
Tidak butuh waktu lama, tiba-tiba pintu didorong oleh seseorang dan terbuka kembali.
"Direktur Aris? " gumam Lili. Setelah itu, dua lelaki paruh baya memakai setelan hitam bergegas masuk. Lili mengenal 2 orang yang baru masuk tadi. Mereka adalah para ekcekutif Kendi Grub.
"Ini... Tidak mungkin." kata Lili dengan kekhawatirannya.
"Tuan Arsa." orang yang baru datang tadi langsung mendekat ke arah Arsa. Iya mengabaikan wanita yang sudah menghina Arsa tadi. Iya membungkuk lalu menyapa Arsa dengan sangat hormat. Sikapnya sama-sama hormat, seolah-olah mereka adalah seorang murid bertemu dengan gurunya.
Di sisi lain, lily dan keempat pramuniaga yang tadi mengejek dan menghina Arsa benar-benar ternganga. Seolah-olah ada petir yang menyambar tubuh mereka. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tak berselang lama, pintu kaca di depan toko tersebut kembali terbuka. Seorang laki-laki berjas masuk dengan tergopoh-gopoh. Di belakangnya berjalan juga 7 orang laki-laki yang mengenakan jas juga.
"Sarga... Ini kan general manager Sarga? " ucap Lili Lagi. Dan juga keempat pramuniaga tadi menatap dengan ekspresi terkejut. Mereka sangat tahu kalau Sarga adalah seorang pimpinan Kendi Square. Dan orang ini memegang status tertinggi di kendi Square. 7 pria berjas yang mengikuti General Manajer Sarga, semuanya adalah eksekutif senior Kendi Square. Dan mereka semua terkejut saat menyadari kalau pada saat itu, seluruh Eksekutif Kendi Square telah tiba di toko mereka. Bagi Lili, kejadian langka ini belum pernah terjadi. Dengan tambahan kehadiran General Manager yang bernama Sarga itu, kejadian ini sangat langka dan suasana terasa menyeramkan. Hal ini membuat hati mereka semakin gelisah. Dalam pandangan Lili dan lainnya, General Manager dan rombongannya pun mendatangi Arsa.
__ADS_1
"Selamat sore tuan Muda Arsa Kenandra." Sarga sebagai general Manager di Kendi Square pun membungkuk.
"Tuan Arsa, saya Sarga. Saya adalah general manager di sini. Pimpinan Kendi Square." Sarga memperkenalkan dirinya. Tanpa di komando, 7 orang yang mengikuti Sarga tadi langsung membungkuk dan menyapa Arsa dengan hormat.
Melihat adegan ini, Lili merasa seperti di sambar petir. Dia merasa seperti disiram air es yang sangat dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seluruh tubuhnya mati rasa. Dia tidak percaya kalau General Manager kendi Square pun membungkuk di hadapan bocah miskin yang terlihat sangat malang itu. Semua ini membuat gadis yang bernama Lili itu merasa pusing karena dia mencoba memikirkan siapa bocah ini sebenarnya.
Arsa berdiri, berjabat tangan dengan orang-orang yang memperkenalkan dirinya tadi. Setelah itu, dia menatap para eksekutif Kendi square sebelum bertanya.
"Ya tuan Arsa. Kita semua sudah ada di sini." General Manager yang bernama Sarga itu membungkuk dan menjawab.
"Tuan Arsa, Tuan Fendi tadi berkata di telepon, kalau Anda sangat marah. Katakan pada saya, apa yang membuat anda marah? " Sarga bertanya dengan hati-hati.
"Sarga, aku didiskriminasi dan diejek di daerah otoritasmu. Mereka ingin aku keluar dari tempat ini. Mereka bahkan mengatakan, sangat konyol kalau aku pergi berbelanja ke sini." kata Arsa menjawab pertanyaan Sarga. Iya terdengar mencibir.
__ADS_1
"Apa? Seseorang berani mengatakan seperti itu? " Sarga dan para eksekutif Kendi square, semuanya terkejut setelah mendengar pernyataan Arsa. Mereka semua tahu, jikalau Arsa sedang menyalakan api untuk memprovokasi mereka. Inilah cara seseorang yang berkelas untuk memberitahu bawahannya.
"Sarga, tolong beri tahu mereka tentang identitasku." kata Arsa. Setelah itu, Arsa menunjuk wanita bermake up tebal yang bernama Lili. Seseorang yang sudah menghina dan mendiskriminasi dirinya tadi.
"Baik tuan muda. Saya akan memberitahu dia siapa anda sebenarnya." jawab General manager Kendi Square sambil membungkuk hormat. Setelah itu, iya pun langsung berjalan ke arah Lili.
"Apakah kamu yang sudah membuat tuan muda bersama? " tanya Sarga dengan nada dingin. Lili pun tampak sangat ketakutan.
"Tuan... Tuan Sarga... Saya..." kata Lili dengan terbata-bata. Bukan hanya Lili, keempat pramuniaga yang tadi ikut menertawakan Arsa pun ikut menggigil ketakutan. Mereka semua merasa tidak bisa bergerak sama sekali.
"Apakah kamu tahu siapa tuan muda Arsa itu? Terus terang aku katakan sama kamu. Beliau ini adalah Tuan Arsa Kenandra. Pimpinan Kendi Grub cabang Surabaya. Seseorang yang tidak boleh kamu singgung sama sekali." kata Sarga dengan dingin.
"Apa? Dia benar-benar pimpinan Kendi Grub? " kata Lili dalam hati sambil memelotot ke arah Arsa. Suaranya terasa tercekat di dalam tenggorokannya. Dia tidak percaya kalau laki-laki muda yang terlihat miskin itu adalah pimpinan Kendi Grub. Tapi, setelah Sarga mengatakannya secara langsung, mau tidak mau dia harus mempercayainya. Yang ada dalam benak Lili, CEO Kendi Grub pastilah orang yang sangat kuat dan tidak mungkin berpenampilan seperti itu. Tapi kenyataan tak sesuai ekspektasi. Seseorang yang tadi iya cemooh dan iya hina ternyata adalah pimpinan Kendi grub. Hatinya terasa kebas. Iya tahu nasib dirinya saat ini benar-benar bagaikan di ujung tanduk. Bukan hanya Lili, ke empat pramuniaga yang tadi juga menertawakan Arsa pun kini menyesal. Menyesal dengan perbuatan mereka sendiri. Mereka yakin, hukuman yang akan mereka terima nanti, pastinya akan sangat berat. Mereka semua tidak tahu, konsekuensi apa yang akan di berikan Arsa kepada mereka. Hingga akhirnya, karena tak bisa menerima kenyataan ini, mereka semua terjatuh ke lantai.
__ADS_1