Dan di sebelah kirinya ini adalah putranya, Vincent Adiyaksa." Fendi memperkenalkan. Beni mengangkat gelas yang di pegangnya dengan hormat.
"Selamat malam tuan Arsa. Saya Beni Adiyaksa. Saya ingin meminta kepada Tuan Arsa untuk tetap menjaga hubungan ini sampai nanti." Ucap Beni sambil menunduk. Arsa pun tertawa pelan mendengar apa yang di ucapkan oleh Beni.
"Hmmm... Entahlah..." Jawab Arsa sambil menaikkan kedua bahunya.
"Apa maksud anda dengan jawaban itu tuan muda? " Beni tersenyum canggung. Dia tidak tahu mengapa Arsa mengatakan itu. Arsa tidak menjawabnya, tapi malah melirik ke arah Vincent.
"Tuu... Tuan Arsa. Saya..." Vincent terbata-bata. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih, hal yang dia ingat adalah sikap kasarnya terhadap Arsa. Dia telah mengancam Arsa dan merendahkan lelaki did epannya itu.
"Apa? Aku ingin bersulang denganmu. Apa kamu tidak bisa menerima ajakanku?" Arsa mengerutkan keningnya dan menatap wajah Vincent yang terlihat cemas.
" Tidak, tentu saja tidak tuan Muda! Maksud saya, dengan senang hati saya menerima ajakan anda." Vincent buru-buru mengambil gelasnya, tapi karena tangannya gemetar hebat, jadi banyak minuman yang tumpah di atas meja serta di tubuhnya. Setelahnya, iya meminum sisa air di gelas itu. Di samping Vincent, Beni memperhatikan putranya.
"Sepertinya ada yang tidak beres" Gumamnya dalam hati. Tapi dia tidak berani menyela.
Arsa memegang gelasnya dan mencibir. "Vincent, bukankah kamu mengancam akan membunuhku sebelumnya? Sekarang, aku sudah ada di depanmu. Katakan kepadaku bagaimana caranya kamu membunuhku. Aku akan setia mendengarkan." Ucap Arsa dengan nada dingin. Vincent yang mendengarkan hal itu hampir saja tersedak.
"Tuan Arsa! Saya tidak tahu Anda adalah CEO yang baru, jadi saya..." Suara Vincent bergetar, wajahnya terlihat pucat. Bahkan dia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena ketakutan.
__ADS_1
"Jadi, kamu pikir aku lebih rendah darimu. Dan kamu pikir kamu bisa menggertakku sesuka hati kan?" tanya Arsa dengan senyum penuh misteri.
"Kenapa? Apa karena menurutmu orang rendahan seperti yang kamu katakan tadi pantas di bully? Tahukah kamu apa yang paling aku benci? Yang paling aku benci adalah orang-orang yang mem-bully orang lain hanya karena mereka merasa lebih baik?" Tanpa peringatan, Arsa menuangkan air di gelasnya ke kepala Vincent
Tiba-tiba saja, tempat acara menjadi hening. Hanya suara gemericik tetesan air yang bergema di aula hotel itu. Terlihat dengan jelas jika Arsa sudah kehilangan kesabarannya. Jadi tidak ada yang berani menyela.
"Tuan Arsa, tolong maafkan saya! " Ucap Vincent. Saking ketakutannya, dia sampai berlutut di tanah dan memohon belas kasihan. Mungkin saat ini dia sudah menyesali tindakannya.
Melihat hal tersebut, papa Vincent juga buru-buru ikut berlutut. Beni adalah pemegang saham perusahaan. Dia tahu Dengan pasti jika Arsa bukan hanya CEO perusahaan yang baru, tetapi juga cucu dari Andi Sudiryo. Pewaris tahta kerajaan bisnis. Jika Arsa ingin menghancurkan mereka, hanya semudah mencubit semut.
"Tuan Arsa, Vincent mungkin tidak berpikir dengan baik. Saya akan menebus kesalahannya kepada Anda. Mulai sekarang, saya akan lebih disiplin lagi untuk mendidik anak ini." Ucap Beni terlihat memohon. Arsa pun beralih menatap ke lelaki paruh baya itu.
"Jika suatu saat nanti aku mendengar dia menggertak dan merendahkan siapapun, aku akan meminta pertanggungjawaban mu karena perbuatannya. Apakah kamu mengerti apa yang aku katakan? " Arsa berkata dengan tegas.
"Iya... Iya baik Tuan Muda. saya paham." jawab Beni sambil mengangguk. Arsa pun berbalik dan menghadap semua orang yang berada di acara pesta ini.
"Aku akan menegaskan di sini, selama anda semua bekerja sama dengan Kendi grup. Aku melarang kalian semua melakukan tindakan semena-mena. Jika kalian semua punya sikap yang seperti itu, lebih baik katakan kepadaku saat ini juga. Aku akan segera memutuskan hubungan kerjasama kalian dengan Kendi grup. Dan tentunya, aku akan memblacklist kalian dari industri bisnis di Kota Surabaya." ucap Arsa menegaskan kepada semuanya. Dan semua orang yang berada di sana pun hanya diam. tidak ada yang berani berkata sedikitpun.
Ketika Arsa masih kecil, dia sering diintimidasi oleh orang lain. Alasannya di bully adalah karena keluarganya miskin. Mereka menggertak dan memandang orang miskin seperti Arsa tanpa alasan sama sekali. Mungkin untuk menyenangkan hati atau untuk pamer. Jadi, Arsa membenci orang-orang yang kuat tetapi menindas yang lemah. Sekarang setelah Arsa berkuasa, tentu saja, dia harus berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi hal seperti ini.
Ketika Arsa mengatakan itu semua, suasana menjadi sangat sunyi.
"Apa kalian tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan?"
"Jawab aku." tanya Arsa dengan suara dingin. Para bos beserta putra dan putrinya yang hadir hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ketika para bos ini pertama kali melihat Arsa, mereka berpikir bahwa Arsa masih sangat muda, dan pastinya Arsa akan lebih mudah untuk dibodohi. Namun, setelah apa yang baru saja terjadi, tidak ada yang akan berpikir seperti itu lagi.
Saat Arsa mendengar jawaban mereka semua, dia mengangguk puas. Sesaat kemudian, dia menoleh ke arah Vincent yang masih berlutut.
__ADS_1
"Vincent, berhentilah melecehkan dan merendahkan Naira juga. Atau aku akan menghajarmu hingga wajahmu tak berbentuk lagi." Arsa memperingatkan Vincent. Terlihat ada rasa kesal dari sorot matanya yang tajam itu saat mengingat Vincent menindas Naira.