
"Roni, menurutku, kamulah yang ingin mati. Di saat sudah seperti ini juga, kamu masih berani bersikap bossy! " Arsa memandang Roni dengan murung karena tidak suka sambil berkata. Wajah Roni tiba-tiba menjadi pucat. Dia terbiasa bersikap sombong, jadi semua itu wajar baginya.
"Riki, mendekatlah dan tampar wajahnya seperti yang kamu inginkan, dan aku akan mendukungmu! " kata Arsa pada Riki.
"Arsa, ini adalah keinginanku setelah mereka selalu membully kita! " Riki menyeringai sambil menjawab. Di masa lalu, Riki tentu saja tidak akan berani, tapi sekarang, dia tidak perlu takut. Karena dengan dukungan Arsa, menjadikan sesuatu yang begitu sulit menjadi mudah.
Sesaat kemudian, Riki bergegas berjalan mendekat ke depan Roni. Dia memberikan dua tamparan keras, ke setiap sisi wajah Roni. Roni merasa dipermalukan saat di tampar di depan mantan teman sekelasnya. Dia tampak sangat marah. Tapi ketika dia memikirkan identitas Arsa yang luar biasa, dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Sedangkan teman yang kini menjadi bosnya, si Varo, bahkan untuk kentut saja dia tidak berani.
"Kamu tahu Arsa, aku benar-benar merasakan sebuah kepuasan." Riki tertawa bahagia, dan sebuah rasa yang ia simpan dalam hatinya selama bertahun-tahun akhirnya keluar juga.
__ADS_1
"Varo, tahukah kamu kenapa aku ada di sini untuk menghadiri reuni hari ini? " Arsa memandang Varo dengan senyum di wajahnya.
"Untuk apa dan kenapa begitu? " Varo tampak sedikit takut. Mata Arsa menyipit saat memandang mantan preman di masa SMA nya itu.
"Untuk membalas dendam padamu bajingan!" jawab Arsa dengan dingin. Varo dan antek-anteknya tiba-tiba mengubah ekspresi wajah mereka ketika mendengar kata-kata Arsa.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba, ponsel Varo berdering. Varo melihat kalau itu adalah panggilan telepon dari seseorang di perusahaannya. Ketika panggilan itu sudah terhubung, sebuah suara yang keras dan terdengar khawatir terdengar di seberang telepon.
"Arsa, apakah kamu yang melakukannya? " tanya Varo yang tampak pucat saat melirik iya Arsa.
"Iya, aku yang melakukannya. Kamu sudah bersikap sombong dan seenakmu sendiri selama bertahun-tahun. Dan inilah waktunya kehidupan baikmu itu berakhir. Selama sepuluh tahun ke depan, kamu akan menghabiskan hidupmu di dalam penjara," kata Arsa dengan tenang. Bisnis yang dilakukan Varo awalnya berada di lingkup industri remang-remang. Meski iya bisa mendapatkan uang dengan cepat, namun hal tersebut melanggar hukum. Dan saat dalam perjalanan ke bar, Arsa menelepon dan melapor ke polisi akan hal ini. Adapun bukti yang di gunakan Arsa untuk menekan Varo, selama seseorang ingin mendapatkan bukti itu, banyak tumpukan masalah yang ada di kantor Varo.
__ADS_1
"Arsa, aku... Aku... Aku mohon padamu, kasihanilah aku! Aku tidak ingin ketahuan! Aku tidak ingin menjadi narapidana. Aku tak mau di penjara di tempat seperti itu." Dalam ketakutan, Varo langsung berlutut di atas lantai. Berlutut tepat di depan Arsa. Iya memeluk kaki Arsa dan memohon agar dia diberi belas kasihan. Varo tahu, kalau dalam menghadapi latar belakang dan identitas Arsa yang begitu kuat, dia tidak bisa lagi melarikan diri, dan tidak ada cara lain selain memohon belas kasihan.
Sedangkan semua orang yang berada di sana memandang Varo yang berlutut di tanah. Mereka semua menghela nafas tanpa henti. Tadi, mereka sangat memuja lelaki brengsek itu. Dan bahkan si Varo dengan senang hati menerima sanjungan dari mereka. Varo sendiri sangat berpuas diri. Dan sekarang, dia berlutut memohon belas kasihan. Hilang sudah semua rencana dalam hati untuk tidak dipermalukan lebih jauh.
"Memberimu rasa belas kasihan? Saat kita masih di SMA dulu, pernahkah kamu berpikir untuk memberi kami rasa belas kasihan? Apakah kamu lupa apa yang kamu lakukan ketika kami memohon agar kamu tidak menindas dan membully kami?" Nada suara Arsa terdengar sangat dingin. Ketika Arsa selesai berbicara, dia mengusir Varo. Untuk bajingan seperti Varo, Arsa mustahil mau memaafkannya.
Saat itu pula, pintu ruangan tersebut terbuka, dan beberapa pria berseragam polisi menyerbu masuk dan langsung membawa pergi Varo, Roni, dan Febrian. Melihat mereka dibawa pergi, Arsa merasakan kenyamanan yang tak dapat dijelaskan. Penghinaan yang ia terima semasa SMA akhirnya terbayar, dan penghinaan yang pernah ia derita telah terhapuskan. Adapun apakah dia hanya bersikap benar atau tidak. Arsa berani mengatakan kalau dia bukan orang jahat, tapi dia jelas bukan orang baik yang bisa di bodohi. Dia yang pernah berbaik hati pada dirinya tidak akan pernah iya lupakan. Namun, sekali Arsa menaruh dendam terhadap seseorang, dia tidak akan pernah membiarkan mereka pergi.
"Bagus ! Bagus sekali! " kata Riki. Sekarang dia sudah kuat karena dukungan dari Arsa, dia selalu berharap untuk menjadi bahagia di saat hatinya di penuhi dendam di masa putih abu-abu. Ketika Riki melihat ketiga orang itu ditangkap, dia bersorak gembira.
"Ya! bagus sekali! " gumam Riki lagi. Hal yang paling membahagiakan selama ini baginya adalah melihat orang yang paling kamu benci menderita.
__ADS_1
Banyak mantan siswa teman sekelas Arsa juga bersorak, ada yang setuju, dan ada yang bertepuk tangan dengan tulus dari lubuk hati mereka. Lagi pula, beberapa siswa di sana banyak yang telah diintimidasi oleh Varo sebelum mereka menjilat lelaki tak tahu diri itu. Padahal, sebenarnya, mereka juga berharap melihatnya jatuh.