Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Sumbangan untuk Panti Asuhan


__ADS_3

Di gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Arsa tidak mengendarai Lamborghininya hari ini saat berkunjung ke panti Asuhan. Dia mengendarai mobil perusahaan, karena dia datang ke panti asuhan untuk melakukan perbuatan baik. Dan dia masih ingin tetap terlihat low profile.


" Itu dia... si Aprilia kan? " Tak lama kemudian setelah sampai di depan gerbang panti asuhan, Arsa memarkir mobilnya dan melihat sosok yang dikenalnya berjalan keluar dari panti asuhan. Orang yang baru keluar dari panti asuhan itu adalah Aprilia.


"Bagaimana dia bisa keluar dari panti asuhan ini? " Arsa tampak terkejut melihat sosok polwan muda yang cantik itu. Aprilia melewati mobil perusahaan kendi grub tempat Arsa duduk, tapi karena apa yang ada di dalam mobil tidak bisa terlihat dari luar, Aprilia pergi dan berlalu begitu saja. Dia tidak melihat Arsa yang berada di dalam mobil. Aprilia langsung pergi menuju ke mobil polisi yang berada di dekat mobil perusahaan Arsa, kemudian pergi dari tempat itu dengan mengendarai mobil polisi tersebut.


Setelah Aprilia pergi, Arsa keluar dari mobil bersama Hudoyo dan berjalan menuju panti asuhan. Bangunan Panti asuhan itu terlihat sudah sangat tua. Segala macam fasilitas di dalamnya juga sudah sangat usang. Sepertinya, panti asuhan ini memiliki sejarah yang panjang.


"Bangunan ini terlalu tua. Aku khawatir banyak fasilitas yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Aku rasa sudah waktunya untuk merenovasi. Dan Ini adalah waktu yang tepat untuk merenovasi.tempat ini." Arsa menghela nafas sambil berjalan.


"Perkonomian panti asuhan biasanya sangat sulit. Untuk bisa makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Kemungkinan besar kalau mereka selalu menekan pengeluaran sehari-hari. Tidak mungkin mereka punya uang untuk merenovasi, karena hal itu membutuhkan biaya yabg tidak sedikit." kata Hudoyo. Dia dibesarkan di panti asuhan, jadi dia tahu banyak tentang bagaimana kehidupan di panti asuhan. Arsa pun mengangguk tanda mengerti. Hal yang terjadi kemarin saja, sidah bisa di pastikan kalau panti asuhan itu tidak bisa memiliki uang walaupun hanya 8 juta. Mereka harus meminta bantuan secara terbuka kepada masyarakat luas.


Ketika Arsa datang dan masuk ke gedung utama, Devina dan seorang wanita tua berambut putih secara keseluruhan sudah berdiri di depan gedung, mereka menunggu kedatangan Arsa.

__ADS_1


"Tuan Arsa, ini dia bu. Ini adalah tuan Arsa yang saya ceritakan kemarin." kata Devina sambil buru-buru menyapa Arsa sambil tersenyum. Wanita tua di sebelahnya juga berkata sambil tersenyum.


"Selamat pagi tuan Arsa. Saya adalah Kartini, pengasuh Panti Asuhan Kasih Bunda ini. Saya menyambut Anda atas nama panti asuhan ini. Saya juga mendengar tentang Anda dari Devina kemarin. Terima kasih atas bantuan anda." kata wanita tua itu.


"Selamat pagi bu." Arsa langsung mendekat dan bersalaman dengan ibu pengasuh panti asuhan.


"Ngomong-ngomong, izinkan saya memperkenalkan Anda kepada teman saya. Ini namanya Hudoyo." Arsa menunjuk ke arah Hudoyo.


"Selamat pagi juga Tuan Hudoyo." Devina dan ibu pengasub panti itu juga menyapanya, meskipun mereka merasa namanya sangat Familiar.


"Maaf, bu Kartini, nona Devina, kami di sini hari ini, tujuan utama kamu adalah untuk menyumbangkan uang ke panti asuhan ini " kata Arsa dengan senyum tulus.


"Ini adalah cek senilai 500 juta, yang merupakan hajat saya dan Hudoyo." kata Arsa kembali.

__ADS_1


"Lima ratus juta? " gumam Bu Kartini dan Devina. Arsa pun langsung mengeluarkan cek yang telah disiapkan dan menyerahkannya kepada Devina. Baik bu Kartini maupun Devina tampak kaget saat mendengar jumlah sebanyak itu.


Bagi mereka, jumlah ini merupakan angka yang sangat membuatnya terkejut. Panti asuhan Kasih bunda, biasanya menerima sumbangan dari masyarakat sebanyak puluhan hingga ratusan ribu dan paling tinggi. Tapi kali ini, lima ratus juta sekaligus benar-benar di serahkan untuk donasi? Ini benar-benar hal baru yang mereka alami.


"Tuan Arsa, uanh ini terlalu banyak." kata Devina tampak terkejut.


" Devina, aku menyumbangkan uang ini ke panti asuhan, bukan untukmu secara pribadi. Kamu tidak berhak menolak." kata Arsa sambil tersenyum. Setelah itu, Arsa menyerahkan cek itu langsung ke tangan Devina.


"Kalau begitu aku akan berterima kasih atas nama anak-anak itu." Devina membungkuk dalam-dalam kepada Arsa.


"Atas nama anak-anak, saya juga ingin berterima kasih kepada Anda. Tuan Arsa, karena kepedulian anda kepada kami, kami merasa seperti mendapatkan berkah. Panti asuhan kami sangat kekurangan uang, sehingga kami bahkan tidak dapat mempunyai uang untuk anak-anak berobat ke dokter. Uang ini adalah berkah yang datang tepat waktu untuk panti asuhan kita." Tangan bu Kartini gemetar karena kegirangan.


"Iya, uang sebanyak ini sangat penting untuk panti asuhan ini. Tuan Arsa dan Tuan Hudoyo. Anda benar-benar contoh orang baik untuk orang lain, yang anda lakukan adalah sebuah hal baik. Yang kelak akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk semua keluarga panti asuhan ini." Devina sangat gembira sehingga dia menetedkan air mata terharu. Iya menangis tulus merasakan kebahagiaan. Devina tahu betul, betapa pentingnya uang itu untuk panti asuhan yang mereka jaga selama ini.

__ADS_1


__ADS_2