Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Bantuan Arsa


__ADS_3

Meskipun suara Arsa tidak terdengar keras, tapi suaranya terdengar sangat mendominasi. Setelah Arsa memeluk Naira, tubuh gadis di sampingnya itu tiba-tiba meremang dan bergetar, wajahnya memerah. Karena belum pernah ada pria yang memeluknya seperti ini sebelumnya. Tapi dia tidak menolak. Dia membiarkan Arsa memeluknya seperti ini, karena dia tahu kalau Arsa melakukan ini untuk membuat aktingnya lebih terlihat lebih nyata.


Di seberang Meja, Revano menatap wanita pujaannya. Hatinya berkedut nyeri melihat adegan itu. Merasa cemburu dan iri yang bergabung jadi satu. Tapi, tidak ada yang bisa dia lakukan.


"Apa kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan? " Arsa terus menanyai Revano dengan suara yang terdengar dingin. 


"Saya tahu, Tuan Arsa." Revano menjawab sambil mengangguk.  Lagipula, kenyataannya, Arsa jauh lebih baik dari dirinya.


"Mana mungkin aku berani menyinggung cucu orang terkaya?  Sama sekali tidak." gumam Revano dalam hati.  


"Kamu sudah tahu semua kenyataan yang sebenarnya. Kalau kamu berani melanggar apa yang aku tidak perbolehkan, aku jamin, aku akan menghentikan perusahaanmu beroperasi di Kota Surabaya. " kata Arsa dengan nada dingin.


"Baik tuan muda, saya sangat memahami apa yang dikatakan oleh Tuan Muda. Saya tidak akan melanggarnya." Revano mengangguk berulang-ulang kali sambil menyeka keringat dingin yang mengucur dari dahinya. Mengetahui kalau Arsa adalah cucu dari orang terkaya, ia tidak bisa berbuat lebih. Apalagi sampai mengharapkan Naira menjadi kekasihnya.

__ADS_1


"Tuan Arsa, Naira... Tiba-tiba saja saya ingat kalau saya sedang ada urusan yang harus segera diselesaikan. Jadi saya harus menyelesaikan urusan tersebut terlebih dahulu. Saya berharap Anda berdua benar-benar menjadi pasangan yang bahagia selamanya." Kata revano sambil berdiri.


"Tunggu sebentar!" panggil Arsa. Sedangkan Revano tubuhnya sudah benar-benar basah oleh keringatnya sendiri. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Dia hanya ingin pergi dari hadapan Arsa dan Naira secepat mungkin. Tapi panggilan Arsa masih menahannya untuk bertahan di tempat tersebut.


"Tuan Arsa, apa yang bisa saya lakukan untuk anda? " tanya Revano yang menoleh ke arah Arsa dan dengan gugup iya berkata. Iya tidak tahu apa yang harus di lakukan kalau misalnya Arsa masih ingin dirinya di sana.


"Aku hanya mau mengingatkan padamu. Jangan lupa untuk membayar semua tagihan sebelum kamu pergi." Kata Arsa sambil tersenyum. Otot-otot di wajah Revano berkedut hebat, ekspresi wajahnya membuat tampilannya benar-benar terlihat buruk.


Revano mengira kalau dia pergi terlebih dahulu tanpa makan, maka dia tidak perlu membayar tagihan makanan tersebut. Dalam benaknya juga berpikir karena Arsa adalah cucu dari orang terkaya, pasti sangat mudah untuk membayar makanan seperti itu. Tapi semua itu salah, ternyata Arsa masih menyuruh dirinya untuk membayar juga.


"Tidak. Iya, saya paham tuan. Saya akan membayar tagihannya," Revano tertawa garing. Dia tidak akan pernah berani mengatakan kalau sebenarnya itu adalah masalah. Hanya saja hatinya benar-benar miris dengan kenyataan ini. Dia hanya memiliki lebih dari 10 jutaan di atm-nya. Dan harga makanan ini berkisar lebih dari 6 juta. Dia harus membayar makanan yang di makan oleh orang lain. Dan sialnya, dia tidak bisa menolak atau membantah sama sekali.


Di sisi lain, Naira benar-benar melihat ekspresi kecut di wajah Revan. Laki-laki itu merasa tertekan karena rugi besar sebab membayar makanan paling mahal. Tapi dia sama sekali tidak bisa membantah. Naira tidak bisa menahan tawanya. Maka dari itu iya menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Takut tawanya di dengar oleh Revan.

__ADS_1


Dan setelah Revan pergi. Naira langsung tertawa saat Revano sudah pergi.


"Oh iya, kamu bisa melepaskanku sekarang," kata Naira dengan malu-malu karena Arsa yang masih memeluknya. 


"Yah, tentu saja." Arsa tertawa canggung karena malu, lalu buru-buru melepaskan pelukannya ke Naira. Namun, bau harum parfum Naira masih tertinggal dan menempel pada tubuh Arsa. 


"Aku hanya berusaha realistis, jadi aku meletakkan tanganku di pundakmu. Kamu tidak keberatan kan? " kata Arsa sambil menyentuh hidungnya. 


"Tentu saja tidak, kamu sudah membantu aku." Naira berkata dengan malu-malu. Sesaat kemudian, iya memalingkan wajahnya, menutup mulutnya dan berkata sambil tersenyum.


"Tapi aku ngga bisa menahan tawa saat melihat Revano kehilangan uang, terlihat frustrasi, dan tidak berani marah." kata Nayra.


"Dia yang menyatakan kalau mampu." Arsa tersenyum dan berkata.

__ADS_1


"Dia yang memintanya juga. Aku rasa dia tidak akan berani menganggumu lagi." kata Arsa lagi.


"Terima kasih banyak Arsa. Kalau bukan karena kamu, aku ngga tahu sampai kapan Revan akan menghantui hidupku. Kamu sudah membantu aku memecahkan masalah besar ini. Kamu sudah membantu aku untuk mejalani hidup dengan tenang lagi." Naira mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.


__ADS_2