
"Pimpinan Kendi Grub cabang Kota Surabaya? " Setelah wanita gemuk itu mengetahui identitas Arsa, dia berseru dengan terkejut. Dia hanya merasa kalau langit berputar dan seluruh orang tidak dapat berdiri teguh. Bagaimana dia bisa menyinggung perasaan seorang petinggi seperti itu?
Semua orang yang hadir di sana merasa terkejut. Dan di saat yang bersamaan, suara-suara bising mulai terdengar.
"Ya Tuhan, apakah ini pimpinan Kendi Grup itu? Dia terlihat masih sangat muda! "
"Pantas saja dia berani memecahkan kaca itu. Dia orang yang sangat kuat! "
"Perawat gemuk ini telah menyinggung Pimpinan Kendi, dan dia pasti akan menerima hukumannya kali ini!" Para penonton terkejut ketika mendengar identitas Arsa Kenandra. Tidaklah biasa bertemu bos kaya yang berpenghasilan. puluhan milyar. Menurut mereka itu luar biasa. Ini adalah ketua Kendi Grub. Banyak orang bahkan belum pernah melihat peristiwa sebesar ini dengan mata kepala sendiri.
"Tuan Arsa. Ini..." Wajah Direktur berubah.
"Direktur, ini saudara iparmu kan? Apa kamu peduli padanya? Tapi kamu tidak boleh bersikap konyol. Kalau aku mengungkit masalah ini, kamu pasti akan kehilangan posisimu! Nepotisme itu dilarang. " Arsa Kenandra memicingkan matanya, suaranya dingin. Para pasien dan pengunjung di sekitar mereka juga langsung berkata.
"Pak Direktur, perawat gemuk ini selalu bersikap sombong dan mempunyai sikap yang buruk. Sungguh mengejutkan kalau dia adalah adik iparmu!"
"Ya, kamu harus memberi kami penjelasan!"
"Direktur, kamu harus membiarkan dia menanggung akibat dari semua perbuatannya!"
"Tampar saja dia!" ucap seseorang. Direktur mendekat dengan marah ke wanita gemuk itu. Para pasien di sekitar mereka berteriak satu demi satu. Banyak dari mereka yang pernah mengalami sikap buruk dari perawat gemuk itu.
Dua tamparan keras langsung mengenai wajah perawat gemuk itu. Dia menunjukkan ekspresi sedih dan marah, tapi dia tidak berani membalas.
"Direktur, menurutku orang seperti ini tidak cocok bekerja di rumah sakit. Apakah menurutmu itu benar? " kata Arsa Kenandra sambil menatap Direktur.
"Iya, saya setuju tuan muda." Direktur itu mengangguk berulang kali.
Lalu Direktur menoleh dan berteriak pada wanita gendut itu.
"Tunggu apa lagi? Kamu dipecat. Keluar dari rumah sakit ini! Keamanan, usir dia dari sini!" Setelah mendengar kata-kata ini, beberapa petugas keamanan langsung maju untuk mengawal wanita gemuk itu keluar dari rumah sakit. Wanita gendut itu tak berani melawan karena ia juga takut dengan identitas Arsa Kenandra!
"Bagus..." Para pasien di kerumunan itu bertepuk tangan meriah saat melihat adegan ini terjadi. Mereka tentu senang melihat perawat gendut itu dipecat.
"Direktur, saya harap ke depannya Anda dapat memperkuat manajemen Anda, terutama dalam hal sikap staf. Apakah Anda mengerti?" kata Arsa Kenandra sambil menepuk bahu Direktur.
" Mengerti tuan Arsa." Direktur itu mengangguk lagi.
Saat ini, kepala perawat kembali. "Direktur, ruang operasi sudah siap, dan operasi bisa segera dimulai." Kepala perawat melapor kembali.
"Baiklah, bawa kami ke sana." kata Arsa Kenandra. Direktur dan kepala perawat secara pribadi membawa Arsa Kenandra dan Talita ke ruang tunggu di luar ruang operasi. Arsa Kenandra memandang Direktur yang berdiri di depannya dengan hormat.
"Saya sudah melihat operasinya, tuan Arsa. Tingkat keberhasilannya 99%, jadi jangan khawatir,” kata Direktur sambil tersenyum.
