Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Menyeimbangkan Kekuatan


__ADS_3

"Apakah kamu benar-benar berpikir kalau aku akan memberikan sampah seperti kamu gaji tahunan sebesar 240 juta, dan membiarkan kamu menyia-nyiakan serta membohongi seorang gadis, lalu berpura-pura menjadi orang baik? Apa kamu sedang berkhayal dalam mimpimu!" Arsa tersenyum dan berkata. Di saat itu juga, Evan merasa sebuah kehancuran.


"Apakah kamu bercanda?" Evan Arlando menatap Arsa Kenandra dengan wajah pucatnya. Merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Yang kamu katakan Itu benar. Aku sedang bermain denganmu. Kenapa? Apa ada masalah?" cibir Arsa. Arsa tidak punya belas kasihan untuk orang semacam ini.


"Ya, Tuan..." Ucap kepala security di saat melihat tangan Arsa yang melambai.


"Kepala keamanan, buang sampah ini keluar dari Gedung Kendi! " kata Arsa dengan tenang. Kepala satpam dan beberapa satpam langsung maju menahan Evan dan menyeretnya keluar.


Evan diseret keluar dari ruangan Arsa. Di dalam hati, sebenarnya dia sangat marah, sehingga dia ingin mengucapkan sumpah serapahnya. Tapi dia tidak berani melakukannya. Dia takut dipukuli lagi.


Setelah Evan diseret keluar, Aprilia berbicara.


"Arsa, ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku harus pergi." Mata Aprilia terlihat memerah. Arsa juga tidak menghentikan langkah gadis itu. Dia pasti sangat sedih dengan semua kenyataan yang dia lihat hari ini. Arsa tidak akan mengganggunya, dan membiarkan Aprilia memiliki waktu untuk sendiri.

__ADS_1


Sekali lagi, Arsa tidak menganggap dirinya kejam. Dia membiarkan Aprilia melihat wajah asli Evan dengan jelas di saat yang seperti ini, ibaratnya, Aprilia tahu di saat masih senja. Jika tidak, ketika Aprilia sudah melangkah lebih jauh, dia pasti akan semakin terluka begitu dia melihat sifat asli Evan.


Di rumah Wasis Adiguna.


"Bajingan! Bajingan! Kurang ajaar" saat ini, Wasis benar-benar hangus terbakar emosi di dalam rumahnya. Saking takutnya para karyawan, mereka sampai tidak berani keluar untuk mendekat ataupun berkata. Jangankan berkata, bernafaspun terasa sulit dan sesak. Sudah menjadi kebiasaan Wasis. Jika marah, iya akan bisa melakukan apapun tanpa memikirkan akibatnya.


"Kenapa anak ini menang lagi? Kenapa? Apakah dia benar-benar musuh bebuyutanku? " Wasis masih ingat dengan jelas apa yang terjadi hari ini. Dia sangat marah. Dan yang paling membuatnya marah bukanlah karena dia tidak bisa mendapatkan tanah itu, tapi apa yang dia derita lagi karena Arsa. Wasis langsung memandang Seno di sampingnya dan mengertakkan gigi.


"Pergi saja! Lalu kirim seseorang untuk membunuh anak muda tidak tahu diri itu!" kata Wasis.


"Saya sudah menebak alasan kegagalan dua rencana pembunuhan terakhir kita." Setelah beberapa saat terdiam, Seno melanjutkan,


"Oh? Apa alasannya?" Wasis buru-buru bertanya.


"Menurut si kepala botak, dia awalnya sudah membawa lebih dari empat puluh orang ke panti asuhan itu, dan semuanya dilukai oleh pengawal yang selalu berada di samping Arsa Kenandra, yang berarti, semua itu menunjukkan, kalau pengawal itu sangat kuat." Kata Seno dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Kita gagal dalam dua rencana menyingkirkan Arsa terakhir kali, mungkin karena pengawal yang berada di sekitar anak ini. Dia selalu melindungi anak itu!" kata Seno kembali dengan yakin.


"Hal itu masuk akal juga!" Wasis mengangguk. Wasis berbalik dan berkata dengan suara dingin.


"Tidak peduli seberapa baik dia, jika dia berani menghentikanku, maka hal itu akan menjadi jalan buntu untuk hidupnya! Dia memiliki pengawal yang kuat. Bukankah kita juga punya preman yang kuat juga? Biarkan Mulyanto melaksanakan tugasnya! " kata Wasis Adiguna. Dari sorot mata dan kata yang di ucapkannya, terdengar dentuman permusuhan yang dipancarkan dari tubuhnya, yang bisa membuat orang biasa takut dan gemetar. Mulyanto, dia adalah seorang jenderal nomor satu pasukan bawah tanah di bawah pimpinan Wasis Adiguna, Mulyanto! Menurut Wasis, dia bukan orang sembarangan karena kekuatan yang di miliki.


"Tuan Wasis, apakah Anda mencari saya?" Mulyanto membungkuk kepada Wasis dengan hormat.


"Mulyanto, hidupmu sudah sangat damai dalam beberapa tahun terakhir, dan kamu sudah lama tidak melakukannya. Akhir-akhir ini, seseorang telah menantang otoritasku. Sudah waktunya pisau berhargamu keluar dari sarungnya lagi," kata Wasis. Iya sudah bertekat bulat menyuruh Mulyanto untuk menghadapi Arsa maupun pengawalnya.


"Siapa pun yang berani melawan tuan Wasis, berarti juga harus melawan saya, Anda bisa memberi tahu saya, siapa orang itu tuan Wasis." kata Mulyanto.


"Baiklah! Aku akan memberitahumu, lakukan tugas ini dengan baik! " kata Wasis.


"Bunuh Arsa Kenandra, pimpinan Kendi Grub dan para pengawal yang berada di sekelilingnya! Ingat, jaga keadaan semuanya tetap kondusif dan aman. Jaga nama baik kita." Wasis menyipitkan matanya dan berpesan.

__ADS_1


"Baik tuan Wasis." Setelah Mulyanto menerima perintah dari atasannya, dia langsung keluar.


__ADS_2