Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pertengkaran


__ADS_3

"Apa lagi yang akan kamu katakan sehingga Kelvin Wiguna harus memanggilmu tuan saat dia melihat mu nanti? kamu pasti bercanda kan? " kata David sambil tertawa puas. Seolah-olah apa yang di katakan oleh Arsa adalah sebuah lelucon yang menjadi khayalannya saja. Hingga tak bisa di pungkiri, kalau semua mahasiswa yang hadir pun ikut tertawa terbahak-bahak.


"Kamu pasti bercanda! " seru seorang mahasiswa. Semua orang mengira kalau Arsa Kenandra sedang membual.


"Kamu bilang aku bercanda? Terserah...! " jawab Arsa. Bagaimana mungkin Arsa bercanda. Sedangkan keluarganya saja memiliki aset lebih dari 300 Trilyun dan keluarga Arsa telah memulai bisnis mereka di negara tersebut sejak dulu, hingga mereka menjadi orang terkaya hingga saat ini. Di Kota Surabaya ini, keberadaan Arsa hampir tak ada bandingannya.


Bahkan Rita Maharani menggelengkan kepalanya.


"Arsa, kamu masih ingat kapan terakhir kali aku berpura-pura jadi pacarmu , aku mengajakmu makan malam. Begitu kamu bertemu Kelvin, kamu juga bersikap seperti ini. Dan hal itu bisa saja membuat amarah Kelvin meledak. Tahukah kamu tentang Kelvin? Kamu mau aku menelepon Kelvin? " kata Rita Maharani karena merasa geram. Rita Maharani kembali kecewa dengan sikap Arsa Kenandra.


Dan di saat itu pula, ponsel Arsa Kenandra berdering. Arsa Kenandra meraih ponselnya dan melihat kalau deringan itu adalah panggilan dari Kelvin Wiguna, pemilik Resort yang saat ini digunakan mereka.


"Halo." jawab Arsa Kenandra saat iya mengangkat panggilan tersebut.


"Tuan Arsa, saya baru saja kembali ke resort dari luar. Saya melihat mobil Anda ketika saya sedang memarkir mobil. Anda datang ke resor saya? " Suara Kelvin Wiguna terdengar dari telepon.

__ADS_1


" Ya, aku sedang berada di Resort Pemandian air hangat sekarang." Arsa Kenandra mengangguk.


"Tuan Arsa, Kenapa tidak mengabari terlebih dahulu kalau Anda ingin datang ke resort, ada baiknya Anda memberitahu saya terlebih dahulu agar saya dapat menyambut kedatangan anda sendiri. Kalau boleh tahu Tuan Arsa, di mana Anda sekarang? Saya di sini sedang mencari tahu dimana anda." Suara Kelvin Wiguna di telepon penuh rasa hormat.


"Aku ada di Ballroom 2 sekarang." Arsa Kenandra berkata dengan tenang.


"Baiklah, Tuan Arsa. Saya akan segera ke sana." Setelah menutup telepon, Arsa Kenandra memasukkan ponselnya ke saku kembali.


"Wah, kamu bicara dengan siapa?" tanya David dengan suara keras.


"Bukankah tadi tadi kamu sedang membicarakan Kelvin Wiguna yang merupakan pemilik resort yang kita tempati saat ini? Dia baru saja menelepon aku." Arsa Kenandra berkata dengan tenang.


"Aku tidak menyombongkan diri. Dia tidak hanya menelepon aku, tetapi dia juga mengatakan, kalau dia akan datang ke sini untuk menemui aku dengan segera.” Arsa Kenandra berkata dengan tenang. Begitu kata-kata Arsa Kenandra terucap, semua mahasiswa di sana kembali tertawa terbahak-bahak.


Setelah David selesai tertawa, dia menatap Arsa Kenandra lagi.

__ADS_1


"Wah, aku tidak ingin mendengarmu lagi. Tapi, aku akan memberimu satu kesempatan untuk hidup. Beri aku permintaan maaf dan keluar dari lantai dansa ini. Aku tidak ingin berdebat denganmu." Ada banyak peringatan dalam wacana David.


"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir untuk pergi dari pandanganku. Jika tidak, kamu akan menanggung akibatnya." Arsa Kenandra berkata dengan dingin.


"Aku sudah berbaik hati tidak akan memukulmu hari ini. Tapi Kamu benar-benar menguji kesabaranku untuk tidak memukulmu. Aku rasa kamu tidak tahu seberapa bagusnya aku!" David berkata dengan marah.


"Minggir. Aku harus mengalahkan anak ini hari ini juga. Aku peringatkan, aku akan memberikan konsekuensi jika ada yang berani menghentikanku." David berkata dan mengusir kader serikat mahasiswa yang menghalangi jalannya, lalu dia mengayunkan tinjunya dan melemparkannya ke arah Arsa Kenandra.


"Apakah kamu ingin melakukannya?" Mata Arsa Kenandra menyipit. Lalu, Arsa Kenandra melesat ke kiri untuk menghindari pukulan David.


"Peng!" Pada saat yang sama, Arsa Kenandra mengambil botol bir di atas meja di sebelahnya. Arsa Kenandra tanpa ampun dan langsung memukulkan sebuah botol birdi kepala David. Seketika botol bir itu pecah. Tiba-tiba, ada darah mengucur di kepala David.


"Apakah kamu masih mau untuk melawanku? Akan sangat sulit untuk mengatakan siapa yang memukulmu." Arsa Kenandra berkata dengan dingin dan menyipitkan matanya. Ketika orang-orang di sekitar melihat David telah di pukul menggunakan botol bir itu, Mereka merasa akan ada perkelahian. Suara riuh pun terdengar kembali.


"Oh... Ya Tuhan, beraninya anak ini memukul David?" seru seorang mahasiswa dari STIE Kota Surabaya.

__ADS_1


"Anak itu sudah tamat. Anak itu benar-benar tamat. Dia pasti akan membayar mahal untuk semua ini." Para mahasiswa STIE Keuangan dan Ekonomi Kota Surabaya tahu siapa David. Mereka sama sekali tidak mengira Arsa Kenandra akan cukup berani untuk memukul David dengan botol bir. Justru karena itu, Arsa Kenandra akan tamat hidupnya di mata publik. Bahkan mata Rita Maharani terlihat terkejut. Dia tidak menyangka Arsa Kenandra berani memukul kepala generasi kedua yang kaya dengan botol bir. Lagipula, di mata Rita Maharani, Arsa Kenandra hanyalah anak miskin. Jika seorang anak miskin mengalahkan generasi kedua yang kaya, bagaimana ia dapat menanggung akibatnya?


David menyentuh beberapa tetes darah di dahinya dan ketika dia melihat darah berwarna merah itu. Matanya berkilat karena amarah yang tak terbendung.


__ADS_2