
"Apa? Apakah kamu mengendarai Lamborghini Daniel? Lalu kita mengendarai kereta Batman!" Roni dan Febrian tertawa seolah-olah mereka telah mendengar lelucon besar.
"Arsa, aku pikir kamu sedikit lebih baik dari sebelumnya, karena sekarang yang aku lihat, kamu belajar cara menyombongkan diri. Bocah nakal, hanya menjadi orang yang membagikan selebaran saja, berani menyombongkan diri. Mengaku bahwa dia mengendarai Lamborghini! Kamu benar-benar tidak tahu malu." Roni tersenyum. Febrian maju dan menepuk pundak Arsa dan berkata sambil tersenyum,
"Arsa, kamu bisa kembali membagikan selebaran di bawah terik matahari ini. kita akan perawatan dan pijat untuk merawat kesehatan kita, dan orang-orang seperti kamu, mungkin harus membagikan brosur seumur hidup mu." Setelah itu, Febrian dan Roni pergi dengan senyum puas. Arsa menatap punggung kedua pria itu dan mencibir.
"Inilah yang disebut kesuksesan seorang penjahat bukan?" Kemudian, Arsa mengambil selebarannya kembali dan terus membagikannya. Dia yakin akan ada waktu yang tepat untuk berurusan dengan mereka kembali.
Bersamaan dengan kepergian mereka, kedua teman sekelas Arsa saat SMA dulu, Pada saat ini juga, sepasang pria dan wanita muda lainnya berjalan mendatanginya secara langsung .
"Tuan, nona, ini adalah proyek baru Kendi Grup. Coba lihat." Arsa menyerahkan selebaran itu kepada mereka berdua.
"Ah! "Ketika wanita muda itu mau mengambil selebaran yang di berikan oleh Arsa, dia berteriak ketika kopi di tangannya yang lain tumpah ke bajunya.
"Kamu, dasar pria payah! Bajuku jadi kotor kan. Apakah kamu tahu seberapa mahal bajuku? " Wanita muda itu berteriak pada Arsa dengan ekspresi marah di wajahnya.
__ADS_1
" Yah, aku sangat menyesal, maafkan aku! " kata Arsa. Pria muda di sebelahnya berteriak langsung pada Arsa.
"Apakah permintaan maaf saja cukup? Bayar ganti rugi! Jika kamu tidak mau membayar Satu juta rupiah, kamu tidak akan bisa pergi." Arsa mengerutkan keningnya.
"Tuan, nona, tadi setelah dia mengambil selebaran itu, dia memiringkan tangannya yang sedang memegang kopi dan menumpahkannya dengan sembarangan. Saya sudah berkata kalau saya minta maaf. Saya tidak melakukan apa-apa, tapi Anda berdua malah ingin saya membayar Satu juta rupiah. Apakah menurut Anda tidak terlalu berlebihan? " Arsa bukanlah orang yang sombong dan mendominasi, terlepas dari benar dan salah, jika benar dia yang menumpahkan kopi, maka dia akan membayar mereka sebagai bentuk tanggung jawab. Di sini malah Arsa di minta membayar Satu juta rupiah. Lalu, siapa yang tidak tahu malu di antara mereka?
"Beraninya kau menjawab kembali, padahal kamu hanya petugas membagikan brosur? Kamu benar-benar bajingan rendahan. Suamiku bisa menginjakmu sampai mati dalam satu menit! " Wanita itu berteriak pada Arsa dengan angkuh.
"Wanita jelek, tolong tutup mulutmu. Sulit untuk mengatakan siapa yang akan menginjak siapa sampai mati." kata Arsa dengan nada dingin. Arsa dulu memang orang miskin. Meskipun sekarang dia sudah kaya, dia belum mau merubah penampilannya. Dia tidak suka terlihat mewah untuk saat ini. Iya masih berusaha untuk hidup sederhana. Tapi, hal itu tidak berarti siapa pun bisa menginjaknya.
"Kamu! Kamu menyebutku jelek?" Wanita itu tampak jengkel.
"Kamu!" Wanita muda itu gemetar karena marah. Kemudian, dia menoleh ke suaminya.
"Sayang, anak laki-laki ini menggangguku. Kamu harus melakukan sesuatu untukku! " wanita itu berkata.
__ADS_1
"Jangan khawatir sayang, aku akan melindungimu! " kata pemuda itu. Pria muda itu berbalik dan menatap Arsa dan berkata dengan suara dingin.
"Beraninya Kamu... Kamu itu seharusnya sadar diri. Kamu hanya seorang distributor pamflet. Beraninya kamu bersikap dengan begitu sombong? Apakah kamu tahu siapa aku? Apakah kamu tahu konsekuensi bermain-main dengan aku? Ayahku adalah salah satu petinggi di Kendi Square." kata pemuda tersebut yang sudah tersulut emosi.
"Maaf, saya tidak peduli siapa Anda. Toh anda tidak lebih baik dari saya," kata Arsa dengan tenang. Setelah mendengar kata-katanya Arsa, pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Wanita muda itu juga mencibir.
"Heh... Kamu tukang bagi-bagi selebaran. Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu? Kamu tahu... Suaramu Itu lucu sekali!" wanita tadi berkata dengan begitu bangga.
"Kendi Square itu luar biasa, dan kamu bilang ayahmu adalah salah satu petinggi di sana? Ayahmu pasti langsung mengangguk dan berpura-pura menjadi anjing yang setia begitu dia melihatku. Aku hanya perlu mengatakan satu kata, dan ayahmu pasti akan dipecat. Paham!" Kata Arsa dengan tenang. Pasangan itu tertawa lagi.
"Boy, kamu bisa menyombongkan diri begitu tinggi!" kata Peuda tadi dengan geram. Saat itu, seorang pria paruh baya berjas, membawa secangkir kopi, berlari cepat ke sana.
"Tuan Sarga? " Sekilas pemuda itu mengenali pria paruh baya itu. Lalu, pemuda itu berkata kepada istrinya.
"Sayang, apakah kamu melihat pria berjas hitam itu? Dia adalah tuan Sarga, salah satu excekutive dari Kendi Square, yang kebetulan adalah bos ayahku." kata pemuda tersebut dengan begitu bangga.
__ADS_1
"Wow, jadi dia adalah tuan Sarga." Wanita muda itu menatap Sarga di depannya dengan mata terbelalak.
"Tuan Sarga, apa yang anda lakukan?" Pemuda itu tampak bingung. Pemuda itu biasanya melihat Sarga dengan postur tubuh anggun dan berjalan dengan tenang, tapi barusan, kenapa dia terburu-buru? Fikiran Pemuda tadi merasa aneh.