Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Perjuangan


__ADS_3

Arsa Kenandra meraba sakunya, dan hendak mengeluarkan tongkat listrik yang diberikan Tiger padanya.


"Apa? Kenapa hilang? "


"Apakah aku menjatuhkannya dalam perjalanan ke sini tadi? " Arsa Kenandra tiba-tiba menyadari bahwa tongkat listrik di sakunya telah hilang. Itulah satu-satunya senjata yang dimiliki Arsa Kenandra.


"Apakah ini bercanda?" Arsa Kenandra tidak bisa menahan sumpah serapahnya. Kalau tongkat itu masih ada di tangan nya, dia masih punya rasa percaya diri untuk menghadapi musuhnya. Sekarang dia dengan tangan kosong, dan musuh-musuhnya sedang memegang pisau. Dia tidak tahu bagaimana akan bertarung.


"Tunggu sebentar. Aku akan memberi kalian masing-masing 10 juta. Bagaimana kalau kalian tinggalkan kita saja?" kata Arsa Kenandra dengan gigi terkatup. Jika uang bisa digunakan untuk menyelesaikan krisis ini, maka itu yang terbaik bagi mereka.


"Pergilah ke neraka saja kamu!"


"Sebaiknya kau menyerah saja daripada harus menyuap kematian! " Laki-laki itu tersenyum sinis. Para pria itu tahu bahwa perintah Tomi Sucipto adalah untuk mendapatkan kepala mereka. Maka dengan begitu, mereka akan mendapat hadiah besar ketika mereka berhasil membunuh musuh, dan bisa di naikkan ke level berikutnya. Tapi, Jika Tomi mengetahui bahwa mereka membiarkan Arsa Kenandra melarikan diri, mereka akan mati. Jadi, orang-orang itu memilih membunuh Arsa Kenandra untuk mendapatkan hadiah tanpa rasa khawatir.


Musuh telah mengayunkan pisaunya dan langsung menyerang Arsa. Arsa Kenandra tahu bahwa pertempuran itu sudah tidak bisa dihindari. Dan sekarang tidak ada ruang bagi mereka untuk mundur. Arsa Kenandra mengambil sebatang tongkat dari tanah sebagai senjata. Dalam percobaan pertamanya, musuh memotong tongkat itu menjadi dua.


"Persetan!" Arsa Kenandra mengumpat dengan marah dan melemparkan tongkat patah itu ke tanah.


" Maukah kamu melawanku dengan tongkat yang patah itu? Lebih baik kamu Mati saja! " Musuh tertawa sambil berkata. Mereka mengayunkan pisaunya lagi dan langsung mendatangi Arsa Kenandra. Arsa Kenandra tampak ketakutan. Dia tahu jika terus seperti itu, mereka akan mati. Namun Arsa Kenandra tidak boleh menyerah untuk menghadapinya.


Pisau tajam itu jatuh ke atas dahi Arsa Kenandra. Saat pisau itu hendak mengenai dahi Arsa Kenandra, dia mengangkat tangannya, memegang gagangnya erat-erat, lalu mendorongnya kuat-kuat. Dengan cara itu, pisaunya tergantung sekitar 20 sentimeter di atas dahi Arsa Kenandra.


"Yah, aku masih ingin berjuang. Aku akan lihat siapa di antara kita yang kuat!" Saat musuh berbicara, dia tersenyum seperti orang jahat dan mengarahkan pisau ke kepala Arsa. Arsa Kenandra pun mendorongnya dengan sekuat tenaga. Tetapi kekuatan musuh lebih besar dari Arsa Kenandra, meskipun Arsa menggunakan kekuatannya yang kecil, pisaunya perlahan turun ke bawah. Jika dia tidak menggunakan kekuatannya, dia mungkin akan terbunuh.


Saat itu, Arsa Kenandra sudah berkeringat. Dan pisaunya telah mencapai dahi.


Di sisi lain, Nanda Dinata yang juga sedang berkelahi dengan musuh yang juga menggunakan pisau, iya juga ditusuk. Jika dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, maja dia tidak akan bisa menyelamatkan Arsa Kenandra, kakaknya dan juga Bilqis.


"Pergilah ke neraka anak muda."

