Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Banyak Pengagum


__ADS_3

"Apakah ini tentang pengembangan kawasan yang baru saja kita dapatkan tuan? " tanya Fendi. Iya sudah bisa menebak tugas berat yang aak di letakkan di tangannya itu. Iya berjalan di samping Arsa sambil menunggu jawaban dari sang tuan muda.


"Benar, mulai hari ini, tanah itu akan menjadi proyek utama perusahaan kita. Kita akan menjadikannya tempat paling makmur di kota Surabaya." kata Arsa dengan bangga. Tempat yang berada di tengah kota dan dekat dengan pusat perbelanjaan itu menjadi hadiah yang di berikan oleh kakek Andi kepada Arsa. Karena itulah, hadiah tempat itu menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk Arsa.


"Tuan Arsa, saya akan memastikan proyek ini selesai dengan tepat waktu. Proyek ini bisa menghasilkan keuntungan dari pembangunan sekitar 2 trilyun. Itu baru dari pembangunan, belum lagi atas nama kendi grub. Kalau nama kendi Grup di dengar, keuntungan pasti lebih banyak lagi." kata Fendi terdengar sangat semangat.


"Tapi tuan, proyek yang akan kita jalani ini adalah proyek dengan skala sangat besar. Perusahaan cabang Surabaya belum pernah menjalankan proyek raksasa seperti ini sebelumnya. Maka, proyek ini pasti akan memakan biaya yang sangat banyak pula. Apa kita bisa melaksanakan tanpa tambahan biaya? " kata Fendi tiba-tiba dengan nada khawatir.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk semua ini. Kakek memberiku dana besar yang awalnya akan aku gunakan untuk melumpuhkan Wasis. Tapi karena rencananya berubah. Uang tersebut masih sisa banyak. Aku rasa cukup untuk investasi dalam proyek ini." jawab Arsa.


"Anda mau menyuntikkan dana tuan? " kata Fendi dengan gembira.


"Saya yakin dengan suntikan dana dari tuan muda di tambah dengan alokasi modal ini, saya yakin proyek ini akan berjalan dengan lancar. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik." kata Fendi.


"Tapi, kamu harus berjanji kepadaku. Kalau kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Keselamatanmu jauh lebih penting dari ini. Jangan biarkan Wasis menyusahkan kita lagi. Karena aku yakin, Wasis tidak akan tinggal diam setelah semua ini." kata Arsa dengan serius.

__ADS_1


"Tentu saja tuan. Wasis kehilangan banyak uang hari ini. Saya juga yakin Wasis akan melakukan segala macam cara untuk membalas kita. Tuan, anda sendiri juga harus berhati-hati. Saya akan mengatur pengawalan untuk anda." kata Fendi yang juga merasa khawatir. Dengan di ketahuinya temperament Wasis yang seperti itu, dia pasti akan membalas dendam atas kekalahannya ini. 


"Kamu jangan khawatir dengan aku. Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Kamu butuh pengawal untuk melindungimu." jawab Arsa. Arsa sudah memiliki Hudoyo yang akan melindunginya secara diam-diam. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sambil berbincang, Arsa dan Fendi naik lift menuju ke hotel lantai 1. Begitu pintu lift terbuka, Arsa melihat ada lebih dari sepuluh atau dua puluh bos yang berkumpul di sana. Begitu Arsa muncul, para bos ini langsung mengerumuninya.


"Tuan Arsa, saya Roni dari PG grup. Ini kartu nama saya."


"Tuan Arsa, saya Niko dari KGC grup. Ini kartu nama saya." para bos tersebut dengan hormat memberikan kartu nama mereka kepada Arsa. Mereka semua ada di ruangan lelang bersama Arsa sebelumnya. Mereka telah melihat keberanian dan kebijaksanaan Arsa saat ada di pelelangan tadi, dan mereka tahu kalau Arsa adalah cucu dari Andi Sudiryo, jadi mereka ingin berteman dan mengenal Arsa.


"Fendi, terimalah kartu nama itu semua." kata Arsa dengan enteng.


"Tuan, saya merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda semua. Saya berharap kita bisa bekerja sama dengan Anda di masa mendatang." kata Arsa kepada semua yang ada di sana. Dia bersikap biasa saja. Setelah itu, iya berbalik dan berjalan keluar dari hotel.


"Meskipun tuan muda ini berusia kurang dari dua puluh tahun, dia tidak sombong dan memiliki sikap yang baik terhadap orang lain. Dia tidak terlihat seperti anak orang kaya yang manja." kata seseorang setelah Arsa pergi.


"Iya, sungguh luar biasa tuan muda itu, sebagai bagian dari tiga orang kaya teratas di kota Surabaya, dia tidak menggunakan merek-merek terkenal." sahut seseorang di sampingnya. 

__ADS_1


"Orang ini akan menjadi pebisnis hebat di masa depan." gumam seseorang lagi.


"Aku harus mendidik anak-anak saya dengan baik seperti tuan Arsa. Aku sudah belajar dari tuan Arsa sebagai orang kaya hari inj." sahut seseorang lagi. Semua orang melihat kepergian Arsa, mereka semua merasa kagum pada pemuda itu. 


Tempat parkir hotel. 


"Tuan Arsa." Saat Arsa hendak masuk ke dalam mobil, sebuah suara terdengar dari belakang. Arsa menoleh dan melihat sumber suara itu. Ternyata berasal dari seorang pria paruh baya dengan kepala botak. 


"Hah... Iya, siapa ya? " kata Arsa bertanya pada diri sendiri.


"Selamat siang tuan muda. Nama saya Adi. Saya perwakilan dari restoran ini. Ini adalah kartu nama saya." kata Pria berkepala botak itu dengan senyum di wajahnya. Iya menawarkan kartu namanya dengan kedua tangan. 


"Kamu cukup pintar. Yang lain menungguku di depan lift. Kamu menungguku di sini sendirian" kata Arsa dengan tenang. 


"Kalau saya tidak bertemu dengan tuan Arsa sendirian seperti ini, bagaimana saya bisa membuat tuan muda mengingat saya? " Pria berkepala botak itu tertawa renyah. Arsa yang melihat kartu nama itu, iya langsung bisa tahu kalau pria paruh baya di depannya itu adalah ayah dari Andika.

__ADS_1


"Tuan Arsa, kalau misalnya anda membutuhkan saya di lain hari, anda bisa menghubungi saya. Di kartu nama saya itu ada nomor pribadi saya. Anda bisa menghubungi saya full 24 jam." kata Lelaki yang di ketahui Arsa adalah ayah dari Andika.


__ADS_2