Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Keresahan


__ADS_3

Setelah surat perjanjian ditandatangani, senyum tak terlihat muncul di bibir Arsa.


"Ayo pergi!" di lapangan basket SMK Surabaya, Arsa dan teman-temannya berbalik dan pergi. Arsa telah mengeluarkan tantangan ke Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya, dan tantangan itu telah di beritakan melalui postingan oleh Adit agar semua orang datang tepat waktu besok. Karena pertandingan sebelumnya telah membuat para mahasiswa Universitas Kota Surabaya dipermalukan, saat postingan ini keluar, hal itu kembali menjadi perbincangan hangat semua orang. Mereka semua bertanya apakah ada cara untuk pihak kampus, terutama tim basket, untuk memenangkan pertandingan dengan SMK Surabaya. Ada banyak rumor beredar di postingan yang berada di akun media sosial kampus, dan semua mahasiswa meratapi serta menghawatirkan hasil pertandingan keesokan harinya.


Mereka berfikir, pasti akan sama dengan yang terjadi tempo hari. Sudah jelas kalau tim Universitas Kota Surabaya tidak akan mampu mengalahkan tim Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya.


Bahkan sangat sedikit orang yang secara anonim menyalahkan Arsa. Mereka mengatakan kepada Arsa kalau Universitas Kota Surabaya tidak dapat mengalahkan Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya, tapi dia masih meminta korek api dan menyulut api peperangan. Tentu saja, ada juga mahasiswa yang percaya kalau Arsa punya cara sendiri untuk membuat menang tim Universitas.


Adit, Arsa dan yang lain meminta semua mahasiswa untuk menunggu sampai pertandingan besok itu selesai, sebelum mereka menghakiminya.


Pada siang hari berikutnya, di lapangan basket Universitas Kota Surabaya, mahasiswa dari Universitas Kota Surabaya terus berkumpul. Saat itu sekitar tiga ribu mahasiswa sudah berkumpul dan masih ada mahasiswa yang masih terus berdatangan. Banyak mahasiswa datang untuk menonton pertandingan, lagipula pertandingan hari itu lebih dari sekedar pertandingan bola basket biasa. Pertandingan itu adalah kebanggaan seluruh mahasiswa Universitas Kota Surabaya. Ditantang dan dihina sehari sebelum nya, menyebabkan para mahasiswa Universitas Kota Surabaya merasa kasihan pada diri mereka sendiri, jadi semua orang berharap untuk mendapatkan kembali harga diri mereka yang hilang pada permainan hari itu.


"Tuan Arsa sudah datang! " Arsa, Adit dan seluruh anggota tim basket Kota universitas Surabaya juga tampil di lapangan basket saat itu. Kehadiran Arsa membuat kerumunan siswa menjadi heboh. Meskipun beberapa orang di komentar secara tidak langsung mengatakan sesuatu yang buruk tentang Arsa, pada kenyataannya, sama sekali tidak ada mahasiswa dari Universitas Kota Surabaya yang berani mendatangi Arsa dan memarahinya tepat di depan muka.


Di lapangan basket, Adit bertanya.


"Arsa, kok member Tim Handal belum datang?" tanya Adit.


"Iya, itu juga yang mau kami pertanyakan." Para pemain yang lain juga melihat ke arah Arsa.

__ADS_1


"Aku baru saja menelepon mereka. Pesawatnya terlambat terbang, jadi mereka akan tiba agak terlambat. Tapi jangan khawatir, mereka sudah tiba di Kota Surabaya kok sekarang. Mereka akan segera datang ke kampus sebentar lagi." Kata Arsa dengan tenang. Ketika Adit mendengar kata-kata Arsa, hatinya menjadi tenang sepenuhnya.


"Lihat, Adesta dan timnya dari SMK Kota Surabaya juga sudah ada di sini! " teriak salah satu orang di kerumunan para penonton tiba-tiba. Arsa dan Adit menoleh dan melihat Adesta sekilas. Adesta memimpin lebih dari 12 pemain ke lapangan basket dengan ekspresi arogan.


Lebih dari 3.000 mahasiswa Universitas Kota Surabaya di lapangan wajahya menjadi merah ketika mereka melihat Adesta. Mereka ingin buru-buru menghajar Adesta tapi tidak ada yang berani melakukannya.


Setelah Adesta memasuki lapangan, dia melihat sekeliling, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Oh. Pertarungan hari ini sepertinya sangat besar karena banyak orang datang. Mungkin mereka semua ingin menyaksikan bagaimana Universitas Kota Surabaya akan gagal lagi?" Adesta mengatakan ini, lebih dari tiga ribu siswa yang menonton mendengarkan. Tiba-tiba, kemarahan mereka meningkat drastis.


"Kurang ajar, Adesta itu sombong sekali!" "Ya, aku sangat berharap Arsa punya cara untuk memberi pelajaran pada Adesta!" kata seorang mahasiswa yang kini menjadi penonton.


"Adesta, anak ini hanya mencoba untuk pamer. Kalau para pemain Tim Handal mereka undang!" kata Salah satu teman Adesta.


"Kenapa harus terburu-buru? Pesawat mereka terlambat," kata Arsa dengan enteng. Mendengar apa yang di katakan oleh Arsa, teman Adesta yang lain dari Sekolah Menengah Kejuruan Kota Surabaya juga mencibir.


" Pesawatnya terlambat? " Adesta dan yang lainnya tertawa.


"Kamu benar-benar tahu bagaimana mengarang alasan, tapi sayang sekali kamu tidak bisa melakukannya dengan benar." Adesta tertawa setelah mengataknnya.

__ADS_1


Setelah itu, Adesta mengubah kata-katanya.


"Oke, mari kita berhenti bicara omong kosong. Apa pun alasanmu, kamu harus ikut bermain jika tidak ada yang datang. Ayo kita mulai permainan. Aku akan membuatmu kalah lebih buruk dari yang terakhir kali pertandingan yang kita lakukan!" kata Adesta yang sudah tak sabaran.


"Kenapa harus terburu-buru sih? Kita kan sudah sepakat kalau permainannya jam satu siang. Ini baru jam 12:40 dan masih ada dua puluh menit lagi." kata Arsa.


"Apakah kamu ingin menunda penghinaan mu? Oke, aku akan menunggu sampai jam 1. Aku ingin melihat trik apa yang akan kamu coba lakukan lagi. Setelah jam 1, jika kamu tidak memulai permainan, berarti kamu sudah menyerah secara otomatis!" kata Adesta dengan bangga.


"Arsa, apakah mereka benar-benar akan tiba? " Adit mencondongkan tubuh ke arah Arsa dan bertanya dengan suara pelan penuh kehawatiran. Rekan satu tim Adit juga memandang Arsa dengan khawatir.


"Tenang dan tunggu saja." kata Arsa dengan tenang. Arsa tidak tahu jam berapa mereka akan tiba tetapi pada saat itu, tidak ada cara lain selain menunggu dan bersikap tenang, agar tidak membuat konsentrasi bubar.


Selama menunggu, mahasiswa Universitas Surabaya yang menjadi penonton terlihat resah dan cemas.


"Apa yang terjadi, permainan belum dimulai juga." kata seorang mahasiswa.


"Kelihatannya, kita tidak memiliki peluang untuk menang sama sekali." sahut yang lain.


"Aku hanya bisa mengharapkan keajaiban terjadi." Waktu berlalu dan saat ni waktu sudah menunjukkan jam satu siang, tapi Tim Handal masih belum juga muncul.

__ADS_1


__ADS_2