Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Secercah Harapan


__ADS_3

"Selain yang kamu katakan itu ada lagi Arsa, kalian benar-benar sangat berani. Kalian berdua berani datang ke sini. Selama aku memberi perintah, aku khawatir kalian akan mati hari ini!" Wasis berkata dengan bangganya.


"Coba sentuh aku kalau berani! Jika sesuatu terjadi padaku , apakah menurutmu, asistenku akan membiarkanmu pergi?" Arsa mencibir. Wajah Wasis menjadi gelap. Sejujurnya, dia benar-benar tidak berani melakukan apa yang di katakannya pada Arsa tadi secara terang-terangan. Saat ini, Wasis pergi ke pria botak di sebelahnya dan menunjuk kepada Hudoyo yang berada di sebelah Arsa.


"Tuan Wasis, dia adalah orang yang melukai semua anak buahku pagi tadi." Kata pria kepala botak itu.


"Kalian lebih dari empat puluh, dan kalian semua dipukul olehnya sendirian? Kamu benar-benar tidak berguna," kata Wasis dengan dingin.


"Tuan Wasis, bukannya orang-orangku yang tidak berguna, tapi orang ini begitu agresif, aku berani bertaruh, jika kita tidak membunuhnya, aku khawatir dia akan membunuh semua orang." laki-laki berkepala botak itu mencari alasan. Lelaki Kepala botak itu menghela nafas. Setelah mendengar kata-kata yang di ucapkan lelaki botak itu, Wasis menatap Hudoyo lagi.


"Apakah kamu ingin bekerja untuk aku? Aku tahu kalau Arsa Kenandra akan membayar kamu dengan sebagian besar dari gajinya, Tapi, aku akan memberi kamu gaji tiga kali lipat dari apa yang dia berikan! Selain itu, ada banyak wanita yang bisa kamu ajak bermain! " kata Wasis kepada Hudoyo.


Hudoyo menjilat bibirnya.


"Aku hanya tertarik pada kepalamu! " Hudoyo berkata dengan suara pelan dan serak.


"Kamu!" Wajah Wasis berubah.


"Wasis Adiguna, jangan banyak omong kosong. Aku perintahkan kamu untuk menghentikan pembongkaran panti asuhan ini sekarang juga! " Arsa berbicara dengan dingin

__ADS_1


"Memerintahkan aku? Siapa yang akan kamu perintahkan untuk bisa menghentikanku? " jawab Wasis lalu tertawa terbahak-bahak.


Pada Saat yang bersamaan, terdengar suara klakson bus berbunyi.


"Ingatlah, kalau kalian itu hanya berdua. apa yang bisa kalian berdua perbuat? Aku juga akan memberi tahu kamu, kalau Panti Asuhan Kasih Bunda pasti akan dihancurkan oleh Wasis Adiguna hari ini! " Wasis melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum.


Arsa melirik ke lima ratus orang yang berada di belakang Wasis.


"Jika kamu bisa mengerahkan seseorang untuk memanggil anak buahmu, kamu pikir, aku tidak punya siapa-siapa?" kata Arsa mencibir.


Kerumunan anak buah Wasis menoleh dan melihat dua puluh bus yang baru datang itu. Semua bus itu datang dengan lampu darurat yang menyala, mengemudi dengan anggun dan terlihat begitu profesional.


"Perusahaan Keamanan Kendi" Kalimat ini tertulis jelas di bus.


"Ini pasti anak buah Arsa Kenandra!" Wajah Wasis berubah saat dia melihat kata-kata di bus yang baru datang itu.


Terus berjalan, dua puluh bus ini tidak berniat memperlambat kecepatan meskipun iya melihat banyak orang laki-laki yang menghalangi jalan. Bagaimana bisa mereka mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Tanpa berfikir panjang dan lama lagi, mereka semua segera menyingkir karena takut tertabrak.


Dua puluh bus itu pun langsung masuk ke halaman panti Asuhan dan berhenti. Begitu pintu terbuka, orang-orang berseragam keamanan kendi keluar dari bus besar tersebut dan dengan cepat berbaris secara serempak. Yang memimpin jalan adalah Andre Rama dan Fiko Reliso. Jika seseorang melihat lebih dekat, mereka berdua membawa lebih dari seribu orang!

__ADS_1


"Halo, Tuan Arsa!" dengan cara yang seragam pula, di bawah momentum yang begitu besar, seluruh orang yang menjadi anak buah Wasis tercengang dan terdiam dalam sekejap. Hanya deru mesin ekskavator yang terdengar. Bahkan Wasis sedikit berubah. Dia hanya membawa lima ratus orang bersamanya, sedangkan anak buah Arsa telah membuatnya tak berkutik dan kalah dalam jumlah.


Devina dan Bu Kartini sangat ketakutan, sehingga mereka menutupi mulut mereka dengan ekspresi wajah yang luar biasa.


Meskipun mereka tahu kalau Arsa adalah orang kaya, mereka tidak pernah berpikir kalau pemuda itu dapat memanggil begitu banyak orang. Saat ini juga, mereka tiba-tiba melihat sebuah harapan!


Di halaman Panti Asuhan, Arsa berkata, "Wasis Adiguna, saya perintahkan Anda untuk segera menghentikan pembongkaran ini! Jika tidak, jangan salahkan saya karena tidak sopan!" Arsa menatap Wasis dengan tenang namun mendominasi. Iya juga menggunakan Saya dan Anda untuk berkata.


"Arsa Kenandra, meskipun kamu membawa banyak orang daripada yang aku bawa, apa kamu lupa siapa aku? Aku sudah berada di Kota Surabaya selama lebih dari sepuluh tahun, dan aku pasti tidak main-main! Jika aku memanggil orang-orangku lagi, aku bisa memanggil ribuan orang. Dan yang pasti, lebih banyak dari orang yang kamu bawa!" Wasis berkata dengan kejam.


"Jawabanmu bukan seperti yang aku minta. Karena kamu tidak ingin berhenti menghancurkannya, jangan salahkan aku untuk tindakanku selanjutnya!" kata Arsa dengan nada dingin.


"Basmi! "


" Saudara-saudara, lakukan untukku! Tangkap Wasis Adiguna hidup-hidup jika dia menjadi penghalang." Arsa menyipitkan mata dan melambai lalu berkata.


Fiko dan Andre berjalan ke arah Arsa dan berbisik.


"Arsa, jika kita berkelahi secara terbuka di siang bolong seperti ini, aku takut dampaknya akan sangat besar. Jika dia benar-benar ingin membuat berita besar, Tuan Andi mungkin tidak dapat menahan amarahnya." kata Andre Rama.

__ADS_1


__ADS_2