
"Tuan Wasis, kamu tidak bisa membunuhku, ini aku Panjol. Kalau kamu berani mendorongku saja, aku bisa membunuhmu sekarang juga." Kata si Panjol dengan dingin. Wajah Wasis Adiguna berubah saat mendengar kata-kata itu. Setelah mengatakan ini, Panjol langsung berbalik dan pergi. Sudah jelas iya tidak bisa menjadi anak buah Wasis Adiguna, iya harus pergi dan siap untuk terus berkembang di kota lain. Wasis Adiguna tahu bahwa Panjol itu sangat kuat, jadi dia pun tidak berani menghentikannya dan hanya membiarkannya pergi.
Setelah Arsa Kenandra dan Hudoyo meninggalkan tempat pertarungan bawah tanah, mereka langsung pergi ke rumah sakit. Keadaan Tiger yang kini hidup atau mati, benar-benar mempengaruhi hati keduanya. Meskipun Arsa Kenandra tahu kalau Tiger hampir tak bisa di selamatkan, Arsa Kenandra masih memiliki keberuntungan dan harapan. Meski Arsa Kenandra dan Tiger belum lama saling kenal. Namun dia sudaj berjanji akan membawanya keluar dari dunia bawah tanah dan memberinya kehidupan baru. Dan Tiger dikalahkan seperti itu karena bermain untuk dirinya.
Di luar ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit, Arsa Kenandra dan Hudoyo menunggu dengan cemas. Setelah empat jam penyelamatan, dokter akhirnya keluar dari ruang yang terlihat menyeramkan tersebut.
"Bagaimana keadaannya Dokter? " Arsa Kenandra segera berdiri dan bertanya. Dokter menggelengkan kepalanya.
"Meskipun nyawanya masih bisa terselamatkan, tapi otaknya terkena dampak yang parah, kapan dia bisa bangun, hanya bergantung pada keajaiban dalam hidupnya. Dan bahkan jika dia bangun, kemungkinan besar, dia tidaka akan bisa apa-apa." jawab Dokter." Arsa Kenandra tidak tahu apakah ini Berita baik atau berita buruk. Kalau kabar baiknya, setidaknya nyawa Tiger terselamatkan. Kalau kabar buruk, Tiger sudah jadi manusia cacat.
"Arsa, dengan adanya harapan, setidaknya lebih baik daripada tidak ada harapan sama sekali," Hudoyo menghibur.
"Kamu benar." Arsa Kenandra mengangguk. Kemudian, Arsa Kenandra memandang seorang pria paruh baya di sebelahnya. Dia dikirim oleh klub tinju bawah tanah. Bagaimanapun juga, Tiger berasal dari klub tinju bawah tanah.
__ADS_1
"Tiger masih menjadi bangsamu sekarang. Apa yang akan kamu lakukan dengannya? " tanya Arsa Kenandra.
"Tuan Arsa, kami tidak peduli dengan Tiger. Kalau anda mau merawatnya, kami akan menjualnya kepada anda dengan harga murah, 10 juta saja." Kata pria itu. Pria itu baru saja mendengar bahwa Tiger telah menjadi orang yang tak berguna, dan jika mereka terus bertanggung jawab terhadapnya, mereka harus menanggung biaya harian untuk tinggal di rumah sakit. Dan dalam kasus Tiger, bahkan jika dia bangun, dia tidak akan ada gunanya di masa depan. Tinju bawah tanah tentu saja tidak mau menyia-nyiakannya, lebih baik ada yang mengambil petarungnya, dan pada akhirnya bisa mendapat untung, walaupun sedikit.
"Baiklah, 10 juta. Aku akan menebusnya. Saya akan menjaganya." Arsa Kenandra merespons secara langsung. Arsa Kenandra segera mentransfer 10 juta rupiah ke rekening klub tinju bawah tanah, dan kemudian mengatur ruangan rumah sakit, unit perawatan intensif untuk Tiger, ditambah pengasuh terbaik. Pengeluaran ini mungkin merupakan biaya yang mahal bagi orang awam. Namun bagi Arsa Kenandra, itu bukan apa-apa. Faktanya, dalam kasus Tiger, majikan lain tidak akan pernah peduli pada Tiger, namun Arsa Kenandra tidak akan pernah melakukan hal itu, jika tidak, Arsa Kenandra akan memandang rendah dirinya sendiri.
Begitu Arsa Kenandra membayar biaya dan berjalan ke pintu rumah sakit, seseorang menghentikan Arsa Kenandra. Dia melihat dengan penuh perhatian dan melihat kalau itu adalah Seno, Assistand dari Wasis Adiguna.
"Tuan Wasis telah menyiapkan 500 milyar, dan Tuan Wasis sedang berada di rumah sakit ini juga saat ini, dan dia ingin memberikan uang tersebut kepada Anda secara pribadi." Kata Seno.
"Kenapa dia bersikap sangat baik? Apakah dia akan memberikan uang itu secepat ini? Ini bukan jebakan untuk aku saat bertemu dengannya bukan?" Arsa Kenandra mencibir. Iya berfikir, Apakah benar Wasis Adiguna berinisiatif memberikan uang itu kepada dirinya secara langsung? Arsa Kenandra tidak percaya begitu saja, tentunya, dalam hati iya memiliki sedikit kekhawatiran.
"Kok bisa jadi jebakan? Tuan Wasis hanya mau memberikan uang itu secara langsung ke Anda." kata Seno seolah meyakinkan.
__ADS_1
"Arsa, jangan takut... Aku akan bersamamu. Percayakan semuanya padaku!" Kata Hudoyo. Arsa Kenandra mengangguk saat mendengar apa yang di katakan oleh Hudoyo.
"Baiklah, aku akan pergi bersamamu untuk menemuinya." kata Arsa. Akhirnya, mereka berdua setuju untuk pergi ke ruangan tempat Wasis Adiguna berada. Dipimpin oleh Seno yang berjalan di depan, keduanya datang ke sebuah kamar rawat dengan berbagai perawatan yang memadai.
Setelah masuk, Arsa melihat Wasis Adiguna yang sedang duduk di ranjang rumah sakitnya, lengan kirinya telah di perban, dan ada lebih dari 10 pengawal berkulit hitam di ruangan tersebut.
"Wasis Adiguna, aku dengar kamu akan memberiku 500 Milyar itu secara langsung. Ceapt berikan secepatnya. Aku terlalu sibuk untuk terus bercanda denganmu." Arsa Kenandra berjalan ke arah tempat tidur Wasis Adiguna. Wasis Adiguna menahan amarahnya dan berkata.
"Uangnya sudah aku siapkan, tapi tidak semudah itu aku akan langsung memberikannya padamu. Aku ada permintaan. Kalau kamu mau uanh 500 milyar itu, kembalikan lenganku." kata Wasis Adiguna.
"Aku sedang memikirkan lenganmu mau aku apakan." Arsa Kenandra melanjutkan sambil mencibir. Iya mencibir karena menyadari kalau Wasis Adiguna berusaha meminta lengannya kembali dan menukar dengan uang taruhan itu.
"Aku ingatkan kan ya, kamu kehilangan 500 Milyar itu karena kamu kalah taruhan denganku. Kamu harus memberikannya kepadaku tanpa syarat apapun. Dan kamu tidak punya hak untuk mengajukan permintaan atau syarat apapun." kata Arsa dengan tegas.
__ADS_1