Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kesendirian Hudoyo


__ADS_3

Melihat Hudoyo yang seperti ini, Arsa yakin kalau dia mungkin tidak terlalu tertarik dengan uang. Dan Arsa juga sangat yakin kalau kakeknya pasti sudah memberinya uang yang banyak sebagai bayaran. Arsa berpikir sejenak lalu mengajak Hudoyo untuk minum saja. 


"Minum? " Kata Hudoyo dengan ekspresi  kaget.


"Ada apa? Apa ada masalah? " Arsa memandang Hudoyo yang berdiri di depannya itu. 


"Minum itu bisa membuat seseorang dengan mudah melakukan kesalahan. Saya malah tidak ingat kapan terakhir kali saya minum. Maaf Tuan Muda, saya tidak bisa menerima ajakan dari anda." Kata Hudoyo dengan tenang. Melihat raut wajah Hudoyo, Arsa tiba-tiba merasa sedikit khawatir.


"Apa mungkin Hudoyo sedang kesepian? " gumam Arsa dalam hati.


"Hudoyo, apa kamu... Sedang merasa kesepian? " kata Arsa yang sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan pertanyaan ini. Hudoyo mengangkat kepalanya dan melihat ke langit yang terhampar luas di atas sana.


"Yang kuat memang ditakdirkan untuk kesepian. Saya sudah lama terbiasa dan bersahabat dengan kesendirian." kata Hudoyo.


"Oke, kalau begitu ayo kita pergi. Kita minum bersama. Mulai hari ini, kamu tidak akan sendirian lagi. Kalau kamu mau, aku akan menjadi temanmu selamanya." Arsa langsung mencengkeram lengan Hudoyo dengan tangannya. Memberikan semangat.


"Tuan Muda, terima kasih atas kebaikan Anda, tapi saya benar-benar tidak bisa menerima ajakan Anda." Hudoyo masih dengan tenang menolak.

__ADS_1


"Oke... Kalau kau tidak mau ikut denganku, kamu akan melalaikan tugasmu dalam melindungiku. Jadi kemana pun aku pergi, kamu harus selalu ikut denganku kan? " Setelah Arsa selesai berbicara, tangannya melambai untuk memanggil taksi. Hudoyo benar-benar tidak ingin pergi minum bersama tuan mudanya. Tapi Arsa punya cara untuk membujuk lelaki itu.


Setelah mendapatkan taxi, Arsa membuka pintunya.


"Masuklah ke dalam mobil, mobil kita hancur tertabrak. Kalau kamu tidak ikut denganku sekarang, kamu tidak punya mobil untuk mengikuti aku. Kalau misalnya terjadi bahaya lagi, kamu mungkin tidak bisa datang tepat waktu." kata Arsa sambil tersenyum. Hudoyo terlihat berpikir sejenak lalu masuk ke dalam taxi karena ajakan dari Arsa. Bukan ajakan, tapi paksaan.


Sementara itu, di sisi lain, di dalam rumah Wasis. Dia membuka botol sebuah minuman fermentasi yang sudah di diamkan lama sekali. Sambil mencicipi wine yang sudah di tuang dalam gelas, ada seorang wanita cantik dalam pelukannya, dan suasana hatinya terlihat sangat baik. Karena malam ini adalah hari dimana dia dan Seno melaksanakan sebuah rencana yang telah di susun dengan rapi.


"Arsa, aku sangat tidak yakin kalau kamu masih bisa bertahan hidup malam ini!" Kata Wasis dan setelah itu iya tertawa terbahak-bahak. Wasis tidak berhenti tertawa. Sesaat kemudian, iya la menuangkan anggur ke dalam gelas dan meminumnya dalam sekali tegukan. Wasis benar-benar yakin 100% kalau rencana yang di susun oleh Seno adalah ide yang bagus dan pasti akan berjalan mulus. Memikirkan Arsa yang akan mati karena rencananya tersebut, membuatnya semakin merasa bahagia. Bukan hanya bahagia, dia merasa seolah dunia telah kembali pada genggamannya.


