
Banyak mantan siswa teman sekelas Arsa juga bersorak, ada yang setuju, dan ada yang bertepuk tangan dengan tulus dari lubuk hati mereka. Lagi pula, beberapa siswa di sana banyak yang telah diintimidasi oleh Varo sebelum mereka menjilat lelaki tak tahu diri itu. Padahal, sebenarnya, mereka juga berharap melihatnya jatuh. Jadi, mereka bisa dianggap bertepuk tangan dari lubuk hati mereka yang paling dalam.
Setelah melirik mereka, Arsa tidak dapat menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya. Ketika mereka melihat kalau Varo kaya, bahkan ketika mereka telah diintimidasi oleh Varo, mereka tetap menjilatnya. Kini setelah Varo hancur dengan keaombongannya, mereka bertepuk tangan. Inilah yang disebut dengan kemunafikan.
Sesaat kemudian, Arsa berbalik dan memandang Riki.
"Riki, kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di Kendi di masa depan. Aku akan memberimu posisi yang bagus. Sedangkan untuk gajimu, gaji tahunan tidak akan kurang dari 400 juta." kata Arsa. Sebagai teman satu meja dan sahabatnya di masa SMA, Arsa tentu saja dengan senang hati membantu.
"Wow, gaji tahunan sebesar 400 juta! " Ketika yang lain mendengar perkataan Arsa, mereka semua tampak iri. Benar-benar sebuah impian bagi mereka untuk bekerja dalam perusahaan besar seperti Kendi, apalagi memiliki gaji tahunan yang tidak kurang dari 400 juta.
Riki menggaruk kepalanya dan berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih Arsa, tapi menurutku, aku baik-baik saja dengan duduk di kedai jajanan tengah malam bersama ayahku sekarang. Meski membuatku lelah, aku bisa menghemat puluhan juta dalam setahun, dan itu sudah cukup untuk kita." syarat yang ditawarkan Arsa terlalu murah hati, namun karakter Riki adalah ingin mencari nafkah sendiri dan tidak mau hanya mengandalkan orang lain. Hanya dengan cara ini dia bisa merasa nyaman.
"Benar saja, karaktermu tidak berubah. Masih sama seperti sebelumnya. Baiklah! Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu." Arsa berkata dan menepuk bahu Riki.
__ADS_1
"Tapi, kamu bisa datang kepadaku kapan saja jika kamu menemui masalah di kemudian hari. Aku tidak akan pernah menolak. Aku pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu!” kata Arsa dengan serius.
"Hei, sekarang hal itu tidak masalah. Suatu saat aku pasti akan menghubungimu." Riki tersenyum dan mengangguk. Hal ini tentu saja membuat iri semua orang. Dengan dukungan dari pimpinan Kendi, tidak perlu takut akan masalah apa pun di masa depan!
"Teman-teman, kalian semua harus menikmati sisa malam ini. Jika kalian ingin minum, minumlah. Jangan hanya diam, Riki. Pergilah bernyanyi sebentar." kata Arsa.
"Tidak masalah!" Riki mengangguk.
Setelah musik diputar, orang-orang mulai minum dan bernyanyi. Arsa berjalan menuju Nindira, dan seorang gadis yang duduk di sebelahnya buru-buru menyerahkan kursinya kepada Arsa.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak." kata Nindira buru-buru. Ketika Arsa mendengar kata-kata teman SMA nya itu, dia langsung duduk di sebelahnya. Tubuh Nindira terlihat tegang saat ini, dan dia terlihat sangat gugup.
"Nindira, kenapa kamu gugup sekali? Santai saja.” Arsa memandangnya sambil tersenyum.
"Lagi pula... Bagaimanapun juga, kamu adalah pimpinan Kendi Grup dan cucu dari Andi Sudiryo. Bahkan para bos super kaya itu mendatangi kamu dengan hormat. Aku... Aku tentu saja akan mendapat tekanan psikologis kalau tidak hormat kepadamu." Nindira tersenyum agak kaku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku tetaplah aku. Lagi pula, kamu bukan lah orang yang sombong. Kenapa kamu sangat peduli dengan identitasku? " kata Arsa sambil tersenyum. Nindira mengangguk dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Aku minta maaf soal tadi Arsa. Aku salah paham padamu. Kukira kamu benar-benar sedang membual. Bahkan aku yakin mobil sportmu itu adalah mobil sewaan. Jangan marah padaku, meski kupikir, kamu sudah berubah." Nindira meminta maaf pada Arsa karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Wajar kalau ada orang yang langsung tidak percaya padaku. Itu hak semua orang. Kamu tidak mengejekku dengan bersikap seperti itu, jadi tentu saja aku tidak bisa marah padamu." Kata Arsa sambil tersenyum.
Setelah jeda, Arsa melanjutkan,
"Dulu kamu banyak membantuku Nindira. Suatu saat aku tidak mampu membayar biaya sekolahku. Tapi kamu diam-diam membayarnya untukku. Semuanya ada di hatiku dan aku tidak pernah bisa melupakannya." kata Arsa mengingat apa yang sudah Nindira lakukan.
"Biaya sekolah? Kamu pasti salah. Aku tidak membayar biaya sekolah kamu." Nindira menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menjawab.
"Nindira, tolong jangan sembunyikan apa pun lagi dariku. Aku saat itu bertanya pada guru yang bertugas di sana. Waktu itu, pak guru bilang kalau kamu sudah membayar semuanya untukku." Arsa berkata sambil tersenyum. Nindira tertegun.
"Apakah pak guru yang memberitahumu? Padahal aku sudah meminta untuk merahasiakannya!" kata Nindira. Arsa tersenyum, dia tahu Nindira tidak akan membiarkan dirinya dikenal pada saat itu, jadi dia tidak ingin menyakiti harga diri dan wajah Arsa sebagai laki-laki. Nindira tidak hanya membantu Arsa, tapi dia juga memikirkan kebaikan Arsa. Jadi, Arsa menyimpan semuanya dalam pikiran hingga saat ini.
__ADS_1
"Nindira, lagi pula, aku harus berterima kasih padamu. Aku harus membayar kembali uang yang kamu bayarkan untuk biaya sekolahku saat itu." Ucap Arsa dengan tulus. Lalu, Arsa mengeluarkan cek yang sudah disiapkan sejak lama. Bahkan di tengah kebenciannya terhadap orang lain, masih ada tempat tersisa untuk sebuah kebaikan. Arsa akan selalu menyimpan dendam terhadap seseorang dan tidak akan pernah melupakannya. Tapi, dia juga tidak akan pernah melupakan orang-orang yang telah baik padanya.