__ADS_1


" Apakah aku akan menyerah dalan hal ini? " Arsa Kenandra mengatupkan giginya dan tidak terbujuk untuk menyerah. Arsa Kenandra mempunyai rencana besar dalam pikirannya, dan dia tidak mau menyerah. Pria berpisau itu tersenyum seperti orang jahat dan meningkatkan usahanya lagi. Setelah bilahnya menyentuh dahi Arsa Kenandra, terjadilah sayatan, dan darah pun mengucur di dahi Arsa.


"Buggh" terdengar suara pukulan. Saat itu, pria yang membawa pisau itu dipukul kepalanya dengan batu. Ketika Arsa Kenandra melihat orang di baliknya, ternyata itu adalah Nindira. Nindira memegang batu di tangannya dan memukul bagian belakang kepala pria itu dengan pisau dari belakang. Lelaki yang memegang pisau itu terbanting ke tanah, darah mengalir dalam sekejap, dan lelaki itu pingsan, mungkin juga sudah mati. Lagipula, bagian belakang kepala adalah bagian tubuh yang mematikan jika terkwna pukulan keras.


"Apakah aku sudah kehilangan hatiku?" Nindira yang ketakutan terjatuh ke tanah dengan sebuah batu di tangannya, dan wajahnya diliputi rasa takut. Pucatnya wajah Arsa Kenandra digantikan dengan ******* panjang, lalu dia tersenyum dan mengacungkan jempol pada Nindira. Jika bukan karena Nindira, dia mungkin akan mati.


Saat itu, tangan Arsa Kenandra masih sedikit gemetar. Dia tidak tahu apakah itu disebabkan oleh ketegangan berlebihan pada tangannya tadi, atau karena dia takut.


Di sisi lain, Nanda Dinata kembali ditusuk tangannya dalam pertarungan tersebut. Arsa Kenandra menghela nafas lalu segera mengambil pisau yang ada di tanah dan bergegas menolong Nanda. Meskipun Arsa Kenandra ingin jatuh ke tanah dan menarik napas, dia tidak mengizinkan dirinya lemah. Karena pihak musuh itu sedang bertarung dengan Nanda Dinata, Arsa tidak boleh diam saja. Musuh tidak menyadari kalau Arsa bergegas ke belakangnya dan mengarahkan pisau tajam itu ke punggungnya.


Arsa Kenandra tidak tahu cara menikam orang sebelumnya. Tapi pada saat itu, Arsa Kenandra harus melakukannya.


Pria yang ditusuk itu berteriak."Aarrhhhgg!"


Aersa pun memanfaatkan kesempatan saat pria itu sedikit tak berdaya. Arsa Kenandra berulang kali menikam pria itu hingga jatuh ke tanah, dan kemudian dia mengambil pisaunya. Darah terciprat ke arahnya, dan tanah di sekitarnya juga berlumuran darah. Setelah pria tersebut di sayat hingga tak sadarkan diri, pisau di tangan Arsa Kenandra langsung jatuh ke tanah. Kemudian, Arsa Kenandra duduk di atas tanah dan menarik nafas panjang. Punggung Arsa Kenandra mengeluarkan keringat dingin dan dahinya juga dipenuhi keringat. Itu adalah pertama kalinya Arsa Kenandra menikam orang dengan tangannya sendiri, dan juga pertama kalinya dia melakukan sesuatu yang dia tidak pernah sangka bisa dia lakukan. Dia tidak punya pilihan selain melakukannya untuk menyelamatkan nyawa mereka.


Setelah dia duduk di atas tanah sebentar, Arsa Kenandra menyeka keringat dingin di dahinya dan segera berdiri. Bagaimanapun, Nindira dan Bilqis sama-sama gadis muda. Dan Nanda Dinata, dia masih remaja. Dan di sana, saat ini dirinya adalah tulang punggung yang bisa di andalkan di sana untuk untuk bisa beranggung jawab atas semuanya. Mereka semua ketakutan, mereka semua panik, mereka membutuhkan Arsa Kenandra untuk menstabilkan emosi mereka, dan mereka membutuhkan Arsa untuk mengarahkan semua yang ada di sana untuk bisa melupakan kejadian itu.


"Nanda, bagaimana lukamu? " Arsa Kenandra menanyakan luka Nanda Dinata.


