Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kedatangan Fiko


__ADS_3

Arsa Kenandra melirik dengan saksama, dan melihat dengan jelas ada sekitar 70-80 orang di belakang lelaki yang bernama Fiko. Dia juga melihat Deka, lelaki yang bersikap sombong yang tadi di pukuli oleh Hudoyo atas perintahnya. Lelaki itu duduk di atas kursi roda dan di dorong oleh seseorang.


"Sudahlah, semua akan berakhir hari ini! Aku tidak punya kesempatan untuk pergi sekarang!" Andre Rama merosot dari atas sofa, wajahnya penuh keputusasaan.


"Aku tidak takut mati, tapi... Tapi aku tidak ingin adikku di lecehkankan oleh bajingan ini!" kata Andre putus asa. Dia tahu betul, kalau sampai saudara perempuannya jatuh ke tangan pria ini, maka betapa serius beban yang akan di hadapinya.


Fiko, pria botak dengan popularitasnya di tempat itu, iya berdiri di barisan paling depan memimpin sekitar 70 - 80 an orang menuju ke tempat di mana adiknya tadi di pukuli dengan perangai yang luar biasa arogan.


"Sela, matikan musiknya dulu. Nyalakan lampu depan! " Fiko dengan wajah garangnya memberi perintah pada Sela. Tentu saja Sela tidak berani melawan dan langsung menyuruh orang-orang yang menjadi bawahannya mematikan musik di bar lalu menyalakan lampu. Bar itu yang semula remang-remang, tiba-tiba lampu menyala dengan begitu terang. Begitu musik di matikan, seluruh pengunjung sebenarnya ingin segera pergi saja. Tapi, karena mereka melihat kedatangan Fiko dan semua anak buahnya, mereka semua tidak jadi keluar. Mereka hanya bisa terdiam di tempat tanpa berani berkata sepatah katakapun. Karena mereka tahu siapa lelaki yang menjadi pimpinan dari sekelompok orang yang baru datang lagi. Suasana di bar itu pun menjadi sangat hening. Sepi seperti tak berpenghuni.


Di saat yang sama, Sela diam-diam berkata dalam hati.


"Aku sudah meminta dia untuk mendengarkan saranku tadi. Sekarang Fiko sudah ada di sini, mari kita lihat apa yang bisa dia lakukan." gumma Sela dalam hati.

__ADS_1


"Kosongkan Barnya. pastikan semua orang yang ada di sini, segera keluar sekarang juga! " kata Fiko dengan suara lantang. Suaranya bergema di seluruh penjuru bar. Tanpa ada yang berani menentang, mereka semua keluar dengan patuh. Setelah itu, Fiko membawa semua orang-orangnya dan langsung menuju ke tempat di mana Arsa berada .


"Apa yang harus kita lakukan? " Juliana berkata dengan wajah yang memucat karena ketakutan, tampaknya iya sangat ketakutan oleh kedatangan segerombol orang yang di pimpin oleh Fiko tadi.


"Arsa, kenapa kamu tidak membawa adikku pergi sekarang juga, aku akan tetap ada di sini untuk menghalangi mereka." Andre menggertakkan giginya.


"Kamu menghalangi mereka? Andre, bisakah kamu mencegah begitu banyak orang sendirian?" kata Arsa.


"Sudah pasti aku tidak bisa menghentikannya, tapi sekarang sudah tidak ada jalan lain! " Andre berdiri untuk menghalangi orang-orang itu.


Saat ini, Fiko dan anak buahnya telah berada di mana Arsa dan Andre duduk.


"Kepung mereka! Jangan biarkan mereka lari! " Fiko memberi perintah. Sekitar 80an orang laki-laki berbadan besar dan berbaju hitam itu segera mengepung keempat orang termasuk Arsa yang sedang duduk di sofa. Andre dan Juliana terlihat sangat pucat karena takut. Tapi tidak dengan Arsa dan Hudoyo,k yang terlihat sangat tenang.

__ADS_1


"Fiko, anak ini, dia yang memerintahkan agar kakiku dipatahkan." lelaki bernama Deka itu menunjuk ke arah Arsa. Pada saat yang sama, Deka pun tersenyum penuh kemenangan.


"Hei bocah, aku tadi sudah mengatakan, kalau kamu berani memukulku, kamu pasti akan mati. Dan sekarang adalah hari terakhir!" Saat ini Arsa masih bersandar di sofa, dengan kaki di tumpuk di atas kaki lain. Juga tampang santai dan puas, tanpa ada rasa panik sedikit pun.


"Wah, kamu gila ya, melihat begitu banyak orang dari kita semua, kamu masih bisa bersikap begitu tenang, aku tidak tahu siapa kamu." Fiko menatap Arsa dengan sedikit heran.


"Kamu, Fiko Reliso kan? Oke, kalau begitu aku akan memperkenalkan diri. Namaku Arsa Kenandra, CEO Kendi Grub cabang kota Surabaya" kata Arsa dengan enteng. Arsa langsung membeberkan identitasnya.


"Apa? Kamu bilang kalau kamu itu adalah CEO Kendi Grub?" Fiko terkejut. Andre dan Juliana pun juga tampak sangat kaget saat mendengar berita ini.


"Fiko, anak ini terlihat sangat gembel, bagaimana mungkin dia bisa menjadi CEO Kendi Grub, kalau dia adalah penjaga gerbang Kendi Grub, aku akan percaya!" kata Deka dengan suara mencibir.


"Konyol sekali, bocah ini bahkan tidak melihat seperti apa tampangnya. Tapi berani berpura-pura menjadi CEO Kendi Grub." laki-laki yang berdiri di belakang Fiko juga ikut mencibir.

__ADS_1


"Apakah ini hanya caranya untuk menyelamatkan diri, jadi dia mengaku sebagai CEO Kendi Grub?" kata Andre dalam hati, iya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengggelengkan kepalanya. Dia adalah teman SMP Arsa, bisa dibilang dia mengerti bagaimana seluk beluk keluarga Arsa, bagaimana dia akan bisa percaya kalau Arsa adalah CEO dari sebuah perusahaan terbesar. Andre berfikir seperti yang pertama tadi. Kalau Arsa berpura-pura untuk menyelamatkan diri.


__ADS_2