
Setelah Mela Anggraini lulus ujian tes terakhir, dia mulai mengambil tanggungjawabnya untuk berkerja keesokan harinya. Selama jangka waktu tersebut, saat Arsa Kenandra akan tetap di perusahaan atau keluar menemui klien, dia selalu menemani Arsa Kenandra dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang sekretaris. Dan Mela Anggraini sangat berhati-hati tetapi juga teliti dan tidak takut akan kesulitan. Arsa Kenandra menatap Mela Anggraini, lalu tersenyum.
"Mela, kamu telah melakukan pekerjaan dengan baik akhir-akhir ini, dan kamu mengatakan kepadaku sebelumnya kalau kamu bodoh. Sangat mudah untuk melakukan hal-hal buruk, jadi kamu hanya berbicara omong kosong." Dia menghabiskan setiap hari bersama Mela Anggraini akhir-akhir ini. Jadi Arsa Kenandra juga mengenalnya. Mela Anggraini merasa malu dan tersenyum. Bagi Mela Anggraini, dia sangat berterima kasih kepada Arsa Kenandra. Sejak dia bekerja di Kendi, ibunya mengangkat kepalanya di depan kerabat, teman, dan tetangga.
"Ngomong-ngomong, Mela, terakhir kali kamu bilang kamu punya adik yang durhaka? " tanya Arsa Kenandra.
"Ya, dia sangat memberontak sekarang ink. Guru di sekolahnya mengatakan kalau dia bergaul dengan beberapa orang jahat dan tidak belajar dengan baik. Dia tidak mau mendengarkan Ibu saya dan saya. Ibu saya dan saya khawatir tentang dia, tetapi tidak ada yang bisa kami lakukan terhadapnya." Mela Anggraini menghela nafas.
"Setelah aku tidak sibuk nanti. Aku akan mengurusnya untukmu," kata Arsa Kenandra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pak Arsa, ini tidak terlalu merepotkan kam, saya minta tolong." Mela Anggraini berkata.
"Tidak ada yang perlu di repotkan. Sudah kubilang sebelumnya bahwa kita bukan hanya atasan dan bawahan, tapi juga teman." Kata Arsa Kenandra. Saat itu, ponsel Arsa Kenandra tiba-tiba berdering. Arsa Kenandra melihat bahwa yang menelepon adalah Nindira, Ketua kelas saat masih SMA. Dia masih ingat kapan terakhir kali dia melihat Nindira, Arsa Kenandra di reuni teman sekelasnya.
"Halo ketua kelas." Arsa Kenandra menjawab telepon dengan senyum di wajahnya.
"Arsa, aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kamu keluar dan menemuiku? " Suara Nindira terdengar di telepon.
Setelah menutup telepon, Arsa Kenandra terlebih dahulu membereskan barang-barang yang ada di tangannya, lalu iya keluar dari ruangannya menuju ke tempat parkir. Iya berkendara dengan hati-hati ke jalur utama dan ke langsung ke tempat yang iya dan Nindira sepakati.
__ADS_1
Ketika Arsa Kenandra tiba di sebuah restoran, Nindira sudah menunggu Arsa Kenandra di restoran tersebut.
"Arsa, di sini" Nindira melambai kepada Arsa Kenandra. Arsa Kenandra yang melihat pun segera menghampiri Nindira sambil tersenyum, seelah it iya duduk. Nindira masih terlihat imut dan cantik dengan pakaian sederhana dan riasan tipis, dan Nindira memiliki kulit yang sangat bagus tanpa cacat sedikit pun. Lalu dia duduk. Sejujurnya, Arsa Kenandra tidak menyadari kalau Nindira begitu cantik saat masih sekolah menengah Atas.
"Arsa, di reuni terakhir, kamu diam-diam memasukkan cek 1 juta itu ke dalam tasku saat aku mabuk." kata Nindira dengan bibir cemberut. Kemudian, Nindira mengeluarkan cek tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Arsa Kenandra.
"Saya benar-benar tidak bisa mengambil uang kamu Arsa. Meski keluarga ku tidak kaya, aku bisa menghidupi diri sendiri. Jika saya menerima uang ini, apa bedanya aku dengan gadis seperti Erika." kata Nindira.
"Oh... Oke, aku mengerti." Arsa Kenandra mengangguk dan mengambil cek tersebur. Iya menganggap apa yang di katakan Nindira benar. Jika Nindira mengambil uang itu, bukankah dia akan menjadi gadis matre seperti Erika?
__ADS_1
"Tetapi aku ada hal lain. Aku sangat ingin kamu membantuku. Selain meminta bantuanmu, aku tidak bisa memikirkan orang lain untuk mengatasi masalah ini. Aku hanya bisa meminta pada bantuan padamu." Nindira nampaknya sedikit malu.
"Tidak apa-apa. Kamu membantu aku ketika aku mendapat masalah di sekolah menengah Atas dulu. Sekarang ketika kami menemui kesulitan, selama Arsa Kenandra ada di sini, aku akan membantu, saya tidak akan menolak sama sekali! " Arsa Kenandra tersenyum. Meskipun di SMA Nindira membantu dirinya sendiri dengan beberapa hal sepele, dia sangat berterima kasih padanya karena kebaikannya. Arsa Kenandra harus membalasnya dengan nilai yang sama. Iya berharap pertemanan ini akan tetap terjalin. Orang-orang yang baik, akan selalu mendapatkan balasannya sendiri.