
Lelaki bertato bunga di lengannya itu berjalan ke arah Andre, menampar keras wajah Andre dengan tangannya.
"Apa kamu tahu apa yang di lakukan adikmu? Biarkan aku yang akan membuat harga dirimu tetap ada kalau itu memang maumu." Laki-laki bertato bunga itu melanjutkan kata-katanya dengan kepala terangkat dan suara yang begitu angkuh,
"Andre, biar aku beri tahu, adikmu bermain 1 set hari ini! Dan kebetulan orang-orangku datang untuk menahannya!" kata lelaki bertato itu lagi.
"Kamu... Beraninya kamu!" kata Andre yang masih tersenyum. Dengan segera iya mengambil botol anggur kosong di atas meja, dengan cepat menghancurkan botol itu hanya dengan sekali pukulan. Setelah itu, iya mengarahkan ujung botol yang terlihat tajam itu kepada pria bertato tadi. Wajah pria bertato bunga itu pun seakan tenggelam dalam ketakutan.
"Andre. Di bawah komando Fiko, kamu adalah adik tingkatku, dan aku adalah seniormu. Kalau kamu berani melakukanya padaku, apakah kamu tahu seberapa berat konsekuensi yang akan kamu terima nanti? " kata Lelaki bertato itu dengan nada takut.
"Aku tidak peduli seberapa serius konsekuensi dari itu semua. Bahkan kalau yang melakukan hal itu adalah pimpinan. Berani menyentuh adikku, aku pasti berani melakukannya untuk membela dia." Andre menggertakkan giginya dan berkata dengan kesal.
"Brengsek, aku rasa kamu itu berani menantang kita saudara Andre. Baiklah kalau itu maumu. Pukuli dia sampai mati! " Teriak pria bertato bunga itu sambil menatap ke beberapa orang di belakangnya.
"Hentikan! " Saat beberapa lelaki bertubuh besar dan berbaju hitam itu hendak bergerak untuk menghajar Andre, sebuah suara terdengar dari belakang. Semua orang yang ada di sana menoleh dan melihat Arsa yang menarik perhatian mereka semua.
"Arsa... Arsa..." Andre pun mengenali Arsa. Dia tampak terkejut sekali. Andre tidak menyangka kalau di tempat ini akan bertemu teman baiknya setelah bertahun-tahun berlalu tidak bertemu.
__ADS_1
"Hei, siapa ini?" Orang-orang itu berpaling untuk melihat Arsa. Ketika pria bertato bunga itu melihat Arsa yang hanya mengenakan pakaian biasa, tatapannya tiba-tiba saja menunjukkan rasa jijik.
"Andre adalah temanku, aku akan menyelamatkannya hari ini! Tidak peduli siapapun kamu, keluarlah dan segera pergi dari sini!" Kata Arsa dengan tenang.
"Keluar dari sini? Kamu ini berani sekali memerintahkan aku. Apa kamu di sini datang hanya untuk mengacau keadaan? Hahhaha..." lelaki bertato itu tertawa. Sedangkan semua anak buahnya pun ikut tertawa terbahak-bahak.
Pada saat itu juga, pria bertato bunga itu berjalan mendekat ke arah Arsa. Iya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dan berkata dengan begitu angkuh angkuhnya.
"Halo bocah ingusan, Apakah kamu tahu siapa aku? Berani sekali kamu menyuruh aku pergi dari sini, aku pikir, kamu juga ingin masuk delam masalahnya juga." katanya dengan senyum menghina. Dia berkata dengan merentangkan tangannya di depan wajah Arsa dan menampar dengan langsung. Sambil beberapa kali hentakan kakinya yang terdengar sangat berat.
Sedangkan Arsa memutar bola matanya jengah. Merasa bosan dengan ekspresi orang-orang yang angkuh seperti itu.