__ADS_1
" Itu bagus." Arsa Kenandra menarik napas lega. Talita yang berada di sebelahnya pun menghela nafas lega.
"Direktur, kamu tidak perlu berdiri di sini. Silakan kembali ke tempat dan lanjutkan pekerjaanmu!" Arsa Kenandra melambai kepada Direktur itu.
"Baiklah Tuan Arsa. Jika Anda membutuhkan sesuatu, silakan beritahu saya." Direktur tersenyum patuh.
Kemudian direktur itu berbalik dan pergi.
Setelah Direktur pergi.
"Arsa Kenandra, kamu membantuku lagi kali ini." Talita menggigit bibir dan menundukkan kepalanya
"Bodoh! Kamu itu kenapa bisa bersikap sebodoh ini? Seharusnya kamu memberitahuku sejak awal. Sudah kubilang kita ini teman baik." Arsa Kenandra menyentuh kepala Talita. Talita tiba-tiba mendongak ke arah Arsa Kenandra dan memberanikan diri untuk berkata.
"Arsa, sebenarnya, tentang kamu dan Rita, aku sudah tahu. Karena dialah kamu tidak mau menerimaku kan?" Arsa Arsa memandang Talita dengan heran.
"Apa yang kamu tahu? " Tanya Arsa.
"Aku tahu kamu dan Rita sudah berhubungan badan." Talita ragu-ragu namun iya mencoba untuk berani angkat bicara.
"Kamu... Bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu? " Arsa Kenandra terkejut. Iya tak menyangka Talita akan mengetahui semua ini. Talita pun menundukkan kepalanya.
"Adit memberitahuku. Dia tidak ingin aku salah paham kepada kamu, jadi dia bilang padaku kalau kamu di jebak. Hubunganmu dengan Rita hanyalah karena kamu bersikap sebagai seorang pria sejati. Kamu memutuskan untuk bertanggung jawab atas Rita atas semua kejadian itu, jadi kamu menolakku." jawab Talita lagi.
"Arsa, apakah dia mengatakan yang sebenarnya?" Talita tiba-tiba menatap Arsa Kenandra dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Iya..." Arsa Kenandra mengangguk.
"Benar sekali apa yang dia katakan. Dia berkata jujur. Dan aku menolakmu karena hal itu." Arsa Kenandra mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh Adit melalui jawabannya.
Sekarang Talita sudah mengetahui tentang Arsa Kenandra, dia bertekat kalau harus merahasiakannya dari siapapun.
"Jadi, apakah kamu masih menyimpan aku di dalam hatimu? Apakah kamu masij menyukaiku? " Talita memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut.
"Talita... Iya...!" Arsa Kenandra langsung menjawab tanpa ragu-ragu. Ketika Talita mendengar kata "ya", matanya menjadi berat dan air mata mengalir secara perlahan.
"Sejak kamu mulai menyukaiku, kenapa kamu malah tidak bisa menerimaku? Kenapa?" Talita Olivia menangis dan memukul Arsa Kenandra. Melihat Talita yang menangis Arsa Kenandra tidak lagi menahan dirinya lagi. Kali ini Dia memeluk Talita. Iya memeluknya dengan erat-erat. Pelukan ini, bagi Arsa Kenandra membuatnya sangat nyaman. Hingga akhirnya iya terlalu lama menahan agar Talita tak melepaskannya.
Beberapa kali ia ingin memeluk Talita seperti ini, menghapus air mata dan menghilangkan segala kesedihan orang yang di sayanginya, namun semua itu hanya tertahan dalam hati. Namun, setelah kejadian kemarin, hati Arsa Kenandra berubah.
Kemarin di Resort prmandian air hangat, Arsa Kenandra memberi tahu Rita Maharani. Bahwa jika dia masuk ke mobil Rafa Winston, dia tidak akan berhutang tanggungjawab apapun lagi padanya. Tapi, Rita malah memilih untuk naik ke mobil Rafa Winston. Yang berarti, semua tanggung jawabnya sudah gugur karena sudah memperingatkan. Serta Rita lebih memilih Rafa. Karena sudah tidak memiliki tanggung jawab lagi kepada Rita Maharani, bukan tidak mungkin lagi Arsa Kenandra dan Talita bisa bersama. Iya tidak perlu khawatir lagi tentang Rita Maharani. Sudah ada Rafa yang menginginkannya.
