Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Mengirim Anak Buah


__ADS_3

"Wasis Adiguna, jika kamu tidak percaya, kamu akan mengetahuinya dalam.waktu dekat. Tentu saja, ini adalah eksperimen dengan hidupmu." ucap Arsa. Ekspresi wajah Wasis menjadi pucat saat pistol berbunyi.


"Jangan ! Jangan ! Jangan ! Jangan tembak ! " Wasis berteriak pada Arsa . Dahi Wasis dipenuhi keringat. Sudah jelas dia sangat ketakutan.


Wasis adiguna tidak bisa membayangkan kalau misalnya Arsa Kenandra memiliki senjata sungguhan. Yang ada dalam fikirannya, dia akan selesai hidup di dunia ini hanya dengan satu tembakan saja. Dia mengira, dalam lingkup kehidupan Arsa, pistol itu asli. Karena Arsa adalah salah orang terkaya di kota tersebut.


Arsa merasa lega saat mendengar Wasis berkata 'jangan tembak'. Namun Arsa, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah akan hal itu.


"Jangan tembak katamu? Ini kesempatan bagus untuk membunuhmu. Begitu aku menarik pelatuknya, kamu akan mati. Kenapa aku tidak menembakmu saja?!" ejek Arsa.


"Kalau kamu menembak, begitu aku mati, delapan pengawalku pasti akan datang dan membunuhmu! banyak peluru di senjatamu itu tidak akan cukup untuk menghancurkan mereka! " Wasis mengertakkan gigi.


" Sepertinya memang begitu." Arsa berpura-pura terlihat bingung.


Lalu Arsa Kenandra berkata, " Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang? " Wasis menyeka keringat dingin di keningnya dan berkata dengan tegas tersenyumlah.


"Jika kamu tidak menembak, aku tidak akan membiarkan pengawalku bergerak ke arahmu. Kita tinggalkan satu sama lain, dan kita semua aman dan selamat. Bagaimana kalau begitu?"

__ADS_1


Arsa menunjukkan pandangan berpikir. "Oke!" jawab Arsa.


Beberapa saat kemudian, Arsa berkata, "Bawa anak buahmu, dan keluar dari sini!"


"Ayo pergi! Pergi! Pergi!" pemikiran Wasis bertemu dengan pikiran Arsa dan dia merasa lega. Wasis dengan cepat memanggil anak buahnya, berbalik, dan masuk ke mobil di sebelahnya. Mercedes Wasis, dan mobil bisnis hitam pengawalnya, berangkat dari rumah sakit.


Setelah menyaksikan mobil Wasis adiguna menghilang. Arsa menghela nafas lega dan langsung ambruk duduk di tanah. Arsa baru saja merasa di ikat dengan ikatan yang begitu kuat, dan sekarang, setelah Wasis adiguna pergi, tubuhnya yang di ikat itu perlahan telah mengendur.


Pada saat ini, Arsa masih bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Bahkan punggungnya telah basah semuanya oleh keringat dingin.


Arsa pasti sudah mati di sini hari ini jika dia benar'benar di serang oleh anak buah Wasis!


"Aku harus mencari cara untuk mendapatkan peluru kembali! " Arsa bergumam pada dirinya sendiri. Lagi pula, Hudoyo tidak bisa bersamanya sepanjang waktu, sama seperti ketika Hudoyo bekerja untuk Arsa. Jadi, ketika Hudoyo pergi, dia harus mengandalkan pistolnya. Setelah duduk di tanah sebentar, Arsa bergegas ke mobilnya dan pergi. Pada saat yang sama, Arsa bergegas memanggil Fiko Reliso. Dia memintanya mencari cara untuk membantunya mendapatkan peluru pistolnya yang sudah habis.


Di dalam mobil Wasis adiguna.


"Sial, gantung sekali!" Wasis menyeka keringat dingin di dahinya, dan barusan dia sama takutnya dengan Arsa.

__ADS_1


"Tuan Wasis, karena pengawal anak itu sedang tidak ada, mengapa kita tidak diam-diam mengirim seseorang untuk melakukannya malam ini?" Seorang pengawal menyarankan.


"Ya!" Wasis tiba-tiba mengangguk.


"Nah, ketika kita sudah sampai nanti, kamu harus mengatur semuanya. Pilihlah orang yang terbaik untuk menyelinap ke rumah anak itu dan bunuh dia!" kata Wasis adiguna.


"Baiklah, Tuan Wasis!" Pria itu sudah pasti adalah anak buah Wasis Adiguna.


"Ingat, selama kamu bisa membunuhnya, aku akan memberimu satu persen dari saham perusahaan!" kata Wasis.


"Benarkah? Terima kasih, Tuan Wasis! Saya harus menyelesaikan rencana ini dan menyingkirkan anak itu!" Pria itu berkata dengan penuh semangat. Satu persen dari saham perusahaan, jelas bukan angka yang kecil!


Saat itu jam sebelas malam. Arsa sudah ada di rumah. Ketukan pintu berbunyi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Arsa bangkit dan pergi membuka pintu. Setelah pintu dibuka, ada sepuluh pria berbaju hitam yang terlihat! Arsa sudah menemui mereka hari ini, karena mereka adalah pengawal berpakaian hitam yang bersama Wasis saat itu.


"Apakah Wasis adiguna yang menyuruhmu ke sini?" Wajah Arsa berubah. Pria berbaju hitam itu berdiri di depannya.


"Benar, Tuan Arsa. Kami di sini untuk mengirim Anda ke Alam kubur." Lelaki besar berbaju hitam itu tersenyum. Lelaki berbaju hitam itu langsung mengangkat pisaunya dan mengibaskannya langsung ke arah Arsa.

__ADS_1


__ADS_2