"Dengar ya, aku tidak takut dengan apa yang kamu ucapkan. Bahkan, aku akan melayani ucapnmu itu dengan senang hati. Ayo, habisi bocah ingusan ini." katanya dengan nada meremehkan. Lebih dari sepuluh anak buah lelaki bertato itu langsung mengelilingi Arsa. Melihat ini, Andre bergegas berdiri di depan Arsa, lalu menoleh dan menatap Arsa.
"Arsa, pergilah dari sini. Ini adalah urusanku. Kamu tidak boleh menyinggung perasaan mereka." kata Andre merasa khawatir karena Arsa begitu pemberani.
"Karena kemunculan Arsa yang tiba-tiba dan langsung ingin membantunya, membuat Andre berterima kasih, iya merasa sangat terharu. Tapi Andre tidak mau melibatkan Arsa dalam masalahnya. Iya tak ingin terjadi apa-apa kepada Arsa karena dia.
__ADS_1
"Arsa, cepat pergi! " Juliana, adik Andre, juga berkata dengan cemas.
"Andre, Juliana, jangan khawatir! Aku akan melindungimu hari ini dan serahkan semuanya padaku." kata Arsa dengan tenang.
"Arsa, ini tidak seperti mainan anak kecil. Mereka adalah orang-orang yang ngga mampu kamu hadapi. Kamu tidak akan bisa mengatasi semua masalah ini. Sekarang cepatlah pergi dari sini." kata Andre dengan suara tegas. Iya hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada teman baiknya itu.
"Pergilah." kata Andre lagi. Setahu dia, Arsa masih kuliah. Dia tidak berpikir kalau seorang mahasiswa bisa memecahkan masalah sebesar ini.
"Kamu tidak perlu bicara omong kosong. Karena kalian, tidak akan ada yang bisa kabur hari ini! Kalian semua, ayo cepat urus bocah ingusan ini. Selesaikan hambatan kecil berupa bocah usil ini terlebih dahulu." Pria bertato itu langsung memberi perintah. Setelah itu, belasan anak buahnya mengambil langkah santai. Mereka langsung berjalan menuju ke arah Arsa.
"Singkirkan bocah itu untuk aku!" kata lelaki bertato itu sekali lagi.
"Hudoyo, lakukan tugasmu dengan baik! Hancurkan orang ini! " kata Arsa sambil melirikkan matanya ke arah pria bertato dan anak buahnya. Hudoyo pun memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan lalu bersiap dengan sikap tenang. Saat itu juga, seorang yang pertama kali bergerak tadi sudah mendatangi Arsa. Hudoyo melayangkan pukulannya, secara langsung memukul dada lelaki itu dengan keras. Sesaat kemudian, lelaki yang mau menghampiri Arsa tadi langsung jatuh mundur dan tersungkur ke lantai. Dengan gerakan secepat kilat, Hudoyo memukul semua anak buah pria bertato yang akan menyerang dari belakang, tak butuh waktu lama, Hudoyo telah berhasil menjatuhkan mereka semua ke lantai.
Semua anak buah pria bertato tadi, yang terkena pukulan dari Hudoyo, setelah jatuh ke lantai, darah menyembur keluar mulutnya. Terlihat dengan jelas kalau pukulan Hudoyo menyebabkan mereka semua tidak berdaya lagi.
"Sialan, orang ini terlalu ganas." Pria bertato Bunga itu sangat terkejut. Beberapa anak buahnya yang tersisa sangat ketakutan dengan pukulan yang di layangkan oleh Hudoyo. Sehingga mereka tidak berani untuk menyerang lagi.
__ADS_1
"Kalian semua, cepat taklukkan dia. Dia memang terlihat lihai dengan jurusnya. Tapi dia hanya sendirian." pria bertato bunga di lengannya itu berteriak dengan lantang. Iya tak ingin di kalahkan oleh satu orang saja. Dan juga iya juga yakin, melawan 1 orang adalah hal yang mudah.