
"Tuan Hudoyo, terima kasih banyak." kata Devina kepada Hudoyo.
"Nona Devina, anda bisa berterima kasih kepada tuan Arsa. Saya hanya melaksanakan apa yang di perintahnya." jawab Hudoyo.
" Tuan Arsa, Tuan Hudoyo, terima kasih banyak." Kali ini, Bu Kartini juga mengucapkan terima kasih, Bu Kartini menghela nafas panjang dan terlihat ada ketidak senangan dari raut wajahnya.
"Ibu, ada apa ? " tanya Devina.
"Meskipun mereka sudah dihajar dan di kalahkan oleh tuan Hudoyo kali ini, Wasis Adiguna benar-benar orang yang sangat kejam. Dia pasti tidak akan menyerah. Tuan Arsa dan Tuan Hudoyo tidak bisa berada di sini terus menerus. Kalau mereka terus ada di sini, ibaratnya mereka sedang menunggu balasan. Dan saya yakin, pasti Wasis tidak akan tinggal diam, balas dendamnya pasti akan lebih dari ini." kata Bu Kartini menggelengkan kepalanya dan mendesah.
"Bu, Devina mengenal Aprilia. Cewek itu memiliki beberapa keterampilan bela diri. Devi yakin dia akan melindungi panti asuhan ini." kata Arsa.
" Baiklah, aku akan memberitahu Aprilia." sahut Devina sambil mengangguk.
"Itulah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan." Bu Kartini juga mengangguk.
"Devina, jika dia tidak bisa mengatasi masalah ini, kamu bisa meneleponku." kata Arsa.
"Terima kasih, Tuan Arsa." Devina mendekat dengan Bu Kartini untuk berterima kasih pada Arsa.
Segera setelah Arsa dan Hudoyo pergi, sebuah mobil polisi melaju langsung ke Panti Asuhan kasih bunda. Aprilia keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Devina... Dimana bajingan-bajingan itu? " Aprilia melihat sekeliling.
__ADS_1
"Mereka sudah di pukuli dan di kalahkan." kata Devina.
" Dipukuli? Siapa yang mengalahkan mereka ? " Aprilia tampak bingung.
"Pria baik hati kemarin yang kemarin. Dia membawa pengawal. Pengawalnya sangat kuat sehingga dia mengalahkan empat puluh lebih orang hingga mereka semua tidak berdaya sama sekali. " Devina mengatakan dengan sangat antusias.
" Kamu tidak akan sedang mengarang cerita tentang empat puluh orang yang mendapat pukulan hanya dari satu orang bukan? Apa dia sebaik itu? " Devina tampak tidak percaya. Devina juga belajar pernah mengalami fase berlatih bela diri, dan dia tahu tidak mungkin melawan empat puluh lebih sekelompok gangster bersenjata sendirian.
"Aprilia, apakah kamu tidak mengenalku. Apakah aku terlihat seperti seorang pembual? Jika Anda tidak Percaya, kamu bisa bertanya kepada Bu Kartini dan anak-anak." kata Devina serius.
"Aprilia, Devina mengatakan yang sebenarnya." Kata Bu Kartini.
"Sepertinya saya terlalu bodoh. Saya jadi ingin segera bisa melihat pria baik hati ini dan pengawalnya lebih cepat lagi." Aprilia bergumam pada dirinya sendiri.
"Lima ratis juta? " Aprilia terkejut dengan jumlah angka yang di sebutkan oleh Devina itu.
Bu Kartini yang berada di sebelahnya juga mengangguk.
"Iya, aku yang memegang ceknya sekarang." kata bu Kartini.
"Donasi sebesar itu bisa sangat meringankan beban tekanan finansial di panti asuhan kita. Selama panti asuhan berhati-hati dalam mengelolanya, panti asuhan ini tidak akan pusing lagi karena kekurangan uang untuk beberapa tahun mendatang." Aprilia sangat gembira.
"Iya, Aprilia. Itu sebabnya aku mengatakan kalau itu adalah berita yang sangat bagus." Devina berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku ingin lebih cepat lagi melihat pria baik hati ini. Dia adalah orang kaya dan baik hati. Di zaman yang seperti ini, hanya ada sedikit orang di masyarakat yang berhati emas seperti dia. Ketika nanti aku sudah bertemu dengannya nanti, aku harus berterima kasih atas perbuatan baiknya." kata Aprilia dengan tegas. Aprilia tidak pernah berpikir saat ini, kalau orang baik hati yang ingin dia temui adalah Arsa.
Saat itu juga, Bu Kartini berkata dengan sungguh-sungguh,
"Aprilia, masih ada masalah yang sangat serius di panti asuhan. Meskipun Kejora grub sudah dikalahkan hari ini, mereka pasti tidak akan menyerah. Aprilia, kamu adalah seorang polisi. Demi anak-anak, tolong bantu kami di Panti Asuhan Kasih Bunda."
Devina menganggu.
"Ya Aprilia, kami hanya bisa meminta bantuanmu." kata Devina.
"Bu Kartini, ibu harus yakin bahwa saya akan kembali dan melaporkan ke pihak yang berwajib. Dan saya akan meminta perlindungan. Kita semua ini adalah masyarakat di bawah supremasi hukum. Saya tidak percaya mereka berani mengabaikan hukum !" Nada suara Aprilia tegas. Setelah perkataan Aprilia di jawab dengan anggukan. Iya pun bergegas meninggalkan pant asuhan untuk mengurus apa yang baru saja iya katakan tadi.
Setelah meninggalkan Panti Asuhan Kasih Bunda, Aprilia segera kembali ke kantor polisi dan melapor kepada komandan. Tetapi hasilnya adalah, mereka tidak menggubris apa yang Aprilia katakan, dan mereka juga berkata kalau Aprilia harus mengurus urusannya sendiri.
Aprilia merasa sangat marah sehingga dia harus pulang dan meminta bantuan kakeknya.
Di rumah Aprilia.
Keluarga Aprilia tinggal di sebuah rumah yang biasa. Rumah mereka terlihat sangat kumuh.
"Kakek, kakek pasti tahu dengan hal seperti ini. Kakek juga selalu mengajariku untuk menjadi wanita yang baik dan melakukan hal-hal yang baik. Kakek, kakek harus membantuku dalam hal ini!" Aprilia bertingkah manja pada kakeknya.
Kakek Aprilia menutup matanya dan menghela nafas.
__ADS_1
"Aprilia, kasus kali ini melibatkan Wasis Adiguna. Jika hal ini terjadi 20 tahun yang lalu, aku mungkin masih bisa berbicara. Sekarang, aku rasa aku tidak punya kemampuan untuk mengaturnya." kata kakek Aprilia.