
Wanita bernama Lili itu menunjuk ke arah Arsa.
"Tidak, hanya saja anak ini mengaku kalau dia adalah pimpinan kendi Grub." kata Lili dengan Nada mengejek. Setelah melihat Arsa, keempat pramuniaga yang baru datang itu menutup mulut mereka dan tertawa.
"Baiklah. Bukankah itu lucu? Bagaimana mungkin orang seperti dia berani berpura-pura menjadi pimpinan kendi Grup?" kata salah satu dari ke 4 pramuniaga itu.
"Hey boy, sebelum kamu menyamar dan mengaku sebagai pimpinan Kendi Grup, lebih baik bercerminlah terlebih dahulu, untuk mengetahui siapa dirimu itu." salah satu dari mereka melontarkan kata-kata sengit, ini seolah-olah ucapan itu tidak apa-apa, tatapan dan ucapan mereka penuh dengan penghinaan terhadap Arsa. Bahkan beberapa pengunjung yang tidak jauh dari sana yang sedang melihat pakaian di toko itu tertawa melihat mereka. Sudah pasti, para pengunjung ini semuanya berpakaian bagus dan berasal dari keluarga kaya.
Setelah Arsa mendengar kata-kata kasar tersebut, kilatan amarah tiba-tiba muncul di matanya.
"Bagus sekali! Selamat! Kamu berhasil membuatku kesal. Tapi aku berjanji, konsekuensi yang akan kamu terima harus senilai dengan penghinaanmu. Aku berjanji kamu akan membuatmu membayar mahal untuk semua perlakuanmu ini!" Suara Arsa terdengar sangat dingin saat dia berkata. Tapi gadis itu bernama Lili itu dengan arogan membantah apa yang Arsa katakan.
"Konsekuensinya akan sangat serius? Oh, terserah kamu? Yah, aku menantangmu! Aku ingin tahu hari ini juga, berapa harga yang bisa kamu buat untuk membayar sikapku kepadamu!" Di mata Lili, Arsa dan Talita hanyalah dua orang miskin yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Tidak bisa menguntungkan baginya.
Di saat melihat kejadian dan mendengar apa yang di katakan oleh Lili, Talita menarik Arsa.
"Arsa, ayo kita pergi ke toko lain saja." kata Talita. Tapi Arsa bersikeras untuk tetap ada di toko tersebut.
"Tidak! Kita tidak perlu pergi ke toko lain. Di tempat ini, dan hari ini juga, aku akan membuatnya berlutut dan meminta maaf! Aku akan membuatnya memohon belas kasihan padaku." kata Arsa dengan tegas.
Sesaat kemudian, Arsa langsung mengeluarkan ponsel dan memanggil salah satu nomor di ponselnya. Tidak butuh waktu lama, ponselnya pun tersambung.
__ADS_1
"Fendi aku ada di Kendi Square Surabaya di toko pakaian wanita XX lantai 3. Aku ingin kamu membuat semua Eksekutif Senior dari Kendi square ada di sini dalam waktu tiga menit. Beri tahu mereka kalau aku sangat marah! Lebih baik mereka segera ke sini, jika tidak, mereka semua akan binasa!" Nada bicara Arsa sedingin es kepada orang di seberang telepon.
Setelah mengatakan ini, Arsa segera mengakhiri panggilan. Tapi Lili yang mendengar itu malah mencibir Arsa.
"Wow, jadi sekarang kamu juga berpura-pura sangat berkuasa, kamu mengira kalau nama General Manager Fendi itu bisa menakuti kita? Apakah menurut kamu, taktik itu dapat membuat kita takut dan membuat kita meminta maaf kepada kamu? Aku rasa kamu pasti sedang bermimpi!" Keempat pramuniaga itu semuanya setuju dengan kata-kata manajer toko.
"Iya, kita semua tahu nama Fendi itu adalah seorang General manajer. Apakah kamu benar-benar berpikir kalau ektingmu ini akan membuat kita takut? Betapa bodohnya kamu ini! " kata seseorang dari ke 4 pramuniaga tadi.
Sementara itu, Arsa yang kini hanya berekspresi dingin, terlihat dari wajahnya kalau iya mengabaikan apa yang mereka katakan. Dia memang tidak ingin berdebat dengan mereka lagi. Karena akan percuma saja memberi tahu mereka semua. Mereka akan tahu ketika para Eksekutif Senior dari Kendi Square sudah tiba. Arsa sangat yakin bisa membungkam mereka semua.
