Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Tertawa dalam hati


__ADS_3

"Tidak. Aku tidak ingin di duduk di ruangan VVIP, tapi tentu saja aku tidak ingin diganggu." Kata Arsa datar.


"Aku harus ke tilet dulu." ucap Arsa lagi.


"Baik tuan, silahkan anda ke toilet." kata Aan. Setelah itu, Arsa pun langsung berjalan ke dalam toilet.


Setelah keluar dari toilet, Arsa kembali ke tempat duduknya di samping Rena yang masih sesumbar dengan kekasihnya. Saat itu, seorang pemuda kecil berambut merah datang.


"Hai... Si kecil yang cantik, bagaimana kalau kamu berdansa denganku?" suara lelaki muda berambut merah itu terdengar sambil menatap Rena.


Melihat apa yang di lakukan orang tadi, Aldo langsung menggebrak meja, berdiri, menatap pemuda berambut merah itu dengan angkuh.


"Hei, dia milikku. Kamu mau mencoba mengambil milikku. Apa kamu tidak menganggapku ada?" kata Aldo. Iya berbicara, dan pada saat yang sama. Lengan bajunya juga digulung hingga memperlihatkan tato di lengannya.


"Kalau kamu punya tato, terus kenapa? " Pemuda berambut merah itu tidak menunjukkan tanda-tanda takut, dan iya pun langsung menarik pakaiannya, memperlihatkan tato harimau di dadanya.


"Aku akan mengambil gadismu dan menjatuhkannya di pelukanku? Bersiaplah dan minggir, kalau tidak , aku akan membunuhmu seperti orang bodoh." Pemuda berambut merah itu berkata dengan sombong.


" Sayang pukul saja dia! " Rena menarik Aldo dan tampak bersemangat ketika dia melihat kedua belah pihak akan bertarung.


Arsa melihat di belakang dengan diam. Dia hanya menyesap anggur dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Orang-orang ini sepertinya berusia di bawah dua puluh tahun, tapi dia berpura-pura hebat. Arsa ingin tertawa melihat semuanya.


Pada saat ini, beberapa penjaga keamanan bar yang melihat kejadian itu datang.

__ADS_1


"Hei, tempat ini dilindungi oleh Aan. Jangan membuat masalah di sini." Beberapa penjaga keamanan memperingatkan anak-anak muda itu, Aldo dan seorang anak berambut merah yang baru datang.


"Kamu... Ayo kita keluar dan lihat siapa yang akan memenangkan gadis ini! " teriak pemuda berambut merah itu.


"Siapa takut sama kamu! " Aldo secara langsung tidak mau menunjukkan kelemahannya. Para itu berjalan luar bar.


"Apakah kamu akan bertarung? Itu sebuah ide bagus! " Rena sangat bersemangat, dan dia hanya bisa mengikuti kekasihnyanya.


Di luar bar, hari sudah malam. Arsa melihat Rena mengikuti mereka, jadi Arsa harus mengikuti juga. Laki-laki bernama Aldo dan pemuda berambut merah itu tidak langsung melakukannya. Mereka berdua menyentuh ponsel mereka, dan mulai menelpon orang-orang yang mendukungnya.


"Wow. Apakah ini akan menjadi pertarungan kelompok? Aku sangat bersemangat." Rena sangat senang melihat semuanya.


"Rena, ini akan menjadi sebuah tawuran." Saat Arsa mendengar kata-kata dari adik assistannya itu, tidak bisa menahan diri untuk tidak memalingkan matanya.


"Kamu pintar sekali menjawab gadis pwmbangkang. "Arsa berkata dengan tak berdaya.


"Menurutmu siapa gadis yang otaknya rusak? " Rena melingkarkan tangannya di pinggangnya.


"Jika kamu mau melihat mereka bertarung nanti, kamu akan tahu itu hebat dan menyenangkan." Kata Arsa. Setelah mengikuti bersama Rena malam ini, Arsa sadar bahwa Rena adalah wanita pemberontak yang mendambakan mafia. Rena mungkin hanya melihat pemandangan orang-orang campur aduk di jalan. Tapi dia tidak melihat bahaya di baliknya.


Setelah beberapa menit kemudian, di semua sisi, seseorang berkata, "Itu dia."


 Dengan suara gemuruh mesin yang melengking, lima sepeda motor trek datang. Tampilan sepeda motor trek ini terlihat keren dan sederhana, sehingga banyak digandrungi oleh sebagian pelajar dan generasi muda masyarakat. Kelima sepeda motor trek tersebut di naiki oleh dua orang yang duduk di belakang dan 1 pengemudi. Jadi, kelima sepeda motor hantu ini memuat total lima belas orang.

__ADS_1


Arsa melihatnya, dan melihat bahwa mereka semua mengecat rambut, didandani dengan gaya remaja yang berjiwa sosial. Dilihat dari usia mereka, mereka semua terlihat berusia di bawah dua puluh tahun. Masing-masing membawa tongkat teleskopik murah di tangannya.


"Rena, inilah orang-orang yang aku panggil, dan pemimpin mereka adalah kakak laki-lakiku!" Aldo berkata dengan bangga.


"Wow keren sekali. " Rena sangat senang.


Saat ini, kelima belas orang itu datang.


"Aldo, siapa yang menindasmu?!" Pria berambut keriting itu bertanya.


"Zack, itu anaknya." Aldo menunjuk ke arah pemuda berambut merah .


"Jangan khawatir. Aku akan membereskannya untukmu." Zacky berkata dengan bangga.


"Terima kasih, Zack!" Aldo bahkan mengucapkan terima kasih. Si Aldo menoleh ke arah pemuda berambut merah dengan bangga,


"Hai, apakah kamu melihat mereka? Inilah orang-orang yang ku panggil tafi. Tunggu saja sampai kamu dipukuli sama mereka!" kata Aldo.


"Kamu yang memanggil orang-orang ini? Maka sebaiknya kamu menunggu sampai kamulah yang dipukuli! " Pemuda berambut merah itu tertawa. Saat itu terdengar suara gemuruh mesin lagi yang melengking. Kali ini ada lima belas sepeda motor Trek, dengan total lebih dari empat puluh anak muda yang turun. Lebih dari empat puluh anak muda yang baru datang ini telah berjalan ke pemuda berambut merah di depan mereka. Terluhat dengan Jelas, empat puluh orang aneh ini datang untuk pemuda berambut merah.


Ketika Arsa melihat orang-orang ini, dia menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Paling-paling, mereka hanya bisa dianggap sebagai pemuda di masyarakat, jauh dari orang-orang yang benar-benar hebat dalam hal bela diri.


"Lihat dia! Bagaimana dia bisa mamanggil begitu banyak orang?! " Ketika Aldo melihat jumlah musuh, wajahnya berubah.

__ADS_1


__ADS_2