Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Terpana


__ADS_3

Kali ini, seluruh mantan siswa yang berada di sana hanya bisa terdiam. Suasananya menjadi sangat sunyi, sehingga orang pun bisa mendengar jika ada jarum yang jatuh ke tanah! Varo, Roni, Febrian, Erika, Nindira, Riki, dan yang lainnya, semua menatap dengan mata terbelalak, penuh ketakutan dan keheranan. Ketika semua orang menyaksikannya dengan ngeri, Arsa berjalan perlahan menuju ke Lamborghini hijau yang sejuk di pandang mata itu, dan langsung membuka pintu lalu dengan perlahan masuk. Sesaat kemudian, deru mesin yang menggema membangunkan semua orang dari keterkejutannya. Dengan satu kaki di throttle, Arsa langsung mengemudikan mobil Lamborghininya ke seberang Varo dan yang lainnya. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan Arsa keluar dari mobil. Iya melirik mereka semua dan memperhatikan kalau mereka semua menatapnya dengan tatapan kosong. Arsa hanya bisa membayangkan betapa terkejutnya mereka.


"Ya ampun! " kata Arsa. Dia memandang Roni dan Febrian terlebih dahulu.


"Saat Roni, Febrian, dan aku bertemu di Kemdi Square kemarin lusa, aku bilang BMW-mu itu sampah dibandingkan Lamborghini-ku! Sekarang, apa kamu percaya?” Roni dan Febrian menelan ludah kering mereka dengan susah payah, wajah mereka mengharu biru dan tidak dapat berbicara. Seolah suara mereka tercekat di tenggorokan. Arsa memalingkan muka dari mereka dan memandang Varo.


"Varo, saat kembali ke hotel, tidakkah menurutmu lucu saat aku bilang aku punya Lamborghini? Sekarang, kenapa kamu terlihat sangat iri dan terkejut?" kata Arsa dengan suara tenangnya. Wajah Varo sangat pucat seperti tanah, dan dia merasa seolah-olah dia tidak mampu berbicara. Kemudian, Arsa menatap Nindira dengan senyum di wajahnya.


"Ketua kelas yang baik dan bijaksana, apakah kamu percaya sekarang, di saat aku mengatakan kalau aku tidak membual? Kamu bilang aku orangnya sudah berubah, tapi kenyataannya, aku belum berubah sama sekali." kata Arsa dengan percaya diri.


Terakhir, mata Arsa menyapu Erika dan yang lainnya dan akhirnya berhenti pada teman sebangkunya di SMA, Riki.

__ADS_1


"Riki... Kenapa kamu malah linglung kaya gitu? Cepat masuk ke mobil. Kita harus pergi sendiri ke bar untuk bernyanyi! " Arsa menepuk pundak Riki. Saat itulah Riki tersadar kembali.


"Yah, Arsa. Tunggu! Kamu... Aku tidak percaya kamu benar-benar punya Lamborghini. Sial, aku... aku tidak bermimpi tentang ini!" Riki terkejut sekaligus gembira.


"Tentu saja kamu tidak sedang bermimpi teman. Sekarang, masuklah ke dalam mobil! " Arsa menatap Riki sambil tersenyum.


"Oke!" Riki mengangguk dan segera berlari ke kursi penumpang Lamborghini dan membuka pintu lamborghini daniel yang keren itu.


"Iya benar! " Kemudian dia menurunkan kaca jendelanya, memandang ke arah kerumunan yang masih bengong, dan berkata,


"Bukankah kita akan pergi ke bar untuk bernyanyi? Baiklah, tunggu apa lagi? " kata Arsa. Para siswa yang masih shock mengangguk kaku satu demi satu. Kemudian, Arsa memandang Varo.

__ADS_1


" Varo, bar mana yang kamu pesan? Cepat beri aku alamatnya dan jangan membuang-buang waktuku." kata Arsa dengan tegas.


"Begitu... Anu... Kiasan Bar " Varo memberi nama bar itu dengan patuh. Arsa sudah selesai dengan pertanyaan. dia menaikkan kaca jendela kembali dan menginjak pedal gas. Lamborghini Daniel milik Arsa itu terdengar maniak dan menderu-deru lalu pergi. Kerumunan masih dalam keadaan linglung.


"Ini. Dia benar-benar punya Lamborghini, tapi kok bisa? Kok bisa dia punya Lamborghini seperti itu?!" kata Febrian.


"Ya. Kalau dilihat, dia tidak terlihat seperti orang yang bisa mengendarai atau memiliki Lamborghini. Harga mobil itu hampir 10 milyar!" sahut Roni.


"10 milyar?" Setelah itu Lamborghini Arsa pergi, Roni dan Febrian akhirnya menemukan suara mereka kembali dan mengajukan pertanyaan, dan ekspresi mereka dilebih-lebihkan. Banyak mantan siswa yang tidak tahu berapa harga Lamborghini Daniel itu. Mereka hanya bisa menahan nafas setelah mendengar jumlah sebesar itu. Mereka tidak pernah bermimpi bisa mengendarai mobil mewah seharga hampir 10 Milyar rupiah.


Varo mengerutkan kening.

__ADS_1


" Hentikan omong kosong kalian! Cepatlah masuk ke mobil dan ayo berangkat! " kata Varo dengan sedikit kesal.


__ADS_2