
Di Kediaman Rumah Wasis Adiguna.
Seno bergegas masuk ke dalam rumah itu.
"Tuan Wasis , baru-baru ini saya bertemu seseorang yang memiliki kemampuan sangat baik. Saya ingin memperkenalkan dia kepada anda Tuan Wasis." Seno tersenyum sambil berkata.
"Oh ya? Coba kulihat." Wasis Adiguna tampak sangat tertarit. Orang jahat dan paling kejam nomor satu yang di miliki Wasis Adiguna, Si Mulyanto, telah berhasil disingkirkan oleh Arsa Kenandra saat terakhir kali iya menjalankan rencananya, dan dia sangat membutuhkan orang jahat yang handal dalam bela diri serta pengawal yang kuat.
"Panjul... Masuklah ! " Seno berbicara ke arah pintu. Setelah suara itu terucap, seorang pria berbadan kurus masuk. Pria kurus berkulit gelap dan tidak tampak tampan. Tubuhnya pendek, kira-kira tingginya hanya sekitar 1,6 meter, namun matanya cerah dan ada bekas luka sayatan di wajahnya.
"Seno, apakah ini yang kamu sebut sebagai master yang sangat baik itu?" Setelah Wasis Adiguna melihat pria ini. Dia tertawa terbahak-bahak. Hanya karena pria itu pendek dan sedikit kurus, dia tidak bisa dibandingkan dengan mantan pengawalnya, Mulyanto, dalam hal ukuran badan, jadi Wasis Adiguna meremehkan lelaki di depannnya itu sepenuhnya.
"Tuan Wasis, apakah Anda meremehkan saya, Panjol? " Panjol berkata dengan suara serak seolah tenggorokannya terkoyak. Dia mengetuk lantai dengan pelan. Setelah panjol berkata, dia menghentakkan kakinya. Dengan sekali hentakan, suara keras terdengar, lantai marmer di bawah kaki Panjol langsung hancur! Dia tenggelam beberapa Centimeter saat dia menginjakkan kakinya ke lantai itu.
__ADS_1
"Kamu, coba keahliannya! "
"Aku rasa yang Ini cukup mumpuni." Mata Wasis Adiguna berbinar. Dan sesaat kemudian Wasis Adiguna menunjuk seorang pengawal di sebelahnya. Pengawalnya yang bertubuh besar dan berotot itu.
"Tuan Wasis, saya! " jawab pengawak tersebut. Tapi ekspresinya menunjukkan rasa takut, karena dia bergumam pada dirinya sendiri bahwa dia bahkan tidak bisa memecahkan ubin marmer itu ketika dia menginjaknya.
"Kamu bisa langsung menuruti perintahku secepat yang kamu mau tanpa harus mengatakan omong kosongmu itu! " Wasis Adiguna memelototi pengawalnya. Pengawal itu hanya bisa mengangguk dan berjalan mendekati Panjol
"Ha ! " Pengawal itu berteriak lalu meninju Panjol dengan tangan mengepal sempurna. Terdengar suara pukulan keras yang menyusul. Panjol menyeringai, memperlihatkan sederet gigi kuningnya. Tidak ada niat untuk mengelak. Tinju pengawal itu jatuh dengan kuat ke arah Panjol.
"Hanya itu yang kamu punya? Bahkan semua pukulanmu tidak cukup bisa menggelitikku." Panjol berkata dengan suara serak.
Kemudian, karena merasa dipermalukan oleh Panjol, pengawal Wasis tadi berulang kali meninju, tinjunya bagaikan hujan pada Panjol, namun ia gagal memberikan rasa sakit pada Panjol fan bahkan, sedikit pun Panjol tidak bergerak.
__ADS_1
"Karena kamu tidak bisa membuatku bergeming sedikitpun, sekarang giliranku!" Terdengar suara bugh yang keras setelah lelaki itu berkata. Usai berkata demikian, tiba-tiba Panjol meninju dan memukul dada bodyguard tersebut. Pengawal itu terlempar terbalik dan terhempas ke sofa di sebelah Wasis. Setelah pengawal itu memuntahkan dua kali darah, dia langsung memutar matanya dan terlihat tak sadarkan diri. Ketika Wasis melihat dengan seksama, dia melihat dada pengawal itu. Wasis tidak percaya kalau pengawalnya itu tak sadarkan diri dan pingsan. Wasis pun tertawa.
"Baiklah!" kata Wasis. Pada saat ini, pengawal lain di tempat kejadian begitu ketakutan.
"Ya Tuhan, dia kuat sekali! " Wasis Adiguna tiba-tiba berdiri dan bertepuk tangan berulang kali dengan gembira. Dia jauh lebih kuat dari Mulyanto.
"Tuan Wasis, Panjol adalah pemain tinju bawah tanah yang terkenal di kota Bekasi. Dia disebut Little King Kong karena dia sudah membunuh seorang anak orang kaya. Saya tidak punya pilihan selain menyuruhnya datang ke kota Surabaya ini. Saya percaya jika ada Panjol, tidak akan ada masalah lagi dalam rencana kita menyingkirkan pengawal Arsa Kenandra!" kata Seno.
"Hmm! " Wasis Adiguna tersenyum dan mengangguk. Pria kurus ini sangat bagus dalam hal bela diri. Dan Wasis telah melihat semuanya dengan matanya sendiri, dan dia yakin pria ini akan mampu membunuh pengawal Arsa Kenandra. Wasis Adiguna sangat gembira ketika memikirkan hal itu. Lagi pula, bagi Wasis Adiguna saat ini, prioritas utama adalah bagaimana menghancurkan Arsa Kenandra.
"Panjol, mulai sekarang, kamu akan mengikuti Wasis Adiguna sebagai pengawal ku. Kita memiliki Wanita model bagaimanapun, kamu bisa bermain dengan mereka sebanyak yang kamu suka. Aku akan memberimu tiga Milyar rupiah dalam setahun, tidak! Tapi lima Milyar rupiah!" Wasis Adiguna mengulurkan lima jari untuk bernogosiasi dengan Panjol.
"Tidak! Saya ingin 10 Milyar!" Panjol berbicara sambil berjalan kaki.
__ADS_1
"Baiklah! 10 Milyar, 10 Milyar sebagai gajimu dalam 1 tahun!" Wasis Adiguna segera memutuskan untuk menjawab dan setuju. Demi seorang pengawal sekuat itu, dengan 10 Milyar, Wasis Adiguna bersedia, dan yang paling penting, dengan orang ini, dia bisa menyingkirkan pengawal Arsa Kenandra.
"Panjol, mendekatlah ke tuan Wasis! " Ketika Panjol melihat Wasis Adiguna setuju, ia langsung memberi hormat pada Wasis Adiguna.