
Begitu kata-kata wasit terucap, seluruh penonton menjadi gempar.
"Ya Tuhan, permainan ini sudah berakhir? Tuan Wasis benar-benar kalah? " tanya seseorang yang tak percaya pada kenyataan yang baru saja iya lihat.
" Bajingan! " umpat Wasis karena kesalnya atas kenyataan ini.
"Jadi, Tuan Wasis jadi kehilangan 1 trilyun, ditambah dengan sebuah lengan? " gumam seseorang lagi. Sebelum pertandingan dimulai, tidak ada yang mengira permainan itu akan berakhir dengan cara yang tidak terduga. Wasis Adiguna memarahi dan mengumpat Panjol dengan amarah yang tak terbendung lagi, sehingga seluruh bagian dari wajahnya berubah menjadi ungu dan biru. Di saat yang bersamaan, Arsa Kenandra berdiri dan memandang Wasis Adiguna.
"Wasis Adiguna, kamu kalah, satu trilyun, ditambah lenganmu, sekarang milikku! " kata Arsa. Sejujurnya, Arsa Kenandra tidak tahu kenapa setelah melihat Hudoyo, lawan langsung menyerah, seolah-olah pihak lain mengenal dengan baik siapa Hudoyo?
" Tidak! Tidak masuk hitungan! Tidak masuk hitungan! " teriak Wasis Adiguna dengan marah.
"Permainan ini harus di ulangi. Dia kalah tanpa berkelahi." kata Wasis. Bagaimana dia bisa berdamai dengan kenyataan buruk ini?
"Tidak? Kamu sedang bermimpi ya? Hudoyo, lepaskan lengannya!" kata Arsa Kenandra kepada Hudoyo di atas panggung. Setelah Hudoyo menjawab, dia melompat dari ring dan bergegas menuju Wasis Adiguna. Ketika Wasis Adiguna melihat Hudoyo datang, wajahnya berubah ketakutan.
__ADS_1
"Hentikan dia! Hentikan dia!" Wasis Adiguna buru-buru berteriak pada dua pengawal di belakangnya.
"Berhenti! " Pada saat ini, Hudoyo telah bergegas ke depan Wasis Adiguna. Dua pengawal menghentikan Hudoyo.
"Kamu. Jangan lakukan apa pun!" kata salah satu pengawal Wasis.
"Aduh!" teriak kedua pengawal Wasis. Hudoyo meraih kedua lengan pengawal itu dan mengusir mereka supaya tak menghalangi jalan. Kemudian Hudoyo menghampiri Wasis Adiguna. Wasis Adiguna yang sedang duduk di kursi. Wajahnya sangat ketakutan sehingga dia tidak bisa duduk diam.
"Aku tidak main-main. Aku hanya ingin membantumu mempertahankan taruhanmu! " Kata Hudoyo sambil mengeluarkan sebuah pisau militer tajam yang selalu di bawanya. Kemudian, Hudoyo langsung menuju Wasis dan mengarahkan pisaunya. Diiringi Jeritan Seperti orang sekarat, Lengan kiri Wasis Adiguna telah dilepas secara paksa oleh Hudoyo. Saat itu juga, tetesan darah ada dimana-mana. Seno, yang berdiri di belakang Wasis Adiguna, melihat tuannya berlumuran darah membuatnya sangat ketakutan hingga kakinya lemas. Dia tak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya iya kencing di celana. Pada saat ini, seluruh penonton terdiam.
"Aduh... Aduh ! " teriak Wasis. Para bos yang hadir mau tak mau menelan ludah kering mereka saat melihat ini di balik layar. Bagi mereka, ini adalah lelucon. Dimana, Wasis Adiguna memiliki banyak kekuatan di Kota Surabaya ini. Mereka bertanya pada diri sendiri, apakah di kota Surabaya ini, hanya Arsa Kenandra yang berani secara terbuka di depan umum memotong tangan Wasis Adiguna. Orang-orang di dalam klub tinju tidak ada yang bergerak untuk menghentikannya. Lagi pula, Wasis Adiguna memang kalah.
"Bagaimana dengan lengan yang patah ini Arsa?" Tanya Hudoyo.
"Kamu hati-hati dengan lengan itu terlebih dahulu, jika Tiger meninggal dunia, kubur lengan ini bersamanya." kata Arsa Kenandra sambil menyipitkan mata.
__ADS_1
"Baiklah!" Hudoyo mengangguk.
Sedangkan untuk Wasis Adiguna, tim medis di lokasi kejadian sudah berlari ke Wasis Adiguna untuk segera menghentikan pendarahan pada lukanya.
"Kamu! " Arsa Kenandra menghampiri Wasis Adiguna bersama Hudoyo.
"Wasis Adiguna. Selain lengan ini, kamu masih berhutang 1 Trilyun kepada aku, dan selain 500 milyat yang hilang dari kamu, kamu masih berhutang 500 milyar kepada aku. Ingat, hubungi rekening perusahaan ku dalam sepuluh hari, jika tidak, kamu akan menanggung akibatnya!" kata Arsa Kenandra dengan nada dingin. Wasis Adiguna menjadi lebih marah mendengar apa yang di katakan oleh Arsa. Iya menutup dadanya dengan tangan kanannya, dia sangat marah hingga hampir tak terbendung lagi.
"Arsa Kenandra, kembalikan lenganku ! Kembalikan ! " Wasis Adiguna meraung histeris. Dia tidak ingin menjadi orang yang cacat hanya dengan satu tangan saja.
" Kembalikan padamu? Tidurlah, dan bermimpilah ! " Setelah Arsa Kenandra mengucapkan kalimat ini, dia langsung mengajak Hudoyo dan keluar dari tempat tersebut. Melihat Arsa Kenandra meninggalkan bagian belakang Wasis Adiguna, tetesan darah muncrat.
"Itu semua bajingan itu! Bajingan itu! " teriak Wasis. Wasis Adiguna awalnya mengira pertandingan tinju hari ini adalah hari balas dendamnya. Alhasil, ia tak menyangka, karena pada akhirnya ia kalah bukan hanya soal uang pada Arsa Kenandra, tapi juga lengan kirinya. Wasis Adiguna menatap Panjol dengan marah. Dia tahu itu karena Panjol mengambil inisiatif untuk mengakui kekalahan yang menyebabkan kekalahannya.
Saat ini, Panjol sudah turun dari panggung dan berjalan mendekati Wasis Adiguna.
__ADS_1
"Brengsek, siapa yang menyuruhmu menyerah? Aku akan membunuhmu!" Wasis Adiguna berteriak histeris pada Panjol.
"Tuan Wasis, kamu tidak bisa membunuhku, ini aku Panjol. Kalau kamu berani mendorongku saja, aku bisa membunuhmu sekarang juga." Kata si Panjol dengan dingin. Wajah Wasis Adiguna berubah saat mendengar kata-kata itu.