Pada saat itu juga, seorang pria paruh baya datang. Dia adalah salah satu pelanggan yang berbelanja di dalam toko itu. Pria paruh baya ini berjalan mendekat dan memarahi para penjaga toko.
"Kalian terlalu banyak bicara!" kata lelaki tersebut. Tapi Lili malah menatap pria paruh baya itu dengan ekspresi bingung.
"Diam!" Pria paruh baya itu kemudian menoleh untuk melihat ke arah Arsa.
"Anak muda, dengarkan saya seolah-olah saya ini adalah kakakmu. Lupakan argumen wanita ini. Jika kamu mau, kamu bisa memberikan gaun yang baru saja saya beli ini kepada pacarmu. Harganya lebih dari 8 juta. Saya baru saja membeli gaun ini untuk putri saya. Modelnya tidak terlalu buruk. Bagaimana kalau kamu menerima gaun pemberianku ini? " Setelah berbicara, pria paruh baya menyerahkan pakaian yang sudah dikemas di tangannya kepada Arsa.
"Mengapa Anda membantu saya? " Arsa menatap pria paruh baya itu dengan heran dan bertanya kepadanya. Sejujurnya, perilaku pria paruh baya ini sangat mengejutkan Arsa.
"Karena saya juga pernah menjadi orang miskin dan saya sering diejek saat itu. Jadi, setelah melihat perilaku mereka terhadap kamu, aku mengerti bagaimana perasaan kamu." jawabnya. Arsa mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan pria paruh baya itu. Jadi, pria paruh baya itu menyerahkan kembali pakaian yang sudah dikemas itu kepada Arsa dan berkata.
__ADS_1
"Ayo, kamu bisa mengambil ini." kata pria paruh baya itu dengan tersenyum. Tapi Arsa menolak apa yang di berikan kepadanya sambil tersenyum juga.
"Tidak, terima kasih. Saya tidak akan pergi begitu saja setelah apa yang mereka lakukan. Jangan khawatir, saya akan memberi pelajaran kepada makhluk rendahan ini. Kalau mereka, tidak boleh memandang rendah orang lain hanya karena penampilan saja." Pria paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan merasa heran.
"Oh, mengapa kamu begitu gigih? " tanya nya. Sebenarnya, meski pria paruh baya itu tidak memandang rendah orang miskin, dia tidak percaya bahwa Arsa benar-benar orang miskin.
Sedangkan manager toko yang mendengar perkataan itu langsung berkata sambil tersenyum.
"Tuan, anda juga telah melihatnya sendiri kan. Anak ini sama sekali tidak menghargai apa yang anda berikan. Anda hanya membuang-buang waktu saja kalau mau membantunya." kata Lili sambil melirik Arsa.
Dan tepat pada saat itu juga, pintu kaca toko didorong hingga terbuka dengan suara bantingan. Setelah pintu terbuka, seorang pria paruh baya bersetelan coklat menyerbu masuk dengan beberapa petugas keamanan.
"Ini... Bukankah ini Tuan Ryan? Apa yang membawa anda kemari? " Setelah melihat pria berjas coklat yang bernama Ryan itu, Lili pun menyambutnya dengan senyuman. Pria berjas biru itu adalah manajer keamanan, yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kendi Square, jadi tentu saja dia tahu siapa wanita bernama Lili itu. Bagi Lili, manajer keamanan itu merupakan sosok yang terhormat baginya. Dan keberadaannya adalah salah satu yang tidak boleh untuk di singgung. Tapi pria berjas coklat sama sekali tidak menatap Lili. Iya malah mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke arah Arsa. Kemudian dia menyapa Arsa.
"Tuan Arsa Kenandra. Saya Ryan, manajer keamanan Kwndi Swuare!" Tak lama kemudian, lebih dari sepuluh satpam di belakang Ryan juga membungkuk dan memberi hormat, dan suara mereka yang bergema di seluruh toko penjuru.
"Apa? " Setelah melihat adegan ini, Lili dan keempat pramuniaga itu semuanya terkejut. Mata mereka membelalak kaget dan wajah mereka langsung pucat. Juga pria paruh baya di samping Arsa pun terlihat terkejut. Bahkan Talita pun menutupi mulutnya dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia tidak percaya kalau orang-orang ini baru saja memanggil Arsa dengan sebutan Tuan.
Mohon maaf atas Up yang hanya 1 bab. Author sedang berada di fase super sibuk.
Insya Allah setelah kesibukan ini selesai, Author bakal Up seperti biasa.
__ADS_1
Thank's semua readers.