
"Dia pasti seorang lelaki yang baik. Devina, kamu bisa berteman dengannya, dan bahkan lama-lama kamu bisa menjadi kekasihnya. Orang yang baik hati seperti itu sangat langka saat ini. Sulit menemukan pria seperti itu. Akan sangat sulit kalau kamu ingin menemukan yang lain yang sama seperti dia," kata Aprilia sambil tersenyum.
"Aprilia, jangan bercanda." Devina tersipu.
"Baiklah... Aku tidak bercanda Devina. Karena kamu meminjam uang orang itu, cepatlah kamu bayar balik. Kamu tidak boleh membiarkan laki-laki baik hati itu berpikir, kalau kamu benar-benar pembohong." kata Aprilia sambil menyerahkan delapan juta rupiah yang ada di tangannya kepada Devina.
"Oke. Aku akan segera kesana dan mengembalikan uangnya." Devina mengangguk dan berlari keluar.
"Ingatlah untuk mengucapkan terima kasih padanya." Aprilia berteriak dari belakang Devina. Devina pun mengangguk sambil terus berjalan.
Di depan rumah sakit. Jika Aprilia mengetahui kalau pria baik hati yang di ceritakan oleh Devina tadi adalah Arsa Kenandra. Pasti dia tidak tahu bagaimana perasaannya.
Devina mendatangi Arsa dengan senyum di wajahnya.
"Terima kasih banyak tuan. Temanku sudah mengirimi aku uang. Ini adalah uang yang aku pinjam dari Anda tadi. Sekarang, aku akan mengembalikannya kepada Anda." Devina menyerahkan uang itu kepada Arsa. Arsa mengambil uang itu dan berkata sambil tersenyum,
"Sepertinya aku belum pernah ditipu kalau soal uang. Syukurlah masih ada orang berhati dan benar-benar menepati janji sepertimu." Wajah Devina ditutupi dengan senyum cerah.
"Omong-omong, apakah anak kamu yang sedang sakit itu?" Arsa bertanya. Dari sudut pandang Arsa, wanita ini terlihat sangat muda. Dia tidak terlihat seperti wanita yang sudah memiliki anak.
"Tuan, saya... Saya belum menikah. Bagaimana aku bisa punya anak? aku seorang sukarelawan di panti asuhan. Aku merawat anak yang sakit di panti asuhan Kasih Bunda." Kata Devina canggung.
__ADS_1
"Apakah kamu benar-benar seorang relawan di panti asuhan? " Arsa kembali bertanya dengan tertegun. Di saat iya mendengar cerita itu, dia kaget karena wanita ini terang-terangan berlutut dan mengemis di depan pintu rumah sakit demi seorang anak yang bukan kerabatnya. Saat ini, Arsa tiba-tiba merasa bahwa meskipun gadis itu masih kecil, dia sangat hebat.
"Namamu Devina, kan? Kamu luar biasa." Kata Arsa sambil menyerahkan kembali KTP-nya kepada Devina.
"Saya tersanjung sekali tuan. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk anak-anak selain melakukan hal seperti ini." Kata Devina sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, bisakah kamu memberi aku nomor ponselnu?" tanya Arsa.
"Tentu saja!" Devina tersenyum dan mengangguk. Kemudian, Devina mengambil sebuah kartu nama di dalam tasnya.
"Ini adalah kartu nama panti asuhan kami, dan dengan nomor saya yang tertulis di atasnya." Devina menyerahkan kartu nama kepada Arsa.
Setelah Devina pergi, Arsa berbalik dan memandangi kepergian gadis itu. Arsa memandangi punggung Devina dan bergumam,
"Seorang gadis yang sangat luar biasa. Iya dapat mendedikasikan masa mudanya ke panti asuhan secara gratis." Hudoyo tiba-tiba muncul di samping Arsa.
"Sialan, kamu membuatku takut." kata Arsa sambil menatap Hudoyo.
"Bisakah anda membantu panti asuhan itu?" kata Hudoyo. Arsa tertegun sejenak. Ini adalah pertama kalinya Hudoyo meminta bantuannya. Arsa kemudian menyadari kalau Hudoyo dibesarkan di panti asuhan. Dia pernah mengalami kehidupan seperti itu. Jadi Hudoyo ingin Arsa membantu panti asuhan yang tadi, dan membantu anak-anak yang hidup seperti dia. Arsa tersenyum dan mengangguk.
"Tentu! Kita akan pergi ke sana besok." jawab Arsa.
__ADS_1
Keesokan paginya, Arsa pertama kali menelepon Devina dan memberitahunya bahwa dia ingin mengunjungi anak-anak di panti asuhan.
Di Panti Asuhan Kasih Bunda, Aprilia juga berada di dalam panti asuhan itu saat ini.
"Siapa yang menghubungimu Devina? Kamu kelihatan seneng banget deh kayanya." Kata Aprilia.
"Ini adalah pria baik hati yang kemarin. Dia bilang dia akan datang ke panti asuhan untuk melihat anak-anak pagi ini." Kata Devina sambil tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa begitu senang dia akan datang? Kamu tidak benar-benar menyukainya kan? " Aprilia tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Aprilia, jangan menggodaku." Devina tersipu.
"Nah, karena pria baik hati ini akan datang, aku ingin melihat seperti apa dia. Aku juga ingin berterima kasih atas apa yang terjadi kemarin." Kata Aprilia. Devina pun mengangguk.
"Halo pak." Saat itu ponsel Aprilia berdering. Dan dengan segera iya mengangkat panggilan yang masuk.
"Apa? Baiklah! aku mengerti. Aku akan segera kembali." Aprilia menjawab ucapan seseorang di teleponnya.
Setelah menutup telepon, dia berkata, "Ada sesuatu yang mendesak di kantor. aku harus kembali. Tapi, aku khawatir aku tidak akan bisa mendapat kesempatan untuk melihat pria ini hari ini. Tapi, aku akan melihat dia lain kali," kata Aprilia pada Devina.
"Iya Aprilia, silakan." Devina mengangguk .
__ADS_1