Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Rencana Jahat Lagi


__ADS_3

"Aku ingatkan kamu ya, kamu kehilangan 500 Milyar itu karena kamu kalah taruhan denganku. Kamu harus memberikannya kepadaku tanpa syarat apapun. Dan kamu tidak punya hak untuk mengajukan permintaan atau syarat apapun." kata Arsa dengan tegas.


"Tapi aku yang punya uang. Dan jika kamu menginginkannya, kamu harus menyerahkan tanganku terlebih dahulu! " kata Wasis Adiguna.


"Yah kamu benar. Kamu memang pemilik uang itu. Tapi, asal kamu tahu, aku tidak menginginkan uang itu. Lagipula aku juga tidak membutuhkan uangmu, dan kamu juga tidak akan pernah mendapatkan bantuanku! Selamat tinggal! " Ketika Arsa Kenandra selesai mengatakan semua ini, dia berbalik dan ingin berjalan keluar.


"Berhenti! " tiba-tiba saja beberapa pengawal Wasis Adiguna menghentikan Arsa Kenandra dan Hudoyo. Arsa Kenandra menoleh untuk melihat kenapa dia dan pengawalnya di berhentikan seperti itu. Setelah berbalik ke belakang, iya melihat Wasis Adiguna yang sedang memegang pistol yang sudah di pasang peredam dan di arahkan ke diri nya


"Wasis Adiguna, apakah kamu mau memainkan trik ini lagi? Apa tidak ada cara lain? Sudah kubilang kan terakhir kali saat kamu mencoba untuk menembakku. Jika kamu punya nyali untuk menembak aku, rumah sakit adalah tempat umum, jika kamu membunuhku, Kakek ku bisa dengan mudah mengetahui semua tentang kamu, dan kamu akan tamat! " Arsa Kenandra berkata dengan dingin.


"Anda benar sekali tuan muda kemarin sore, Arsa Kenandra. Aku memang tidak berani membunuhmu di depan umum, tapi, aku berani membunuh pengawalmu itu! " Wasis Adiguna berkata dengan senyuman garangnya. Lalu di arahkan pistolnya ke Hudoyo.


"Serahkan lenganku atau aku akan menembaknya! Aku berjanji, kalau kamu berani melawan sedikitpun, aku pasti bisa melakukannya tanpa ragu! " Wasis Adiguna berkata dengan kejam.


"Baiklah, kalau kamu tidak ragu sedikitpun, tembak sekarang juga! " Kata Arsa Kenandra sambil berdiri di depan Hudoyo dan menggunakan tubuhnya untuk menutupi tubuh Hudoyo. Sekarang jika Wasis Adiguna ingin menembak, peluru itu bisa mengenai Arsa Kenandra, bukan Hudoyo.

__ADS_1


"Kamu!" Otot wajah Wasis Adiguna tiba-tiba mengejang melihat sikap Arsa Kenandra.


"Wasis Adiguna. Tidak masalah jika kamu tidak mau memberikan uang 500 milyar itu, tapi aku pasti akan menyebarkannya menjadi berita heboh dalam sepanjang sejarah hidupmu. Aku ingin semua orang di Kota Surabaya tahu, kalau kamu, Wasis Adiguna adalah penjahat yang tidak boleh kalah dan tidak mau di kalahkan! " kata Arsa Kenandra dingin.


"Kamu! " Wajah Wasis Adiguna berubah drastis. Ada rasa amarah yang meluap dalam jiwanya.


"Hudoyo, ayo kita keluar bersama! " Arsa Kenandra menghalangi Hudoyo dan mundur bersama. Ada dua pengawal yang ingin menghentikan mereka, tapi langsung saja kedua tinju Hudoyo pun mengarah ke mereka hingga mereka tak berdaya lagi. Maka dari itu, pasti tidak ada pengawal lain di tempat tersebut berani memberhentikan mereka berdua? Jadi, Arsa Kenandra meninggalkan bangsal rumah sakit tempat Wasis Adiguna berada bersama Hudoyo. Wasis Adiguna pun masih belum berani menembak sama sekali.


Di lantai bawah rumah sakit. Arsa Kenandra tersenyum menatap Hudoyo.