Di saat yang bersamaan dengan bayangan Wasis dalam benaknya, pintu di sebelah sana didorong dari luar. Setelah terbuka, tampaklah Seno yang bergegas masuk. 


"Sesuatu terjadi?" Wasis yang masih tersenyum karena angannya tadi, tiba-tiba menjadi sedikit khawatir.


"Apa yang terjadi? Katakan sekarang juga! " Wasis mendorong jauh wanita cantik dalam pelukannya itu sebelahnya.


"Tuan Wasis, rencana pembunuhan... Gagal lagi. Dan orang yang mengemudikan truk untuk menabrak anak itu ditangkap." Seno menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa? " Wasis langsung berdiri setelah mendengar apa yang di katakan oleh Seno.


"Bagaimana mungkin! Bagaimana rencana mulus seperti itu bisa gagal! Bagaimana mungkin juga anak itu bisa lolos dari maut? " Wasis langsung memberondong Seno dengan pertanyaan. Dulu, ketika dia mengembangkan kekuasannya di Kota Surabaya, dia juga menggunakan cara ini beberapa kali untuk menyingkirkan lawan-lawannya, dan pada akhirnya, semua itu bisa di manipulasi menjadi kejadian kecelakaan lalu lintas. Dan sudah pasti, kecelakaan itu adalah kecelakaan yang dia rencanakan, tanpa ada orang atau pihak lain yang tahu. Dia hanya perlu menyuruh seseorang untuk melengkapinya rencananya. Cara yang di gunakan oleh Wasis dan anak buahnya selalu berhasil dan tidak ada kegagalan sedikitpun. Jangankan kegagalan, kecurigaan dari pihak berwajib pun tidak ada. Dan cara ini sangat mudah di lakukan.


"Tuan Wasis, saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu, tapi kalau informasi tentang sopir truck yang tertangkap di lokasi itu benar!” kata Seno tak berdaya. 


"Brengsek, kamu pasti mencari orang yang tidak bisa diandalkan!" Wasis menampar wajah Seno dengan marah. 


"Tuan Wasis, saya... Saya sudah melakukan yang terbaik. Dulu saya juga merencanakan hal seperti ini Tuan Wasis. Apa anda pernah tahu saya menyusun rencana dan gagal. Dan kali ini, orang yang saya cari benar-benar bisa diandalkan." Seno menutupi wajahnya yang terasa panas dan menatap Wasis dengan takut. 


"Oke, semua orang suruhanmu sekarang sudah ditangkap, jadi apa lagi yang bisa aku lakukan? " Dengan enggan Wasis duduk kembali di sofa. Wasis yang awalnya mengira kalau Arsa pasti akan mati kali ini, tetapi mimpinya gagal lagi.  Setelah itu, dia menutup matanya dan berkata dengan pelan.


"Sopir yang ditangkap itu bisa dipercaya kan? " tanya Wasis lagi.


"Tuan, biaya pembayarannnya sudah saya berikan semua. Dia tidak akan membuka mulut dan tidak akan mengaku kalau pelaku kejadian itu adalah kita?" kata Seno.


"Tuan Wasis percayalah, saya yakin kalau dia benar-benar bisa diandalkan. Dia akan mengakui semua tuduhan dan dia tidak akan pernah menyebut nama anda sepatah katapun." kata Seno dengan tegas. 

__ADS_1


"Aku tidak percaya kalau Arsa Kenandra seberuntung itu! Dia bisa menyelamatkan diri setiap saat kita melakukan rencana. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya! " Wasis menggertakkan giginya sambil berkata.


"Baik tuan, saya akan mencaritahu semuanya." Seno yang merasa ketakutan menjawab dan segera keluar ruangan itu. Takut kalau-kalau Wasis akan bertindak lebih buruk.


__ADS_2