
Keesokan harinya, jam 10.30 pagi di luar Kendi Square.
Proyek untuk kawasan lindung telah diselesaikan, yang merupakan proyek terpenting tahun berikutnya untuk cabang Kota Surabaya dari Kendi Group. Sebidang tanah ini adalah hadiah besar dari kakeknya untuk Arsa. Selama dia melakukan pekerjaan dengan baik dalam proyek ini, dia pasti bisa menghasilkan banyak uang.
Sekarang setelah proyek selesai, langkah selanjutnya adalah fokus pada seluruh Kota Surabaya. Untuk melakukan banyak iklan, hal ini biasa disebut dengan publisitas! Banyak papan reklame di pajang pinggir jalan, angkutan umum, dan iklan pinggir jalan. Semua telah diluncurkan satu demi satu.
Hari Ini, beberapa kolega dari departemen publisitas perusahaan, serta beberapa pekerja sementara, datang ke Kendi Square yang ramai untuk membagikan selebaran untuk publisitas. Untuk meninjau lebih detail, Arsa masuk jauh ke proyek terkecilnya di kota Surabaya, serta untuk meningkatkan moral semua orang yang menjadi karyawannya, Arsa memutuskan untuk memimpin mereka semua pagi ini untuk membagikan selebaran.
"Halo cantik. Ini adalah proyek baru dari Kendi Group. Coba lihat!"
"Hai Tampan, ini proyek Kendi grub yang baru kami. Coba lihat." Arus orang yang hadir di Kendi Square begitu deras, sehingga Arsa sudah bisa membagikan banyak selebaran dalam satu jam.
Pada saat yang sama, dua pemuda datang.
"Hai pemuda Tampan, ini adalah proyek baru dari Kendi Group. Coba lihat." Arsa menyerahkan selebaran lain kepada mereka berdua. Arsa mengerutkan kening setelah salah satu pria itu mengambil selebaran itu.
"Apakah kalian tidak bosan membagikan selebaran seperti ini? aku tidak menginginkannya!" Dia berkata.
__ADS_1
"Kalau tidak salah, kamu adalah Arsa Kenandra!” Pemuda itu tiba-tiba menatap Arsa dan berseru. Pemuda yang satunya dengan rambut di semir kuning juga terkejut.
"Ini benar-benar Arsa Kenandra!" katanya.
"Siapa kamu?" Ketika Arsa melihat mereka berdua memanggil namanya, dia menatapnya dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Kamu tidak ingat kami lagi? Aku teman SMA-mu, Roni Septihan!" Kata pemuda itu.
Pria berambut kuning itu pun juga berkata, "Aku Febrian Adeno!"
"Roni Septihan! Febrian Adeno? " Gumam Arsa. Kedua nama ini sudah tidak asing lagi bagi Arsa. Mereka semua adalah teman sekelas Arsa dari SMA, namun penampilan keduanya berubah menjadi orang yang berbeda. Arsa tidak mengenali mereka sama sekali. Selain itu, Arsa dulu juga pernah memiliki kesan buruk tentang mereka. Karena mereka berdua adalah preman di kelas mereka saat di SMA. Sedangkan Arsa, dia adalah murid yang baik yang suka belajar dengan keras. Kelompok mereka setiap hari kemungkinan besar selalu membuat masalah dengan siswa yang baik seperti Arsa, segala macam masalah selalu di buat untuk mempermainkannya. Dan hal Itu benar-benat tak tertahankan untuk Arsa. Prestasi akademik asli Arsa bisa membuatnya diterima di universitas-universitas ternama. Karena dia di bully oleh sekelompok orang ini, hingga menyebabkan trauma besar di hati Arsa. Hal itu akhirnya menyebabkan penurunan prestasi akademik Arsa. Akhirnya ia hanya diterima di universitas biasa setempat.
Roni Septihan dan Febrian Adeno adalah dua dari bajingan itu. Arsa melirik apa yang mereka kenakan. Mereka berdua mengenakan merek-merek terkenal dan memandang diri mereka sendiri dengan angkuh.
Roni Septihan mencemooh dan berkata,
"Arsa, kamu belajar dengan sangat baik di SMA.dulu. Kenapa kamu begitu rendahan, mau membagi-bagikan brosur di jalan? Kamu benar-benar payah." Sementara Roni berbicara, dia dengan sengaja mengotak-atik jam tangan terkenal yang bernilai puluhan juta di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Febrian Adeno di sebelahnya juga mencemooh,
"Arsa, kamu sangat menyedihkan. Sejujurnya, sebagai teman lamamu, kami malu padamu." Setelah Febrian selesai berkata, dia mengeluarkan satu set kunci BMW dan menggoyangkannya di depan Arsa, jelas-jelas dia sedang pamer pada Arsa.
"Apakah sudah sangat bagus mengendarai mobil BMW? Mobil rendahan seperti ini, terlalu murah untukku." Arsa yang di diremehkan pun dan berkata sambil tersenyum,
"Apakah kamu bercanda? " kata Febrian sedikit terkejut. Arsa saja mengendarai Lamborghini Daniel, di bandingkan dengan mobil BMW, mana yang lebih berkelas? Arsa sekarang adalah cucu dari Andi Sudiryo, generasi ketiga yang paling kaya di kota Surabaya!
"Apa? kamu tahu, dengan aku yanh mengendarai mobil ini, benar-benar medorongmu untuk kehilangan harga diri?" Keduanya benar-benar memamerkan kekayaannya di depan Arsa, generasi ketiga orang terkaya? Ini bukan hal yang sangat konyol! Febrian maupun Roni tertawa terbahak-bahak, penuh sarkasme.
"Arsa, kamu bilang kita mengendarai BMW yang berada di kelas bawah, jadi mobil mewah apa yang kamu kendarai? " tanya Roni sambil tertawa.
"Apakah kamu benar-benar ingin mendengarnya? Aku khawatir kalau aku mengatakannya, apa yang kamu dengar akan membuatmu takut sampai mati berdiri." Arsa tersenyum di sudut bibirnya.
"Apa? Kamu bisa menakuti kami sampai mati bediri? " Roni dan Febrian tertawa lagi sampai terbahak-bahak.
"Arsa, kenapa kamu tidak segera mengatakannya? Aku akan melihat mobil seperti apa yang kamu kendarai jika itu bisa membuat kita takut setengah mati." Roni tersenyum sambil berkata seolah-olah meremehkan teman lamanya itu.
__ADS_1
"Lamborghini Daniel." Kata Arsa dengan suara kalem.
"Apa? Apakah kamu mengendarai Lamborghini Daniel? Lalu kita mengendarai kereta Batman!" Roni dan Febrian tertawa seolah-olah mereka telah mendengar lelucon besar.