"Arsa, aku hanya ditusuk di kedua tanganku, jadi tusukan itu tidak akan membunuhku! " kata Nanda Dinata dengan gigi terkatup.


" Bagus sekali, jadilah laki-laki kuat." Arsa Kenandra menepuk bahu Nanda Dinata.


Nanda Dinata baru saja melakukan perlawanan begitu lama, yang mana sangat penting jika dia memang harus bertahan. Namun, usahanya tidak sia-sia, akhirnya Arsa Kenandra datang untuk membantunya menghadapi musuh tersebut. Jika dia menyerah dan membiarkan Arsa Kenandra bertarung dengan kedua pria itu sendirian, maka mungkin saja Arsa dan kedua gadis itu sudah mati saat itu juga.


Kemudian, Arsa Kenandra berlari ke arah Nindira dan Bilqis, keduanya meringkuk dan gemetar ketakutan. Bagaimanapun, mereka hanyalah perempuan. Dan mereka belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Arsa Kenandra datang ke Nindira lebih dulu.


"Arsa, aku takut sekali! Aku takut sekali ! " Nindira yang ketakutan memeluk Arsa Kenandra erat-erat, dan seluruh tubuhnya gemetar.

__ADS_1


"Jangan takut. Musuh telah berhasil di kalahkan. Kamu baru saja melakukan pekerjaan dengan baik. Jika bukan karena kamu, aku, aku pasti akan terbunuh," Arsa Kenandra menepuk bahunya untuk menghibur Nindita.


"Nindira, kita belum keluar dari bahaya, dan seseorang bisa menyusul kapan saja. Jika ada lima atau sepuluh orang yang menyusul, maka dari lebih banyak yang berikutnya, kita tidak akan mampu mengatasinya. Jadi kita harus segera pergi." kata Arsa lagi.


"Oke ! " Nindira mengangguk berulang kali. Nindira sangat ketakutan sehingga dia tidak memikirkannya sama sekali. Ketika dia mendengarnya dari Arsa Kenandra, dia langsung tersadar dan mengerti bahwa intinya sekarang adalah terus berlari.


Kemudian, Nindira berdiri dan bertanya dengan prihatin,


"Ngomong-ngomong, Arsa Kenandra, apakah lukamu baik-baik saja?"


"Yang tersayat ini hanya bagian kulit, tidak masalah," Arsa Kenandra tersenyum dan menyentuh luka di keningnya.


Nindira mengangguk.


"Kalau begitu, pergilah menemui Bilqis, dia masih begitu kecil, dia pasti takut, aku akan menemui adiku untuk melihat lukanya, lalu kita harus segera pergi! " Arsa Kenandra mengangguk dan langsung mendatangi Bilqis.


"Kak Arsa, aku sangat takut! " Ketika Bilqis melihat Arsa Kenandra, dia pun memeluk Arsa Kenandra dengan erat, dan wajahnya penuh kepanikan dan ketakutan. Dia hanyalah seorang gadis remaja, dan apa yang terjadi membuatnya ketakutan.


"Tidak apa-apa, Bilqis. Kita berangkat sekarang. Ayo, aku gendong kamu! " Arsa Kenandra menyuruh Bilqis naik ke punggungnya secara langsung. Nindira juga terlihat merawat luka adiknya secara sederhana saat itu.


Di dalam hutan, Mereka berempat terus berlari. Arsa Kenandra terengah-engah. Lalu kecepatannya saat menggendong Bilqis menjadi lambat. Arsa Kenandra berdoa dalam hatinya agar tidak ada orang lain yang bisa mengejar mereka, dan semuanya akan berakhir. Perjuangan sebelumnya membuat Arsa Kenandra sedikit merasa kelelahan.


Kini setelah hampir sepuluh menit berlari sementara Bilqis berada di belakangnya, Arsa Kenandra kehabisan napas, wajahnya bercucuran keringat, dan pakaiannya basah oleh keringat. Arsa Kenandra masih berlari kencang meski kehabisan napas.


"Arsa, biarkan aku menggendongnya! " Nanda Dinata berkata dengan percaya diri.


"Kedua tanganmu terluka. Bagaimana kamu bisa membawa dia di atas punggungmu? " kata Arsa Kenandra.


"Kalau begitu aku akan menggendongnya!" Nindira berjalan menuju Arsa Kenandra.

__ADS_1


__ADS_2