
"Oke, mari kita lihat pelelangan hari ini. Siapa yang masih bisa tertawa nanti di akhir acara." kata Arsa sambil tersenyum. Wasis tidak menjawab apa yang di katakan oleh Arsa lagi. Dia berbalik dan berjalan ke tempat duduknya. Dia juga duduk di kursi VIP di baris pertama. Tapi Wasis berada di sebelah kiri dan Arsa di sebelah kanan. Mungkin saja pihak pelelangan sengaja memisahkan kedua belah pihak.
Beberapa menit kemudian, semua bos sudah duduk.
'Klik' Lampu utama ruang pelelangan itu tiba-tiba dimatikan, hanya menyisakan beberapa lampu kecil dan lampu panggung. Pada saat yang sama pula, seorang pembawa acara berjalan ke atas panggung dengan tenang.
"Selamat datang semua bos di acara lelang tahunan Kota Surabaya" kata pembawa acara tersebut. Sedangkan tuan rumah tampak sangat antusias. Setelah pembawa acara naik ke panggung, ia memberikan sambutan singkat tentang lelang hari ini. Setelah itu, iya mempersilahkan beberapa kader dari Kota Surabaya untuk memberikan pidato di atas panggung. Pidato itupun berakhir setelah lima belas menit telah berlalu.
"Saya pikir semua bos yang hadir di sinj tidak sabar menantikan dimulainya pelelangan bukan? Baiklah, kita tidak akan membuang banyak waktu lagi karena pelelangan akan resmi dimulai." Pembawa acara tersebut mengangkat tangannya. Saat ini, barang lelang pertama didorong ke atas panggung. Lelang pertama adalah lukisan. Penyelenggara membuka harga awal sebanyak 10 juta. Sebuah karya seni yang berasal dari tangan seniman terbaik.
Arsa tidak mendengar dengan jelas. Iya bahkan tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan. Acara itu membuat Arsa merasa sangat mengantuk. Tak perlu membuang banyak waktu, Arsa terkejut karena karya seni itu di tawar oleh beberapa penawar. Yang akhirnya, salah satu bos mendapatkannya dengan harga 55 juta sebagai harga akhir.
"Tiga juta lima ratus ribu." kata pembawa acara. Barang kedua yang dilelang adalah vas antik. Arsa juga tidak tertarik, dan pemenangnya adalah seorang bos dengan harga akhir seharga 4.000.000.
__ADS_1
Barang ketiga yang dilelang adalah gelang giok kaca dengan harga mulai dari 45.000.000. Baru saja dimulai. Penawaran terdengar satu demi satu.
"Fendi, gelang apa itu? " Arsa menatap Fendi. Iya yang dulunya adalah anak yang malang. Meskipun dia mengenal batu giok, dia tidak mengetahui rincian yang sangat spesifik tentang batu giok. Fendi pun menatap panggung dan berkata,
"Tuan Arsa, yang saat ini di lelang adalah jenis batu giok terbaik. Batu ini memiliki warna yang sangat bagus. Jika tidak ada salah, harganya biaa mencapai puluhan juta." kata Fendi sambil menatap Arsa.
"Apa tuan tertarik dengan gelang giok ini? " tanya Fendi sambil menatap Arsa dengan penasaran.
"Iya, aku sedikit tertarik dengan barang ini." kata Arsa dengan tersenyum. Dan saat itu, seseorang sudah menawarnya dengan harga tinggi, yaitu 111.500.000 juta.
"Saya akan membayar 150.000.000." pada saat itu pula, terdengar sebuah suara nyaring. Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Saat mereka melihat, mereka bisa mengenali siapa yang barusan menawar dengan harga tinggi itu. Siapa lagi kalau bukan Arsa, pimpinan kendi grup.
"Pimpinan kendi grub memang sangat elegan. Iya langsung menawar 150 juta dalam dalam sekejab." kata seseorang yang merasa takjub dengan apa yang Arsa lakukan.
__ADS_1
"Tuan ZAE. Saya menyukai gelang giok ini. Anda tidak apa-apa kan? " tanya Arsa kepada pimpinan ZAE grub yang ada tidak jauh darinya.
"Tidak tuan, tidak... Saya baik-baik saja." kata bos ZAE sambik tertawa. Dia baru saja menawar dengan harga 111.500.000 karena iya merasa tertarik. Tapi saat mendegar Arsa yang menawar dengan harga jauh di atasnya, dia tidak berfikir untuk bisa mendapatkan benda itu lagi. Iya tidak mungkin berebut dengan Arsa yang asetnya saja tidak sebanding.
"150 juta. Batu giok ini milik tuan Arsa Kenandra saat ini." Melihat tidak ada yang menawar lagi, tuan rumah langsung menjatuhkan palu.
Selanjutnya, pelelangan terus berlanjut, dan masih banyak lagi barang yang dilelang, tapi Arsa sudah tidak membeli apa pun lagi. Iya tak tertarik sama sekali. Yang ditunggu dirinya adalah puncak terakhir lelang ini, lelang tanah.
Di atas panggung, setelah barang yang dilelang sudah habis.
"Baiklah, untuk para tuan-tuan yang terhormat, selanjutnya adalah puncak dari pelelangan kita hari ini, pelelangan tanah." Pembawa acara berkata dengan suara lantang. Ketika para bos di antara para hadirin mendengar kalimat ini, mereka semua langsung ingat kepada Tuhan dan berdo'a.
"Sebidang tanah pertama ada di sebelah timur Gereja. Sepetak tanah dengan harga mulai 1,7 milyar rupiah." kata pembawa acara.
__ADS_1
Tiba-tiba, tidak lama setelah itu terdengar suara penawar pertama.
"Tuan Arsa, tanah ini berada di pinggiran kota. Tanah Itu tidak bernilai tinggi. Perusahaan kita tidak bisa menggunakannya untuk mengembangkan bisnis." kata Fendi. Arsa pun menganggukkan kepalanya. Beberapa bidang tanah memang harus menjadi perebutan. Fendi sudah memberitahu Arsa kalau tanah itu tidak strategis dan tidak sesuai dengan planning perusahaan. Akhirnya mereka menunggu lelang tanah selanjutnya.