
Mereka semua pada dasarnya merasa iri. Tapi karena mereka menyadari kemampuan perusahaannya sendiri, mereka hanya bisa diam. Lagian mereka juga tidak mampu mengembangkan proyek sebesar itu. Tapi, tidak dengan Wasis Adiguna.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa aku tidak mendapatkan berita ini sama sekali? " Geram Wasis dengan marah. Jika misalnya saja dia tahu kalau tanah ini sudah tidak di larang lagi, dia akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan tanah itu untuk mendapatkannya, bahkan jika harus mendapatkannya dengan harga yang sangat mahal, karena tanah itu nilainya sangat besar. Prospek ke depannya juga sangat bagus. Namun ternyata, tanah yang sangat berharga ini dengan mudah didapatkan oleh Arsa hanya dengan harga 500 milyar.
"Kamu bajingan!" Berdasarkan apa yang dilihatnya saat ini ini, tidak diragukan lagi kalau Arsa adalah pemenang utama dari lelang hari ini.
"Tuan Wasis, apa yang Anda banggakan? Tanah yang saya dapatkan jauh lebih baik daripada dua tanah yang anda ambil kan? Anda dengan mati-matian berusaha untuk mendapatkannya. Sedangkan Saya juga hanya menghabiskan 500 Milyar lebih sedikit, tapi Anda menghabiskan 900 miliar lebih." kata Arsa sambil tersenyum. Tubuh Wasis pun bergetar karena marah lagi. Wajahnya sedikit membiru, dan iya merasa seluruh tubuhnya akan meledak karena amarah yang sudah tidak mampu di tahannya lagi.
"Kamu mau tahu kenapa kan? Baik, akan aku beritahu. Yang sebenarnya terjadi adalah, pemerintah kota Surabaya sebenarnya melarang kita semua mengelola tanah ini." kata Arsa sambil tersenyum. Setelah mengatakan ini, ekspresi Arsa berubah. Iya terlihat sangat misterius.
"Tapi di bawah perintah kakek saya, Andi Sudiryo, larangan itu langsung dicabut."
__ADS_1
"Selain itu, berita itu diblokir oleh kakek dan pemerintahan kota Surabaya. Tidak ada seorang pun di Kota Surabaya yang mengetahuinya karena memang tidak ada pemberitaan. Hingga saya bisa dengan mudah mengambil tanah ini dan mengembangkannya menjadi sebuah tempat terbaik. Aku bisa dengan mudah mendapatkannya tanpa ada gangguan sedikitpun." kata Arsa tersenyum.
"Ternyata seperti itu." kata Alberto yang langsung mengangguk dengan otak yang penuh dengan kesadaran. Sebagai direktur Biro Pertanahan dan Sumber Daya Alam kota Surabaya, iya sangat mengetahui bagaimana keadaan tersebut. Jika larangan atas tanah itu dicabut, ia akan menjadi orang pertama yang menerima berita dari kota Surabaya. Tapi dia tidak menerima kabar apa pun, jadi dia menyadari saat ini kalau kakek Arsa, tuan Andi Sudiryo, yang sudah membuat semuanya tetap tenang tanpa ada berita sedikitpun.
Dengan adanya kejadian ini, semua orang yang hadir di sana dapat memahami kalau kakek Arsa yang bernama Andi Sudiryo itu sangat cakap. Melakukan hal yang sangat luar biasa tanpa berkoar-koar. Sehingga mereka semua semakin merasa takut pada Arsa. Mereka mengerti dan paham kalau orang ini pasti memiliki kepribadian yang sangat menakutkan. Mereka tidak boleh membuatnya marah. Bahkan Alberto pun memutuskan secara dalam hatinya, kalau dia tidak boleh menyinggung Arsa sedikitpun. Sebaliknya, dia harus bekerja keras untuk bisa berteman baik dengannya.
Wajah Wasis yang langsung berubah menjadi lebih pucat setelah mendengar penjelasan Arsa.
"Wasis, apakah kamu yakin ingin melawan kendi Grup? Jangan bodoh! Bagaimana pun juga, kekuatan dan pengaruh kakekku tidak bisa kamu anggap remeh. Ingat, jika kamu melawan kendi Grup lagi, maka kamu akan menemui jalan buntu. Hidupmu akan menemui kesengsaraan." kata demi kata Arsa ucapkan dengan nada tajam.
"Fendi, ayo!" kata Arsa. Setelah itu pun Arsa keluar dari ruangan tersebut bersama Fendi.
__ADS_1
"Bajingan... Aku sangat membencimu." kata Wasis sambil menggebrak meja, iya berteriak ke arah Arsa pergi. Karena gebrakannya, beberapa gelas ikut bergetar. Melihat kemarahan Wasis, para bos yang duduk di sana semuanya pucat karena ketakutan. Arsa berjalan keluar dari restoran tersebut.
"Tuan, saya sangat senang melihat Wasis yang sangat marah hari ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa." kata Fendi dengan penuh semangat.
"Dia yang meminta semua hal ini terjadi. Dia sudah berani melakukan hal-hal di luar batas. Aku yakin kalau dia melakukannya lagi, pasti aku tidak akan diam, serta akan membuatnya mendapat masalah yang lebih dari ini." kata Arsa sambil tersenyum.
"Tuan Arsa, Anda benar-benar luar biasa. Mampu membuat Wasis marah seperti itu, sungguh luar biasa. Saya mengagumi keberanian dan kebijaksanaan Anda tuan muda." puji Fendi. Setelah semua kejadian di acara hari ini, dia semakin mengagumi Arsa. Dirinya semakin yakin bahwa Arsa memiliki kemampuan untuk membawa Kendi Group cabang Surabaya ke ketinggian di atas sebelumnya.
"Tanah ini akan menjadi sumber penghasilan yang begitu besar. Karena tidak ada larangan lagi, tanah itu sudah resmi menjadi milik kendi Grub. Saya merasa masih seperti mimpi." kata Fendi masih tak percaya. Dia tentu sangat tahu betapa berharganya kawasan itu.
"Bersiaplah, lain kali aku akan memberi kamu tugas yang sangat sulit." kata Arsa yang berhenti dan menatap Fendi.
__ADS_1
"Apakah ini tentang pengembangan kawasan yang baru saja kita dapatkan tuan? " tanya Fendi. Iya sudah bisa menebak tugas berat yang aak di letakkan di tangannya itu. Iya berjalan di samping Arsa sambil menunggu jawaban dari sang tuan muda.