Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Tundukknya Si Jahat


__ADS_3

"Wasis Adiguna, beri tahu ekskavator Anda untuk mundur dan keluarkan orang-orang Anda dari sini! Dia benar, ini adalah masalah besa. Dan Anda adalah orang yang paling akan di salahkan." kata pria paruh baya berjas itu.


"Tapi..." Meskipun Wasis memahami kebenarannya, dia tampak sangat enggan.


"Tidak ada tapi-tapian" Pria paruh baya bersetelan itu segera berkata dengan tegas dan nada suaranya menjadi dingin.


Wasis Adiguna melihat pria paruh baya berjas itu mengubah ekspresi wajahnya, dan dia tidak berani mengatakan apa-apa lagi.


"Aku akan menyuruh ekskavator itu berhenti! " Wasis hanya bisa mengangguk. Selanjutnya, Wasis memberi tahu orang-orang di sekitarnya untuk memanggil kembali ekskavator itu.


Setelah sepuluh ekskavator tadi di suruh keluar dari Panti Asuhan Kasih Bunda.


"Wasis Adiguna, bawa anak buahmu dan pergi dari sini! Jangan pernah sekaliphn kamu memikirkan tanah ini lagi." Kata pria paruh baya itu.


"A... Aku pergi." ucap Wasis. Meskipun iya merasa tidak bisa menerimanya, tidak ada yang bisa dia lakukan.


"Tunggu sebentar!" Arsa menghentikan Wasis.


"Anak muda, apa lagi yang kamu inginkan? " Wasis berkata dan menatap Arsa dengan pandangan sebal.


"Apa menurutmu pantas untuk menghancurkan panti asuhan seperti ini dan ingin pergi tanpa memberikan penjelasan?" kata Arsa dingin.

__ADS_1


"Apa maksudmu? " Wasis menatap Arsa.


"Maksud aku sangat sederhana, jika kamu ingin pergi, kamu harus memberikan ganti rugi berupa uang terlebih dahulu,” kata Arsa dengan tenang.


"Kamu." Wajah Wasis berubah pucat dalam sekejap. Wasis tadi telah bersumpah untuk merobohkan Panti Asuhan Kasih Bunda hari ini. Tapi, kenyataan tak seperti ekspektasi dalam angannya. Sekarang dia telah mengalah demi kebaikannya sendiri dan bersedia pergi, tapi Arsa berencana membuatnya kehilangan uang lagi?


"Arsa Kenandra, aku sudah mengalah. Jangan bertindak terlalu jauh! " kata Wasis dengan nada kejam.


"Apa maksudmu terlalu jauh? Kamu sudah merobohkan panti asuhan seperti ini, dan kamu ingin pergi begitu saja. Haruskah aku juga mengerahkan beberapa ekskavator dan menghancurkan rumahmu tanpa membayar ganti rugi sepeserpun? Jika demikian peraturannya, ketika aku menghancurkan rumah orang lain, maka aku juga bisa langsung pergi begitu saja. Apa kamu fikir dengan begitu, dunia tidak akan berantakan? "


"Apakah saya benar Pak? " Arsa tersenyum pada pria paruh baya berjas itu.


" Baiklah." Lalu , pria paruh baya bersetelan memandang Wasis dan berkata ,


"Jika Wasis Adiguna merusak properti milik orang lain, maka dia harus memberikan kompensasi sesuai dengan harganya." Lelaki paruh baya itu juga membenarkan apa kata Arsa, jika Wasis tidak mau, maka dia akan bertindak sesuai peraturan yang ada.


Arsa menoleh ke belakang ke Panti Asuhan Kasih Bunda.


"Begini saja. Bayar lima ratus juta atau enam ratus juta dengan sebuah cek." kata Arsa.


"Arsa Kenandra, kamu... " Otot wajah Wasis berkedut. Dia hanya menghancurkan sedikit gedung berlantai tiga itu, dan bahkan semua itu cukup dibangun kembali dengan biaya sekitar 100 juta, bukan 500 juta. Tapi Arsa memintanya lima sampai enam ratus juta sekarang. Tapi, ketika Wasis kembali melihat pria paruh baya berjas di sebelahnya, dia hanya bisa menurut. Dengan segera iya mengeluarkan cek dan segera menulis di atas cek tersebut sebesar 500 juta. Bagi Arsa, lima ratus juta adalah uang kecil, tapi, Wasis hampir kehabisan uang pada lelang terakhir, jadi lima juta sangat banyak baginya.

__ADS_1


"Ambil! " kata Wasis. Yang terpenting, bukan hanya masalah uang, tapi juga masalah nafas! Setelah Wasis menulis cek, dia melemparkannya ke tanah dan berbalik. Orang-orang yang dibawa oleh Wasis juga mulai mundur, termasuk sepuluh ekskavator yang tadi menghancurkan panti asuhan tersebut.


"Tuan Arsa Kenandra sangat pemberani dan banyak akal. Anda pasti bakal menjadi orang hebat di masa depan. Saya ada sesuatu hal untuk dilakukan, jadi saya akan pergi dulu." Setelah pria paruh baya bersetelan itu selesai berkata, dia juga berbalik dan pergi.


"Oke!" Jawab Arsa sambil tersenyum. Iya bersikap tidak rendah hati atau pun sombong. Lalu, Arsa Kenandra mengambil cek senilai lima ratus juta tersebut dan berjalan mendekat ke Bu Kartini dan Devina.


Saat ini, Bu Kartini dan Devina sangat bersemangat. Terlihat wajah bahagia dari ekspresi mereka berdua.


Setelah Arsa berjalan mendekati mereka berdua, mereka semakin bersemangat untuk mengucapkan terima kasih lagi.


"Terima kasih banyak tuan Arsa." kata Bu Kartini dengan ekspresi bahagia.


"Iya Tuan Arsa. Anda sangat luar biasa sehingga anda bisa membuat Wasis Adiguna menundukkan kepalanya! Anda adalah seorang pahlawan ! " Devina tampak memuja Arsa terlihat dari wajahnya. Arsa menyerahkan cek itu kepada Bu Kartini.


"Pahlawan besar apa? Aku hanya orang biasa," kata Arsa sambil tersenyum.


"Bu Kartini, ambil cek ini! " kata Arsa dengan sopan.


"Tuan Arsa, Anda yang sudah memenangkan pertempuran ini. Bagaimana kami bisa menerimanya? " Bu Kartini buru-buru melambaikan tangannya.


"Bu Kartini, apakah menurutmu aku yang sedang butuh uang sebanyak ini? Selain itu, uang ini di serahkan oleh Wasis Adiguna sebagai kompensasi untuk Panti Asuhan Kasih Bunda," kata Arsa. Arsa menyerahkan cek itu langsung ke tangan Bu Kartini. Devina melirik ke arah lebih dari 1000 orang keamanan Kendi, lalu bertanya kepada Arsa.

__ADS_1


__ADS_2