Dan Pelukan itu sudah lumayan lama, Talita juga tidak memberontak.
__ADS_1
"Talita, aku berjanji padamu... Aku tidak akan membuatmu kecewa lagi." ucap Arsa sambil mengusap kepala gadis dalam pelukannya.
"Arsa, aku tahu kamu tidak mempunyai hubungan yang pasti dengan Rita. Aku juga tidak peduli dengan kamu dan Rita. Berjanjilah padaku dan tepatilah janjimu? " kata Talita sambil menangis dalam pelukan Arsa Kenandra. Arsa Kenandra mengeratkan kembali pelukan itu pada Talita, setelahnya, iya melepaskan pelukannya. Lalu memegang kedua bahu Talita dan memandangnya dengan seksama.
"Aku berjanji." jawab Arsa. Setelah itu, Arsa Kenandra mencium kening Talita.
Setelah empat jam menunggu, Talita keluar dari ruang operasi, operasinya berhasil. Namun setelah itu, ibunya masih harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu. Ibu Talita saat ini ditempatkan di unit perawatan intensif dan dirawat dengan perawat terbaik, jadi dia tidak perlu khawatir.
Keesokan harinya, setelah kelas di Universita Kota Surabaya selesai.
"Arsa..." Talita mendatangi Arsa Kenandra dan senyum lebar tercetak jelas di wajahnya. Hari ini, Talita mengenakan kaos merah muda dan celana jeans. Meskipun pakaiannya terlihat sederhana, Talita terlihat sangat cantik. Seorang gadis yang berkulit putih, dan memiliki senyuman menawan di bibirnya. Setelah Arsa Kenandra berdiri, Talita meraih tangannya dan ekspresinya penuh dengan kegembiraan. Mungkin ini karena sudah terjalinnya hubungan di antara mereka, Talita memiliki kulit yang bersinar di saat itu juga. Seluruh esensi, aura, dan semangatnya jauh lebih baik dari biasanya.
"Arsa, apa yang terjadi? " Adit yang duduk di sebelahnya tampak bingung.
"Adit, Talita sekarang adalah pacarku." kata Arsa Kenandra sambil tersenyum.
"Benarkah? Hebat sekali! Selamat ya!" Adit bertepuk tangan gembira.
Dalam perjalanan keluar dari kelas.
"Adit, ayo kita pergi! Aku yang traktir dan kita akan makan malam besar malam ini." Arsa Kenandra berkata sambil tersenyum.
" Bagus... Senang sekali aku bisa merayakannya." Adit berkata dengan gembira. Setelah ketiganya keluar dari gedung kampus, mereka langsung menuju gerbang sekolah.
"Tuan Muda Arsa! " Panggil seorang gadis yang berpakaian bagus dan terlihat mahal. Setelah iya melihat Arsa Kenandra, iya langsung berlari ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Arsa Kenandra memandang gadis itu.
"Kak Arsa, aku ingin berteman denganmu. Bisakah kita berteman? Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau." Gadis itu mengedipkan mata pada Arsa Kenandra. Ketika Arsa Kenandra melihat hal ini, tapi dia malah terdiam.
"Cantik, aku minta maaf. Aku sudah punya pacar. Ini pacarku." Arsa Kenandra memegang tangan Talita.
"Kak Arsa, wajar sekali jika generasi ketiga super kaya sepertimu punya banyak pacar. Aku tidak keberatan." Gadis itu terus mengedipkan mata dan berkata.
"Tapi aku yang keberatan." Arsa Kenandra berkata sambil tersenyum masam.
"Yah, sepertinya aku kurang menawan." Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian gadis itu memandang Talita dengan iri.
"Cantik, aku sungguh iri padamu karena bisa menjadi pacar tuan muda Arsa. Kamu beruntung sekali ya!" kata gadis itu .
"Teman sekelas, aku tidak bersama Arsa karena dia kaya." jawab Talita yang tampak serius.
"Aduh, teman sekelasku, semua orang itu sama saja. Kenapa kamu harus berpura-pura polos seperti itu? " Gadis itu jelas tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Talita.
__ADS_1