
"Adesta, jika kamu tidak segeranbermain lagi, aku harus mendiskualifikasi kamu dan timmu." Kata wasit dengan tegas.
"Baik... Baik." teriak Adesta.
"Ayo teman-teman, kita harusntetap bermain! " Dengan keadaan terpaksa seperti itu, timnya Adesta kembali lagi ke Arena lapangan basket.
Tim basket Adesta seharusnya menjadi orang-orang yang paling tertinggi di antara penonton dan para pemain. Tapi semua itu lenyap ketika Handal datang. Mereka pada dasarnya bagaikan lalat yang mengganggu bagi tim Handal. Dan tim Adesta tahu kalau mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Setelah Adesya dan timnya berjalan ke lapangan, pertandingan langsung dimulai. Setelah kurang dari 15 detik memasuki permainan, Handal mencetak 2 poin untuk Universitas Surabaya. Setiap kali Handal mencetak gol untuk universitas Surabaya, semua orang yang menjadi penonton bersorak gembira, yang membuat Adesta dan timnya kewalahan. Tim Adesta terus-menerus di halangi untuk mencetak point, dan mereka tidak bisa mendapatkan satu poin pun.
Seiring berjalannya waktu, tim Handal mencetak poin terus menerus dan tim Adwsta dengan cepat bisa terkejar. Karena Tim Handal adalah tim profesional, gaya bermain mereka terlalu berbeda dan tidak ada bandingannya dengan tim Adesta yang masih amatir. Pada saat itu, beberapa anggota tim SMK Surabaya kehilangan semangat untuk tetap bermain. Karena mereka tahu kalau tidak peduli seberapa keras mereka berjuang, mereka tidak akan pernah menang melawan para pemain nasional itu.
__ADS_1
Di penghujung babak pertama, skor mencengangkan, yaitu 17 : 88. Para mahasiswa meneriakkan kemenangan sepanjang pertandingan. Karena mereka begitu gembira dengan fakta bahwa Handal datang untuk bermain bagi tim Universitas. Dengan itu, babak pertama diakhiri dengan di tiupnya peluit wasit. Saat itulah Adesta dan timnya merasa tidak ada tekad lagi. Mereka tahu bagaimana Handal bermain dan mereka hampir ingin menyerah.
"Adesta, apa yang akan kita lakukan?" salah satu Anggota tim Adesta bertanya ketika mereka memandang tim lawan dengan putus asa.
"Ki... Kita... Kita kalah." kata Adesta berbata-bata sambil merosot ke tanah dan menggelengkan kepalanya. Saat ini babak kedua belum di mulai, Tapi, apakah mereka memutuskan untuk bermain atau tidak, tidak ada bedanya. Saat itulah istirahat berakhir dengan cepat, dan babak kedua permainan dimulai lagi.
Di babak kedua, Adesta dan timnya, pada dasarnya sudah tidak melawan lagi dan membiarkan Handal mencetak point. Dengan demikian, babak kedua pertandingan berakhir dan skor telah ditetapkan 12 : 178 Saat wasit membunyikan peluitnya, hampir seluruh penonton bersorak, Mereka telah dipermalukan oleh SMK Kota Surabaya sebelumnya. Tapi pada saat itu, harga diri mereka telah kembali, dan mereka gembira dengan kenyataan kalau mereka menang.
Saat itu, Arsa mengajak Adit dan orang-orang yang menjadi timnya ke TKP. Agar mereka bisa melihat wajah Adesta dan timnya yang penuh dengan keputusasaan. Adit mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, Eskpresi di wajahnya terlihat penuh dengan kegembiraan.
"Sepertinya kamu kalah Desta." Arsa berkata sambil menatap Adesta dengan seringai di wajahnya .
__ADS_1
"Tidak... Aku tidak kalah." Adesta bergumam menyangkal kenyataan ini.
"Tidak! Aku tidak bisa menerima semua ini! Kamu sama sekali tidak bisa bermain dengan adil!" kata Ron sambil berteriak sekeras yang dia bisa.
"Bagaimana kamu bisa memanggil Handal? Ini sama sekali bukan pertandingan profesional, jadi kamu tidak bermain adil!" Teriak tim Adesta di belakangnya. Arsa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Kenapa kamu begitu kesal? Bisa dibilang aku bisa menyewa tim Nasional dengan kemampuanku, lho? " Arda tertawa sambil menjawab.
"Kita semua percaya pada Arsa Adesta. Kamu terlalu lama mempermalukan kami, jadi ini hanyalah sebuah harga yang harus kamu bayar." jawab Adit. Pada saat itu, Adesta terdiam. Dia tidak percaya kalau Arsa akan memiliki kemampuan seperti itu.
"Aku harap kamu masih percaya dengan apa yang kamu janjikan kemarin," kata Arsa sambil mengeluarkan surat perjanjian yang dia dan Adesta tandatangani. Arsa kemudian melemparkan kertas itu ke depan Adesta, tetapi siswa SMK Surabaya hanya menatap naner kertas perjanjian itu dengan kaget. Kesepakatan mereka adalah, jika Adesta dan tim nya kalah, mereka akan berlutut dan meminta maaf kepada seluruh warga Universitas kota Surabaya. Semakin lama, wajah Adesta menjadi semakin pucat. Dia tidak ingin bergerak sedikit pun, tapi dia merasa sangat marah, hingga dia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ka... Kamu ingin aku berlutut dan meminta maaf! Seolah-olah tim kita akan menuruti kemauanmu? " kata Adesta sambil mengambil perjanjian yang dia dan Arsa tanda tangani lalu merobeknya. Adesta terlihat begitu kesal dengan kekalahan yang menimpanya.