"Tapi Arsa... Sekalipun dia berani menembak, aku tidak akan pernah takut pada peluru pistol itu. Aku bersyukur karena sudah terlatih sejak dulu untuk menghadapi berbagai macam senjata. Dan satu lagi, kekuatan perluru pistol itu mungkin melukaiku, tapi tidak akan mengancam nyawaku." Kata Hudoyo. Bagi Hudoyo, bahkan jika Wasis Adiguna sangat ingin menembak Arsa Kenandra, dia pasti akan bergegas dan mengambil peluru tersebut untuk menyelamatkan Arsa Kenandra.


"Wasis Adiguna ini pasti ingin membunuh kita berdua, untuk beberapa waktu ke depan, kita harus berhati-hati terhadap segala trik yang dimainkan oleh Wasis Adiguna dan semua anteknya." kata Arsa Kenandra.


"Benar." Hudoyo mengangguk. Adapun nasib lengan Wasis Adiguna. Arsa Kenandra menyuruh Hudoyo untuk memberikan kepada anjing sebagai maknan. Arsa Kenandra tidak akan pernah membiarkan Wasis mengambilnya kembali.

__ADS_1


Pada saat yang sama, Arsa Kenandra memanggil general manager perusahaan, Fendi, salah satunya adalah menyuruh Fendi untuk Waspada, mewaspadai Wasis Adiguna sebagai orang yang buruk hati dan jahat tiada obat. Dan juga iya menyuruh Fendi untuk menyebarkan berita, kalau Wasis Adiguna kalah taruhan. Namun berita yang di sebarkan secara default, dengan suatu bahasa yang mudah di ingat dan d pahami. Sebuah berita yang membuat citra menjijikkan bagi Wasis Adiguna. Yang ketiga, Arsa Kenandra meminta Fendi menemukan cara untuk membeli beberapa eksekutif dari Kejora Grub dengan segala cara. Arsa Kenandra harus menemukan cara untuk melumpuhkan Wasis Adiguna.


Hari kedua di rumah sakit.


"Tuan Wasis, ada berita yang sudah menyebar ke mana-mana. Berita itu mengatakan kalau Anda melanggar janji dan tidak mau kehilangan 500 milyar dalam taruhan dengan pimpinan Kendi grub, karena Anda tidak membayarnya. Bahkan banyak masyarakat awam yang menyebarkannya juga." Seno melapor ke Wasis Adiguna.


"Brengsek!" Wasis Adiguna mengambil cangkir kopi di nakas dekat tempat tidur dan membantingnya ke lantai, otot wajahnya yang marah terlihat bergetar. Dia ingat kalau dirinya telah menderita kerugian besar di tangan Arsa Kenandra berulang kali, dan nafasnya kali ini terlihat tersengal karena amarah yang akan meledak, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengatasi semuanya. Bahkan tangan kirinya pun telah terpotong.


"Seno. kamu yang telah memperkenalkan Panjol. Dia sudah mengacaukan semuanya. Kamu harus memikirkan cara yang efektif untuk menangani anak ini. Jika kamu tidak bisa memahaminya, aku akan memberikan sesuatu yang berharga pula padamu!" Wasis Adiguna berkata dengan kejam. Saat ini dirinya ingin memutilasi Arsa Kenandra menjadi ribuan bagian, menyincangnya dan mengelupas tulang-tulang dari dagingnya.


"Tuan Wasisp, saya benar-benar punya ide! Cara ini benar-benar cukup bagus!" Seno berkata sambil tersenyum. Kemudian, Seno mendekat ke telinga Wasis Adiguna dan berbisik.


"Kita bisa menyewa seorang pembunuh. Nanti di saat sudah berhasil, dalam berita, mereka dibunuh oleh pembunuh. Dan kita bisa memutuskan hubungan." kata Seno dalam bisikannya.


"Pembunuh? Tapi pengawal anak itu sangat baik! " Wasis Adiguna bertanya.

__ADS_1


"Tuan Wasis, mari kita sewa seorang pembunuh yang menggunakan senapan sniper untuk membunuhnya dari jarak jauh. Betapapun kuatnya pengawalnya, percuma! Dia dan pengawalnya akan mati karena tertembak." Seno berkata dengan tersenyum.


__ADS_2